Carpe diem

Montag

Beresin bahan presentasi untuk Germanistentreffen di UI Desember nanti, tapi bahannya sudah diminta Mbak Avie paling lambat minggu depan (duh, Mbak, ist das nicht zu früh?!). Brunch di Arcamanik, makan siang di Cimahi, lanjut ke Pasirluyu, pulang ke Lengkong Kecil. Teler juga. Langsung tidur. Ngga sadar kacamata ada di samping. Bangun tidur, seperti yang sudah diduga: terdudukilah itu kacamata. Tak berbentuk kacamata lagi. Sudah mendatar saja. Tapi biasa saja tuh, yakin dengan kualitas kacamata mahal tea, hehe. Dan benar, dibawa ke toko kacamata terdekat, dibengkokkan sedikit, hopla! Bener lagi deh. Lebih nyaman malah dipakainya. Malam. Baru tidur sekitar jam dua-an setelah smsan dengan Evi yang sama-sama ngga bisa tidur juga. Insomnia masih menetap. Malah sibuk baca jurnal. Capek juga padahal karena tidur belum terbayar setelah akhir pekan di Jakarta yang kebanyakan begadangnya. Terbangun sekitar jam 3. Asthma yang memang sudah beberapa kali kambuh setelah pulang ke Indonesia, kambuh lagi. Entah karena panas, debu atau manja karena banyak yang merhatiin atau psikosomatis (semuanya deh kayaknya, hehe). Ngga bisa tidur lagi sampai subuh. Siap-siap ke Jatinangor.

Dienstag

Jatinangor. Kuliah pertama setelah libur lebaran yang ternyata lama juga (3 minggu, bo!). Di kelas lumayan. Mahasiswa bisa diajak bekerja sama dengan baik. 2 SKS seperti biasa tidak terasa. Senang saja, walaupun sebelumnya sempat „bernyanyi“ dulu sebentar ke mahasiswa-mahasiswa yang duduk-duduk di koridor sambil ribut. Duh, klise banget kayaknya kalau disebut lagi di sini: gimana Indonesia bisa maju kalau mahasiswa kerjanya hanya duduk selonjoran sambil ribut. Tapi memang begitu kenyataannya tuh.

Kuliah selesai, mulailah hidup yang sebenarnya: menghadapi kesewenang-wenangan pihak atas (ugh, bahasanya) yang dengan semena-mena mengambil dengan paksa kelas kami untuk dijadikan laboratorium yang entah kapan jadinya dan memindahkan dengan sengaja ke kelas yang hanya muat untuk 15 orang sedangkan mahasiswa saya ada 50 orang. Pfui, sampai capek ngetiknya. Memang capek. Saya sudah berusaha sabar mengurus ke sana ke mari. Tidak terlihat hasilnya, yang ada malah haus karena harus bolak balik naik turun tangga. Olah raga? Jangan dibilang. Yang ada hanya dehidrasi. Tapi masih bersyukur karena ada yang berbaik hati membelikan teh botol. Apapun suasana hatinya, minumnya teh botol saja. Bener deh, lumayan adem.

Sore di ITB, seperti biasa mahasiswanya terlambat. Siapapun yang datang duluan, walaupun cuma seorang, dengan dialah pelajaran dimulai, tidak pakai tunggu.Perkuliahan kan dimulai sinne tempore, buka circa tempore. 16.30 ya 16.30 bukan lewat 1 menit, apalagi 15 menit. Tapi berikutnya menyenangkan, mahasiswa-mahasiswanya sudah mulai biasa dengan cara saya mengajar.

Pulang dari ITB diundang makan malam di Sierra. Duh, romantisnya lihat Bandung dari atas dengan lampu-lampu dan hujan pula. Kapan ya terakhir makan malam di bawah bintang-bintang begitu? Hmm…3 tahun lalu kayaknya, atau?! Anyway, menyenangkan, walaupun sepertinya saya agak masuk angin, karena angin cukup kencang, dan Dago Atas setelah hujan ternyata masih lumayan dingin. Maklum, saya sudah underestimate dulu pada temperatur udara kota Bandung yang panasnya itu sudah amat sangat (hiperbola lagi deh). Alhasil, karena memang ngga tahu juga kalau mau diajak makan di sana, maka saya tetap pakai baju tipis.

Pulang ke rumah. Capek. Harus tidur cepat. Besoknya ngajar jam 8, artinya jam 6 sudah harus berangkat.

Mittwoch

Selalu hektisch kalau semua berangkat kerja pagi-pagi. Tapi masih lancar sih, ngga sampai rebutan kamar mandi. Sampai kampus masih bisa foto copy dulu. Kuliah jam pertama lancar, walaupun ada bagian yang mengharuskan saya menerangkan ekstra. Ngga masalah. Saya ingin mahasiswa saya paham konsep dan konteks, bukan sekedar hafal di luar kepala. Harus diulang-ulang. Sudah resiko. Mahasiswanya bete, sudah resiko pula. Sama-sama lah.

Jam kedua, yang saya khawatirkan ternyata terjadi. Urusan ruangan yang belum beres dari kemarin ternyata memang jadi masalah. Kali ini saya tidak mau membuang habis energi saya untuk marah. Sudah cukup kesal. Saya kumpulkan mahasiswanya, menerangkan situasinya. Mereka sudah mau demo saja. Halah! Jaman sekarang menyelesaikan masalah dengan demo? Capek lah. Mending cari solusi yang lebih adem. Bicara dengan bukti-bukti dan persuasi yang sesuai. Selesai juga ternyata. Ruangan yang layak akhirnya didapat juga, walaupun baru untuk minggu depan. Tja, mau gimana lagi? Saya pikir daripada tidak sama sekali. Cuma saya manusia juga. Bicara pun menghabiskan energi. Energi positif saya sudah terserap habis. Daripada saya protes terus, energi malah makin habis, kuliah dibatalkan. Kuliah dilanjut hari itu pun tidak ada gunanya lagi. Waktu untuk negosiasi saja sudah menghabiskan lebih dari 1 SKS. Mood saya sudah hilang entah kemana. Mahasiswa senang tentu, karena kuliah batal, hehe (no comment).

Selesai urusan, langsung meluncur ke Bandung. Lepas siang ada kelas lagi di ITB, tapi sisa kekesalan saya atas urusan ngga jelas itu masih ada. Saya punya waktu dua jam untuk menenangkan diri sebelum mulai di kelas yang baru. Mampir ke Toko You pesan sedikit makanan dan teh serta juice mangga, lalu mulai menikmati siang yang terasa sejuk dan tenang di sana. HP saya matikan, saya cuma ingin sendirian saja. Lumayan, saya bisa selesai mengoreksi tulisan mahasiswa yang seringnya saya komentari lebih panjang dari tulisan mereka sendiri. Dilanjut dengan menerjemahkan beberapa halaman diktat kuliahnya Pak Nimpoeno tentang Graphologie pesanannya Kang Tardjo. Duh Kang, masa ngga ada bahan yang terbaru sih tentang Graphologie, diktatnya Pak Nim (walaupun masih lumayan) kayaknya sudah terlalu tua deh. Ada buku Avé-Lallemant juga kan tentang Graphologie untuk Persönlichkeitstest (walaupun bukan yang terbaru juga sih, aber immerhin). But anyway, senang juga kalau menerjemahkan buku-buku psikologi (menerjemahkan apapun sebenarnya, asal memang saya suka, saya kan agak moody untuk urusan ini).

ITB mulai, lumayan juga. Selesai, saya masih mampir ke BIP sebentar, beli mangga. Selain teh, saya juga penggemar mangga sejati. Pulang. Badan seperti remuk redam deh (hiperbola lagi). Tapi benar, jangan sangka mengajar itu tidak menghabiskan energi. Malamnya Evi telfon, curhat yang tiada pernah habis sepanjang masa, hihi. Yang dicurhatkan selain tentang sistem yang sebenarnya sih ngga harus diperdebatkan lagi karena menghabiskan energi, tapi juga tentang silabus sastra Postkolonialist, tentang Satanic Verses-nya Salman Rushdie yang kok ya susah banget ya ditamatkannya (Rushdie ini kalau nulis memang senang sekali pakai bahasa yang berbunga-bunga sampai akhirnya bikin bingung, ni orang mau nulis apaan sih?! Tapi Midnight’s Children lumayan lah) sampai tentang buku-buku di Freedom Institut. Sok banget ya curhatnya?! Hehe, ngga juga, itu masalah ngga penting sebenarnya, yang penting adalah kapan bisa ketemuan untuk belajar Bahasa Jerman lagi. Buku “Der kleine Prinz” baru dua halaman yang dibaca Evi. Dan masalah jadi ngga kami tukeran shower gel dengan fresh cologne, karena saya punya cologne tapi lebih senang pakai shower gel, dan Evi punya shower gel tapi lebih senang pakai cologne.

Donnerstag

Perut saya agak bermasalah. Mual lagi. Agak migren sedikit tapi tidak terlalu saya rasakan, biasanya juga hilang kalau dipakai mengajar dan cuap-cuap di depan kelas. Tapi tubuh memang tidak bisa dibohongi, sepertinya saya harus aware dengan symptome ini. Mengajar saja sampai beberapa kali slip of tongue. Duh, sudah parah nih. Pulang cepat. Migren terasa memberat. Sampai di rumah makan dan coba tidur. Sore masih ada kelas di ITB, ngga mungkin saya tinggalkan. Bangun tidur bukannya mereda malah lebih terasa. Mualnya juga terasa lagi. Di ITB makin kacau. Sebenarnya saya sudah takut jatuh di kelas. Tapi syukurlah masih bisa saya tahan sampai saya pulang ke rumah dan pertahanan tubuh saya pun akhirnya jebol, saudara-saudara. Mualnya sudah tidak bisa ditahan ditambah sakit di kepala bagian kiri yang semakin menjadi. Ya, koneksi yang baik antara kepala dan perut mengakibatkan seluruh isi perut saya terkuras habis. Tidak membaik. Mual dan migrennya semakin berat. Mata sudah tidak bisa dibuka lagi. Terlalu berat. Mencoba tidur walaupun tidak cukup berhasil. Tapi minimal sudah dicoba.

Freitag

Bangun tidur tidak bertambah baik, malah semakin parah. Akhirnya cuma rebahan saja di tempat tidur. Serangan migren dan mual ini memang tidak bisa diperkirakan sebelumnya. Isi perut terkuras lagi. Kepala tak juga terasa ringan. Tapi memang mungkin sudah seharusnya begitu. Saya sudah harus istirahat, saya tahu. Karena cara istirahat yang biasa selalu tidak mempan, jadi memang harus dengan cara seperti ini. Keadaan yang mengharuskan saya cuma tidur, tidur, tidur dan tidur. Jadi disyukuri dan dinikmati saja, at least saya memang jadi benar-benar istirahat. Satu kelas di ITB dibatalkan. Saya tidak ada daya. Bahkan untuk membuka mata kiri sekalipun.

Menjelang sore agak membaik. Malam lebih baik dan saya bisa membaca buku yang sudah lama menunggu giliran untuk dibaca. Baca sebisanya saja. Ngga mau maksa juga. Tapi bukunya menarik euy, kalau ngga dipaksa berhenti mungkin masih saya lanjutkan. Begitulah. Kalau saya suka underestimate cuaca di Bandung, saya sering overestimate kondisi tubuh saya. Untuk saat ini, tahu diri dulu ah. Menahan diri sebentar toh tak ada salahnya.

Samstag

Hikmah dari sakit memang banyak. Salah satunya ya jadi bisa selesaikan bacaan-bacaan yang bergiliran menanti untuk dibaca. Tapi penyakit juga nih, selesai baca satu buku, ngga sabar juga untuk menulis. Duh, satu-satu deh. Hari ini di rumah saja.

Sonntag

Di rumah juga. Sengaja tidak kemana-mana. Sedang mengumpulkan tenaga untuk minggu depan yang sudah terpastikan akan sangat sibuk. Besok ke Jatinangor untuk diskusi dan mengurus beberapa hal. Selasa UTS, lalu ITB dan malamnya ada acara nonton pentas Puppentheater di STSI. Rabu juga masih UTS, rapat jurusan, dan ITB yang sampai malam pula (judulnya bakalan pergi jam 6 pagi sampai rumah jam 7 malam). Kamis masih harus mengganti kuliah yang dibubarkan tempo hari. Jumat masih di ITB dan ganti jam yang juga dibatalkan kemarin. Sabtu ngasih pelatihan Methodik Didaktik. Minggu malam masih ada acara undangan. Pfui! Was für eine … Woche. Hmm, ist das nicht mein Leben, das ich vor drei Jahren verlassen habe, das ich während meinem Leben in Bayreuth manchmal vermisst habe? Also, geniess es. Ja, und ich geniesse es wirklich. Judulnya juga carpe diem quam minimum credula postero.

Advertisements

Ein Gedanke zu „Carpe diem

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s