Stichtag

Entah kapan tepatnya dan bagaimana awalnya, tapi tiba-tiba tema D-Day a.k.a Hari H masuk ke dalam tema obrolan. Bahasa Jermannya apa ya? Begitu saat itu pertanyaannya. Iya, dalam Bahasa Jerman apa ya? Apakah T-Tag? Sepertinya saya belum pernah dengar. Apakah di Jerman tidak pernah digunakan? Ataukah orang Jerman memandang bahwa semua hari itu penting, sehingga tidak ada hari yang khusus? Entah. Namun, seperti biasa saya jadi penasaran.

Bentuk singkat D-Day (atau juga istilah H-Hour) sebenarnya tidak memiliki makna khusus, selain bermakna waktu yang ditentukan untuk sebuah operasi militer yang besar. Dalam Bahasa Inggris, D-Day ini bisa merupakan kependekan dari Decision Day, Delivery Day, Deliverance Day, Doomsday atau Debarkation Day. Karena tidak begitu jelas kapan dan darimana istilah tersebut berasal, kebanyakan orang pada akhirnya tidak mau susah dan melihat D itu sebagai kependekan dari Day, dan H dari Hour (dalam Bahasa Indonesia mungkin melihat H sebagai hari, walaupun untuk saya kok rasanya jadi doppelt gemoppelt ya?!)

Jika ditelusuri sejarah makna D-Day atau H-Hour ini sebenarnya tidak terlalu gelap. Bukti pertama digunakannya istilah ini bisa ditemukan pada saat Perang Dunia I, tepatnya pada tanggal 7. September 1918, saat Field Order Number 9, First Army, American Expeditionary Forces dalam pertempuran di St. Mihiel membuat perintah penyerangan yang berbunyi:

The First Army will attack at H hour on D day with the object of forcing the evacuation of the St. Mihiel Salient. „Combat Orders“ der „General Service Schools“ in Fort Leavenworth, Kansas, 1922

Namun, istilah D-Day menjadi sangat terkenal dengan mendaratnya pasukan sekutu di Normandie pada tanggal 6 Juni 1944 saat Perang Dunia Kedua. Pendaratan pasukan berkode Operation Neptune ini menandai dimulainya Operation Overlord. Seharusnya pendaratan ini dimulai pada tanggal 5 Juni 1944, tetapi karena cuaca buruk, Dwight D Eisenhower memutuskan untuk menunda pendaratan sampai tanggal 6 Juni. Akhirnya tanggal penundaan ini dikenal sebagai “D-Day” (dalam Bahasa Perancis disebut JourJ atau Le Choc.). Untuk kasus ini, D mungkin mengacu pada nama Dwight.

Douglas MacArthur sepertinya tidak ingin kejadian yang sama terjadi pada rencana invasinya ke Leyte. Atau mungkin dia ingin juga namanya ikut dikenang sejarah, sehingga dia menentukan hari penyerangan sebagai “A-Day”. Sedangkan penyerangan ke Okinawa dimulai pada “L-Day”. Alasannya apa? Hanya MacArthur yang tahu. Ada pula “XDay” yang dikenal saat penyerangan sekutu ke Jepang, tepatnya ke Kyushu dengan jadwal November 1945 dan “YDay” untuk serangan ke Honshu yang dijadwalkan pada bulan Maret 1946. Alasannya? Entah juga. Agar mudah diingat mungkin. Agar jadi serangan terakhir mungkin. Atau agar seperti X-Files menjadi serangan yang misterius, karena the truth is out there.

Di dalam ranah Bahasa Jerman, setelah ditelusuri ternyata ditemui juga istilah X-Tag (dibaca iks-tag) dan bukan T-Tag seperti dugaan iseng saya. Namun, istilah ini jarang dipakai, karena X selalu mengandung makna dan asosiasi yang misterius, asing, fremd dan unheimlich. Padahal yang dimaksud adalah hari yang menentukan. Istilah yang sering digunakan untuk hari yang menentukan adalah Stichtag, yang merupakan kata gabung dari verba stechen dan nomina Tag.

Verba stechen ini menjadi kosa kata standar Bahasa Jerman pada abad ke 8 yang berasal dari verba stechen (mhd.), stehhan (ahd.), yang serumpun dengan verba stekan (as.), steka (afr. ). Kata dasar verba ini adalah *stek-a- atau *stik-a- atau steikja yang bermakna „membakar dengan tusukan“, semakna dengan stiks yang berarti titik. Dalam Bahasa Yunani kuno disebut stizō yang bermakna „menandai“, serta variasi dari kata itu yaitu stigmá dengan makna „tajam“. Sedangkan dalam Bahasa Belanda disebut steken. Makna umum dari verba ini adalah „menusuk“.

Nomina Tag yang digabungkan dengan verba stechen sendiri bermakna awal „menghangatkan, membakar“. Kalau digabungkan maka akan bermakna „hari yang menusuk“.

Jika dilihat secara etimologis, maka gabungan kata di atas untuk saya mengandung makna serta membawa efek asosiasi yang hampir sama: menyakitkan. Itu tentu saja jika mau dilihat secara negatif, apalagi jika melihat sejarah munculnya istilah D-Day sampai ke Stichtag tadi. Namun, negatif selalu beririsan dengan positif, bukan? Jadi bagaimana jika dimaknai sebagai hari yang membawa kesan dan tanda yang mendalam? (tentu kali ini dalam makna yang positif).

Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Hari H? Apakah hanya tiruan saja? Atau punya sejarah lain? Lain hari saja saya cari. Mungkin ketemu pada Hari H-nya.

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s