„Membaui“ Das Parfum – Patrick Süskind



Ketika salah seorang teman memberitahu bahwa terjemahan roman „Das Parfum – Die Geschichte eines Mörders“ dari Patrick Süskind sudah terbit di Indonesia, saya penasaran dan langsung mencarinya setibanya saya di tanah air. Penasaran, karena dari hasil korespondensi saya dengan Patrick Süskind dan wakil dari penerbit Diogenes (penerbit resmi roman ini dan karya-karya Patrick Süskind lainnya), mereka menetapkan syarat yang ketat –dengan alasan politis tertentu- untuk penerbitan terjemahan buku-buku terbitan Diogenes. Salah satu dari syarat-syarat itu adalah penerbit yang dipilih haruslah penerbit resmi yang sudah dikenal di Jerman, Swiss atau Austria. Jadi, saya sudah membayangkan, kalau pun buku-buku karya Patrick Süskind diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, maka akan diterbitkan oleh salah satu dari dua penerbit terkenal di Indonesia.

Akhirnya, saya membeli roman paling terkenal karya Süskind tersebut yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia (Bahasa Indonesia?!) dengan judul “Perfume – The story of a Murderer”. Pertama kali memegang buku terjemahan tersebut, saya sudah “mencium bau” yang lain. Bukan “bau” Süskind, bukan “bau” Diogenes. Bukan gambar sampul dengan aroma sederhana, berwarna broken white dengan ilustrasi lukisan klasik berukuran sedang saja, seperti aroma khas Diogenes dan buku-buku terbitan Jerman atau Swiss lainnya yang saya hirup, melainkan “bau” Amerika yang langsung menusuk mata dan hidung dari sampul depan warna putih berilustrasikan gambar beberapa mannequin warna hijau apel, semua berkepala botak, sehingga dari kejauhan memang benar tampak seperti buah apel dari jenis Granny Smith. Sampul depan dan belakang penuh dengan tulisan dan komentar dari berbagai media tentang kesuksesan buku ini.

Tentang penerbit, yang ternyata bukan salah satu dari dua penerbit terbesar di Indonesia, tidak terlalu saya permasalahkan. Saya tidak terlalu ngotot menjadi penganut copy right, walaupun sedapat mungkin saya usahakan untuk selalu membeli buku-buku asli dan resmi. Namun, kalau terpaksa harus membeli yang copy left karena satu dan lain hal, (kadang) tidak jadi masalah juga.

Mencium bau yang berbeda, menghirup aroma yang lain, tidak menyurutkan minat saya membaca versi terjemahan buku ini. Saya baca, saya hirup huruf demi huruf, kalimat demi kalimat, halaman demi halaman. Saya mencari aroma Patrick Süskind. Mencari aroma „Das Parfum“. Mencium-cium dan mencari aroma yang terbentuk dari uraian kata dan kalimat dalam bahasa saya sendiri yang bercerita tentang sesuatu yang asing yang ada di luar „dunia“ saya, yang bercerita tentang tempat asing di luar jangkauan saya, yang bercerita tentang orang yang asing di luar bayangan saya. Saya tahu persis, tidak mudah “membaui” Süskind. Tidak mudah menyusun aroma „Das Parfum“. Ada kekhasan Süskind yang tidak bisa dicium dalam bahasa lain. Namun, saya sadar betul, memang pasti akan ada yang “hilang” dari karya-karya terjemahan. Saya sadar sekali dan saya tidak bisa menuntut banyak pula. Sudah ada terjemahan untuk karya yang bagus ini pun, saya pikir sudah satu usaha yang patut diacungi jempol. Artinya, akan semakin banyak orang yang bisa membaca dan turut “membaui” roman yang dibuat dengan cerdas oleh Süskind ini.

Bukan, bukan itu yang saya „cium“ dari karya terjemahan “Das Parfum”. Bukan terjemahannya, bukan sampul muka dan belakang, bukan penerbitnya, bukan kecerdasan Süskind menciptakan tokoh dingin (yang memilih) kesepian dengan kemampuan penciuman yang luar biasa bernama Jean-Baptiste Grenouille, bukan kekhasan teknik bercerita Süskind dengan alur mundur maju serta deskripsi tokoh dan tempat yang sangat detil, bukan pula satu paragraf yang hanya terdiri atas satu kalimat beranak pinak dengan satu titik saja. Saya „mencium“ kata-kata yang tidak hanya saya temukan di dalam terjemahan roman ini, tetapi sebenarnya sudah saya „cium“ juga di banyak tempat, media, dan ternyata „aroma“nya cukup mengganggu saya. Bukan aroma yang kuat, samar saja, tapi ternyata lambat laun membuat kening saya berkerut dan hidung saya berkerenyit.

Bersambung

Advertisements

4 Gedanken zu „„Membaui“ Das Parfum – Patrick Süskind

  1. waks….benar-benar……kalo saya, setelah membaca novel itu, terasa lebih menghirup semua bau yang ada,,,(>.<)…haha…entah kenapa, tp cara berperilaku seorang Granouille sepertinya tidak lepas dari kepala saya, walaupun buku itu sudah saya selesaikan,,,,dan saya baca lagi,,,cheers 4 Peter Suskind..!!!!

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s