Purnama

Saya selalu merasakan keindahan yang berbeda dari setiap purnama. Keindahan dari bias sinar lembut sedikit pucat yang kadang juga tampak kuning benderang, tergantung di mana saya melihatnya. Keindahan yang muncul pada malam musim dingin di atas hamparan salju, saat kelembutan sinarnya menyeruak di sela-sela cemara. Atau keindahannya saat berhadap-hadapan dengan mentari menjelang malam di musim panas. Keindahan yang tak saling mengatasi, tapi saling melengkapi. Keindahan saat bentuknya begitu bulat sempurna sebesar lubang tempayan besar. Atau pun kadang saat bentuknya hanya terlihat sebesar kelapa. Bahkan kadang purnama pun bisa terlihat serupa kentang, seperti yang dikatakan seorang teman pada suatu tengah malam, lalu kami lihat bersama. Tetap indah. Selalu indah.

Purnama juga tetap indah saat ditatap lekat-lekat atau hanya diintip sejenak lewat jendela. Walaupun terkesan malu-malu, tapi sebenarnya cahayanya tetap memancar terang lewat sela-sela kaca. Purnama selalu indah saat ditatap sendirian dalam hening malam. Dia semakin terlihat indah saat ditatap berdua sambil berjalan-jalan dengan sosok tersayang bernama Bapak. Seperti kemarin malam. 

Purnama selalu indah. Keindahan yang tak pernah saya rasakan sama. Hanya satu yang sama: keindahan itu bersahaja. Dan purnama selalu bersetia dengan sinarnya yang bersahaja.

 

Bandung, 081006

23:15

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s