Menangis (karena) Wagner


Menangis (karena) Wagner? Duh, segitunya. Ada apa dengan musik Wagner sampai bisa membuat saya menangis? Sebelumnya, harus diluruskan dulu.
Saya bukan menangis karena Wagner, tapi menangis dengan diiringi musik Wagner (ini lagi!). Tepatnya diiringi Parsifal: Vorspiel zum 1. Akt yang mengalir tenang lambat kemudian naik pelahan dengan damai, tapi saat itu ternyata cukup menyayat hati (duh!). Kemudian dilanjut dengan Parsifal: Karfreitagszauber yang awalnya saja sudah megah, tetapi malah membuat air mata saya mengalir semakin deras (halah!). Berikutnya yang mengiringi saya adalah Tristan und Isolde: Vorspiel und Liebestod yang cukup gelap, namun masih menyisakan cahaya terang di ujungnya. Ada damai, tapi saat itu lelehan air mata saya tak juga berhenti (duh!). Kemudian yang mengiringi tangisan saya adalah Lohengrin: Vorspiel zum 1. Akt yang seperti membawa saya ke tepian danau di atas gunung yang tinggi dan dingin, jauh, luas, hening, sepi. Air mata saya tak juga berhenti (wah!), apalagi ketika hentakan timpani menimpali alunan cello dan biola yang mengalir indah. Dada saya juga seperti dihentak-hentak. Semakin dihentakkan dengan Götterdämmerung: Trauermarsch. Masih cukup gelap. Kontrabass yang mengawali. Gaung dari kegelapan. Timpani masih menimpali. Suara nun jauh di sana. Diselingi oboe dan basun. Kontrabass masih terdengar samar. Bum, bum, bum. Samar tapi kuat dan pasti. Saya rasa saya harus berhenti. Tapi desakan dari dada semakin kuat. Air mata saya mengalir semakin deras (wah, bagaimana ini?!). Saya memang suka badai. Namun, badai di hati, dada dan kepala ini sudah memuncak, saya hampir tidak bisa tahan. Dan saat itu saya memang sedang tidak mau menahannya. Saya tidak hentikan tangisan saya. Saya biarkan. Mengalir. Mengalir. Dada saya sesak. Air mata saya terus jatuh. Wagner masih mengiringi. Kali ini Die Meistersinger von Nürnberg: Vorspiel zum 1. Akt. Biolanya menyayat-nyayat. Indah. Naik. Terus. Tinggi. Diayun. Dihentak. Naik lagi. Naik lagi. Semakin tinggi. Semakin tinggi. Turun pelahan. Biola tidak menjerit dan menyayat lagi. Violon cello menurunkannya. Sedikit lebih rendah. Masih berayun-ayun. Kepala dan dada saya masih terasa penuh. Dinaikturunkan. Timpani dihentak. Lepas…Saya menangis tanpa suara. Untuk akhirnya diam. Tak ada air mata lagi yang keluar. Saya hanya merasakan ruang kosong di dada dan kepala saya. Hening saja. Tenang. Damai. Sedikit lewat dari tengah malam. Saya beranjak. Menghapus sisa air mata saya.

Kenapa saya menangis diiringi Wagner? Hanya kebetulan. Kebetulan saja musiknya cocok dengan suasana hati saya saat itu. Sebelumnya saya dengar dan lihat pertunjukan Strauss di televisi. Musik-musik Waltz-nya. Saya menangis juga, tapi sambil sesekali tertawa, karena acaranya dikemas dengan lucu. Setelah itu saya dengar Wagner untuk melepaskan emosi saya. Berhasil. Saya lega bisa menangis. Setelah sekian lama hati saya rasanya seperti membatu (duh, mau menangis saja susah. Pakai diiringi Wagner segala).

Jadi, saya kenapa? Tidak apa-apa. Kepala dan dada saya sedang sangat penuh. Ketika keasingan terasa semakin kuat mengepung saya. Ketika saya sedang tidak ingin berpikir, bertanya, menghubungkan dan mendefinisikan sesuatu. Ketika saya merasa lelah lahir batin, bahkan untuk berpikir pun saya tidak kuasa. Energi saya terserap habis. Ketika saya hanya ingin merasakan saat-saat istimewa berhadapan dan jujur dengan diri. Ketika saya hanya ingin diam. Diam hanya untuk sekedar diam. Diam tanpa perlu menjelaskan alasan kenapa saya diam. Saya hanya ingin itu. Diam saja. Tapi, saya juga tidak ingin diam sendiri. Saya putar Wagner. Teman setia saya yang menemani saya diam.

Pagi ini. Matahari bersinar cerah. Setelah dua hari sebelumnya dingin dan hujan tiba-tiba menyapu dan menguapkan panas begitu saja. Hari ini tidak panas. Matahari sangat bersahabat. Hangat saja yang membelai wajah dan punggung saya. Saya ke luar. Ke kantor pos. Ada kelompok musik dari Rusia memainkan musik rakyatnya di Sternplatz. Ceria. Saya tersenyum. Menikmatinya. Indah. Saya masih tersenyum, kemudian beranjak. Masih ada yang harus saya lakukan. Dan saya ingin melakukannya.

 

Bayreuth, 070806

14:50

 

Advertisements

2 Gedanken zu „Menangis (karena) Wagner

  1. Aku baru tahu sekarang kalau ada orang bisa nangis kena musik Wagner. Kalau mau lebih tersayat (dih), coba deh dengerin Die Walkure, saat Siegmund lagi bermonolog di awal (Walse, Walse). Atau Lohengrin. Atau Tristan, tentu. Parsifal, lagi sering aku pasang. Atau … ah, lama2 semua disebut. Ada satu baris dari Tristan yang sering tak sengaja terdengar secara imajiner di telinga. Aku lupa di Act yang mana. Menggetarkan sekali. Wagner memang gila.

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s