Bintang

Mari sejenak kita tengok masa lalu, ajakmu saat kita menyusuri malam menuju kota tempat kita pernah bersama melewati waktu. Mari kita bicara sejenak tentang masa lalu, begitu lagi ujarmu. Tentang indahnya hujan, kota, gunung, dan bintang. Dan bintang itu adalah kamu, begitu ujarmu dengan tatapan mata lurus telesuri wajahku. Sudah sedasa berlalu dan aku masih bisa merasakan getar rindu itu dari tatapanmu.

Aku tahu aku memang sudah jadi bintangmu. Sejak dulu. Walaupun aku tak menginginkan itu, tapi kau berkeras untuk tetap menjadikanku bintang. Mungkin tak ada salahnya kubiarkan. Dan ternyata memang lebih baik tetap menjadi bintang. Supaya indahnya terjaga. Tak menjadi panas saat digenggam tangan.

Karena jalan hidup itu sudah dipilih, begitu katamu. Olehku dan olehmu. Dan kita pun memilih untuk tetap berjalan di jalan yang sudah ditentukan waktu. Aku berharap bisa tetap begitu, lanjutmu masih terus menatap lurus wajahku. Tentu. Tak bisa kubayangkan bahkan jika jalan itu berbeda jauh.

Dan pada akhirnya memang kita ada di sini. Di jalan yang sudah ditentukan waktu. Sambil sejenak menengok masa lalu. Dengan bintang yang indahnya tetap kita jaga selalu.

Pada malam antara Jakarta dan Bandung, 041106

Danke für die schöne Nacht.  Aber man geht auf seiner eigenen Laufbahn und es geht immer weiter. Auch wir. Wir haben unser Leben. Und wir leben damit. Vergangenheit ist ja nur Erinnerungen, die zwar schön sind und die man als schön behalten kann. Alles Gute und viel Glück für Dich. Immer.

Advertisements