Mengunjungi Masa Lalu

Perjalanan akhir pekan yang melelahkan fisik tapi menguatkan psikis. Ada kedekatan yang aneh antara saya dan daerah Rheinland. Saya suka Rhein. Rheinstrasse entlang selalu menarik-narik saya untuk melewati dan menatap lekat tak mau lepas mulai dari Mainz lewat Koblenz lalu ke Bonn dan akhirnya berhenti di Köln. Ke atas sedikit sampai ke Düsseldorf. Atau sebaliknya, dari Köln sampai Mainz. Indah. Saya selalu merasa berada di negeri dongeng, dengan kastil-kastil batu di atas tebing atau di pulau kecil tengah sungai. Sungai, jalan, rel kereta berkelok-kelok mengikuti alur tebing dan gunung-gunung.

Pertama kali saya datang, 31 Agustus 1997, setelah perjalanan panjang, terpesona saya pada keindahan Rhein sehingga tak peduli pada orang-orang di depan saya yang membicarakan kematian Princess of Wales di Paris hari itu. Saya hanya melihat ke luar jendela. Rhein. Di sebelah saya orang Arab, di depan saya suami istri setengah baya orang Jerman. Pandangan tak putus pada Rhein rupanya menarik perhatian mereka. Kami berempat pun kemudian berbincang. Mereka pula yang membantu saya menurunkan koper di Köln Hbf. Selanjutnya perjalanan-perjalanan menyusuri Rhein yang hampir setiap 6 bulan sekali saya lakukan. Tak pernah bosan. Tak hanya dengan kereta api, tapi juga dengan mobil dan kapal feri. Rhein tetap indah.

Dan akhir pekan kemarin adalah perjalanan kesekian ke tepian Rhein. Mengunjungi masa lalu. Tak hanya Rhein, tapi juga orang-orangnya. Ada Bu Brincker. Perempuan yang sudah saya anggap nenek saya sendiri. Ada Ani, sahabat yang saya hubungi pertama kali saat saya tidak bisa menentukan mana selatan mana utara. Ada Sina, sahabat pena dari tahun 1992 yang sekarang pun sudah menjadi bagian dari Nordrhein Westfalen. Mereka yang menjadi sebagian penguat saya di sini. Bertemu dan mengunjungi mereka adalah kebahagiaan sendiri. Melihat kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan saya. Melihat perubahan mereka seperti melihat perubahan saya juga. Mereka bagian masa lalu saya, tapi juga jadi bagian masa kini dan masa depan saya. Mengunjungi mereka, tidak hanya mengunjungi masa lalu saya, tapi menjejakan kekinian saya untuk kemudian mengambil langkah-langkah ke depan. Juga bersama mereka, walaupun jalannya berbeda.

Kejutan pun masih terjadi pula. Bertemu Eka dan Kethy dari Georgia tak sengaja. Setiap dua tahun sekali kami bertemu tak sengaja kemudian pamitan. Tapi selalu bertemu tak sengaja untuk kemudian pamitan lagi. Seperti kemarin. Tak menduga bisa bertemu. Hidup memang penuh kejutan. Akhirnya kami tak berpamitan lagi, tapi saling ucap: sampai ketemu lagi lain tempat lain waktu. Siapa tahu.

Ah, tidak ada yang lebih membahagiakan selain berkunjung ke masa lalu, bertemu orang-orang yang ikut tumbuh bersama kita juga. Tumbuh menjadi kami yang sekarang. Rasanya seperti pulang ke rumah.

Advertisements

3 Gedanken zu „Mengunjungi Masa Lalu

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s