Waktu

Waktu selalu menjadi komoditas yang mahal untuk saya. Setidaknya itu yang selalu saya rasakan dan alami, walaupun pada kenyataannya saya masih sering pula menyia-nyiakan komoditas itu.Teramat sering malah. Sesering rasa bersalah yang muncul seiring dengan waktu yang tiba-tiba terbuang begitu saja. Komoditas yang mahal itu. Terbuang atau tepatnya dibuang begitu saja. Kalau saya mau menyebut itu hal yang manusiawi, saya jadi malu hati karena terlalu sering saya lakukan hal yang sama. Terlalu sering saya lupa pada janji dan niat untuk memanfaatkan komoditas mahal itu dengan baik dan lebih baik lagi. Sehingga akhirnya saya sulit untuk membangkitkan lagi ingatan bahwa saya sudah jadi manusia yang merugi. Namun, sulit bukan berarti tidak bisa -begitu selalu kata salah seorang teman-. Dan bukankah langkah manusia juga beranjak dari ingat dan lupa? Atau mungkin lebih baik dibalik: lupa dan (lalu) ingat.

Terima kasih untuk obrolan pendeknya (menjelang tengah) malam ini. Sayangnya saya selalu suka bahasan tentang taqwa dan waktu, makanya saya bertanya kapan. Sayangnya saya juga selalu suka bahwa hidup ini tidak pasti. Kalau tidak, saya tidak akan begitu merasa bahagia dan menikmati keberadaan saya saat ini di sini. Bersama orang-orang yang begitu saya cintai. Padahal tiga tahun terakhir semua ini cuma jadi kerinduan saja. Kalau tidak, saya pun tidak akan merasa begitu rindu pada kesendirian saya di sana. Berhadap-hadapan dengan diri dan dengan-Nya.

00:40

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s