Die Sungkonos

Namanya Sonja dan Shanti Sungkono, kembar yang besar di Jakarta dan belajar piano dari ibunya serta dari beberapa orang guru privat. Tahun 1994 kuliah di Hochschüle der Künste (Sekolah Tinggi Seni) Berlin dan mengambil jurusan pedagogi musik dengan pengutamaan piano pada Prof. Sorin Enachescu. Tahun 1996 membentuk duo piano Sungkono. Tahun 1997 ikut serta dalam „Internationalen Summer Course“ di Rubin Academy of Music and Dance die Jerussalem dan mendapat nilai „excellent“. Kuliah mereka di Berlin diselesaikan dengan nilai “sehr gut”. Memenangkan beberapa kejuaraan, mendapat beberapa penghargaan salah satunya dari DAAD dan beasiswa dari NaFoeG. Melakukan konser tidak hanya di Eropa Barat dan Timur, tetapi juga di Amerika dan Amerika Selatan. Konser pertama mereka di Indonesia diadakan Agustus 2005 lalu. Sebuah konser amal.

Membaca nama Sungkono dalam program acara Wagner Festpiele 2006 di Bayreuth, membuat saya langsung memesan tiket pertunjukan duo pianist tersebut. Nama mereka memang belum seterkenal Ananda Sukarlan (tepatnya belum saya kenal), tapi saya yakin mereka orang Indonesia. Dan ternyata benar. Saya senang dan bangga, karena ada orang Indonesia yang bisa ikut serta dalam kegiatan Wagner Festspiele, salah satu “puncak” dalam kegiatan permusikklasikan di Jerman. Tidak mudah untuk bisa ikut serta dalam kegiatan festival tersebut, bahkan dalam acara Rahmenprogramm-nya sekalipun. Seleksinya cukup ketat. Saya harus dan ingin menyaksikannya. Dan keputusan saya tepat.

Konser diadakan di Haus Wahnfried jam 19:30. Ruangan depan rumah Wagner yang keempat dindingnya dipenuhi buku dalam lemari yang tertata rapi, beratap lukisan bercorak rokoko warna turkis, sudah terisi penuh saat saya datang. Sebuah piano berdiri anggun di dekat jendela lebar melengkung bertirai putih dan merah. Pengunjung menunggu dan duduk dengan sabar sampai kedua perempuan berambut panjang dan berkebaya modern hitam dengan rok hitam datang. Menunduk memberi salam untuk kemudian duduk dengan anggun dan percaya di diri mulai memainkan karya pertama: Mozart: Sonate D-Dur, KV 123 a.

Alunan pertama Allegro cukup menghentak. Indah. Pilihan yang bagus untuk awal pertunjukan. Mengundang atensi pengunjung. Dilanjutkan dengan Andante yang mendayu, ditutup dengan Allegro molto yang hentakannya diselingi alunan yang mengayun-ngayun. Masih terasa Mozart. Dilanjutkan dengan Fantasie f-Moll op. 103, DV 940 dari Schubert. Ini luar biasa. Malam menjelang. Senja meremang. Di belakang jendela langit kelabu. Memang hujan di luar. Namun, pohon-pohon yang ada di kebun belakang masih bisa terlihat, menambah kesan romantis dan imaginatif karya Schubert tersebut. Schubert memang indah.

Berikutnya adalah Debussy: L’enfant prodique yang menurut saya cukup gelap, karena banyak sekali main di nada-nada rendah. Tulisan tentang Prèlude, Cortège dan Air de Dance-nya L’enfant prodique tadi menyusul. Masih ada tambahan Dvořák: Slawische Tänze op. 46 serta Moskowsky: Neue spanische Tänze op. 66 Allegro, Andante con moto dan Habanera. Saya harus pergi dulu ke daerah Rheinland dan Ruhr selama empat hari. Lihat website mereka dulu saja, bisa dengarkan beberapa cuplikan permainan mereka juga. Yang jelas, saya puas sekali dengan pertunjukan dan permainan duo Sungkono tersebut. Dan saya semakin bangga jadi orang Indonesia.

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s