Walküre

Dingin-dingin begini memang enaknya minum teh hangat dengan ritual biasa: diusap dulu pinggiran cangkirnya, dirasakan hangatnya, dihirup wanginya, diseruput pelahan, lalu rasakan hangat yang menyelusup pelahan ke seluruh tubuh. Jadi hari ini, setelah menyelesaikan urusan ini itu dan memulai hidup dari jam 8 pagi (terlalu pagi sebenarnya untuk saya yang sudah setengah tahun ini terbiasa mulai berkegiatan pada jam 12 siang), saya menyusuri Richard-Wagner-Str. menuju Haus Wahnfried.

Langkah saya tentu saja terhenti, karena toko teh di dekat Haus Wahnfried memajang koleksi teh bernuansa Wagner Festspiele. Ya, khususnya toko-toko sepanjang Richard-Wagner-Str. memang ekstra ikut serta memeriahkan Wagner Festspiele yang akan berakhir 28 Agustus nanti. Karena tetangga mungkin, ya, di Maximilianstr. tidak terlalu heboh kok. Dan toko teh bernama Thymian Tee und Ambiente itu (yang tentu saja bukan salah satu dari jenis-jenis teh yang eksis di dunia) mengemas koleksi teh-nya dalam kemasan hitam lalu diberi nama tokoh-tokoh serta karya-karya Wagner. Ada Parsifal, Lohengrin, Tristan und Isolde, Götterdämmerung, Walküre, Der fliegende Holländer, Siegfried, dll. Jenisnya ada teh hitam, teh hijau, roiboos (beraroma dan tidak beraroma), Kräutertee, Früchtetee, macam-macam. Suka-suka yang buat. Karena saya tidak terlalu suka jenis roiboos dan teh hijau, apalagi Kräutertee, maka saya memilih berlama-lama di bagian teh hitam. Ada tiga pilihan: Götterdämmerung, Siegfried dan Walküre. Setelah menimbang-nimbang, mencium-cium, merenung-renung, akhirnya saya memilih Walküre, teh hitam jenis ceylon assam dengan rasa buah-buahan tropis karena diberi tambahan: potongan-potongan buah mangga dan nanas kering, bunga mawar, bunga jagung, bunga matahari, dan Ringelblumenblüten (apa ya Bahasa Indonesianya? Pokoknya begitu deh, bunganya berwarna orange). Götterdämmerung tidak saya pilih karena „cuma“ Darjeeling Second Flush, rasanya tidak terlalu menantang. Hitam sih yang jelas dan tentu saja mantap. Siegfried juga tak terpilih. Entah karena apa, lupa. Walküre wanginya menggoda. Exotis. Sudah rindu rumah rupanya. Tepatnya rindu buah mangga (jadi sebenarnya mau minum teh atau makan buah mangga, sih ?!).

Yang lainnya, walaupun menggoda untuk dicoba, tak membuat saya mengalihkan pilihan. Alasannya karena jenisnya teh hijau, roiboos, Kräutertee dan Früchtetee. Buat saya, teh itu harus memiliki unsur dan rasa daun teh. Ya, teh hijau dan roiboos bisa juga sih, tapi kurang menggigit. Lain kali saja mungkin saya coba. Menarik juga mungkin mencoba teh hijau Tristan und Isolde yang beraroma orange. Jadi Liebestrank? Mungkin. Siapa tahu.

Dan, bagaimana rasanya „Walküre“? Tentu saja enak. Hmm…benar-benar tidak mengecewakan . Tepat seperti yang dibayangkan

walküre.

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s