A Room of Melancholia

Tak perlu tiga, satu saja cukup. Di dalamnya ada longing, breathing dan remembering. Lebih mungkin. Ditambah rasa-rasa yang lain. Saya memang sedang bermelankoli. Seperti biasa, saya memang posesif. Saya tidak suka keterpisahan. Juga dengan kamar ini. Juga dengan kota ini. Juga dengan orang-orangnya. Juga dengan hidup di dalamnya. Saya tahu, sudah begitu aturannya. Toh pada akhirnya saya akan terbiasa juga dengan keterpisahan itu. Bukankah itu malah membuat saya jadi lebih menghargai makna keterikatan? Bukankah dengan tak suka pada keterpisahan itu saya sudah rela mengikatkan diri saya?

Apapun. Semalam saya cuma tidur satu jam. Tidak bisa tidur. Banyak yang saya kerjakan walaupun sebenarnya adalah bentuk pengalihan kesekian kalinya dari kewajiban beres-beres dan melakukan persiapan pulang. Seperti biasa. Berpamitan pada orang-orang yang entah kenapa saya rasa begitu dekat dengan saya selama menjalani potongan hidup saya di sini. Ibu penjaga copy shop di belakang rumah, tukang döner di belakang rumah juga, dan tentu saja berpamitan pada orang-orang di toko buku belakang rumah. Hai, ternyata saya pun cukup berarti untuk mereka. Walaupun rasanya lucu, karena mereka tahu nama saya, tapi saya tak pernah tahu nama mereka. Kami berinteraksi sewajarnya relasi penyedia jasa dan pengguna jasa. Tapi mereka mencemaskan saya saat saya ada di Indonesia saat kejadian Tsunami besar dua tahun lalu. Betapa mereka bahagia saat melihat saya kembali berkunjung ke toko mereka: membeli döner, foto copy atau memesan buku. Pelukan erat pun tak terhindarkan. Begitu pula tadi. Mereka bagian jalan hidup saya di Bayreuth.

Saya akan rindu mereka. Seperti saya akan rindu pada kebersamaan saat Ramadhan dan Idul Fitri bersama sahabat-sahabat yang membuat pesta kejutan untuk saya hari ini. Saya tidak suka pesta perpisahan, mereka tahu itu. Tidak ada pesta perpisahan memang. Yang ada hanya mereka yang bersama-sama membuat pancake kesukaan saya. Mereka tahu saya suka sekali pancake. Yang ada hanya bincang-bincang biasa yang selalu kami lakukan. Yang ada hanya menikmati kebersamaan kami. Namun, ternyata tak bisa dihindari juga bahwa ada juga rasa sedih yang terselip saat sadar bahwa saya tak akan terlibat pada rencana tarawih bersama Ramadhan tahun ini atau pada malam-malam ifthar dengan undangan makan dari rumah ke rumah atau merayakan Idul Fithri bersama. Saya semakin bermelankoli. Ternyata air mata juga tak bisa ditahan untuk tidak jatuh berurai. Kami saling menguatkan. Saya tahu. Tapi kami pun punya jalan hidup masing-masing yang harus kami jalani. Sayangnya mungkin tak bersama-sama. Tapi bukankah itu indah juga?

Saya sedang mencoba menghibur diri. Tersenyum melihat hadiah-hadiah yang mereka berikan. Ya, benar: buku. Semua memberi saya buku. Tak perlu susah-susah. Mereka tahu apa yang bisa membuat saya bahagia dengan mata berbinar. Tapi, sambil tersenyum saya berpikir: bagaimana saya membawanya? Sedangkan saya sudah mengirimkan 10 kotak besar. Isinya? Tentu saja buku. Apa lagi.

Mereka memang sahabat-sahabat saya. Mereka tahu saya bahagia punya mereka dan berterima kasih atas keberadaan mereka. Saya pun tahu, mereka akan bahagia kalau buku-buku itu bisa saya bawa pulang. Tinggal saya harus berpikir keras, apalagi yang harus dibuang. Dan itu tentu saja bukan buku.

Advertisements

6 Gedanken zu „A Room of Melancholia

  1. Hari terakhir di Coventry, aku menghadap kiblat, melakukan sujud terakhir dari kamar itu. Keluar sambil tersenyum dan berucap selamat tinggal. Lalu tak satu kata selamat tinggal pun pada orang2 di situ. Aku cuman bilang aku mau pergi sebentar. Dan taksi itu mengantarku ke Bandara. Tak berat lagi.
    Buku … mmm …

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s