Der Fall Zidane: Galia vs. Romawi di Negeri Orang-orang Gothik

Saat kesebelasan Italia dan Perancis memastikan diri masuk Final Piala Dunia 2006 yang baru berakhir, saya langsung teringat pada komik Asterix. Penasaran rasanya menyaksikan „orang Galia“ melawan „orang Romawi“ di Germania . Terus terang yang saya bayangkan saat itu adalah adegan pertempuran di komik Asterix. Yang terbayang dan melintas di benak adalah pertanyaan-pertanyaan seperti apakah „orang Galia“ akan minum dulu ramuan ajaib Panoramix, kemudian dengan mudahnya „orang Romawi gila“ itu „dijatuhkan“ dan „diterbangkan“? Atau kali ini „orang Romawi“ yang meluluhlantakkan „Galia“? Yang pasti saya membayangkan dan mengharapkan „pertempuran“ yang seru dengan harapan „orang Galia“ memenangkan pertandingan. Seperti cerita „Asterix dan Obelisk“ :-). Harapan saya pun berdasar pada kenyataan bahwa tim „Galia“ bermain bagus sampai ke final. Weiterlesen

Genteng Merah

Tadi pagi saya mendapat mainan baru. Jadi iseng coba-coba sambil berbincang virtual dengan salah seorang teman. Iseng-iseng mencari dan melihat tempat tinggal kami. Dia tanya, apakah tempat tinggal saya yang bergenteng merah. Iya. Bergenteng merah. Tepat di depan kolam renang.

frankengutstr.jpg

Genteng merah. Ternyata ada ceritanya. Saya baru tahu kenapa tempat tinggal saya bergenteng merah pada sore harinya. Saat saya ikut kuliah umum „Zeichen in der interkulturellen Kommunikation“. Tempat tinggal saya terletak di satu daerah pemukiman bernama Birken. Menurut aturan tata kota Bayreuth, atap perumahan haruslah berwarna merah. Maka, orang tidak bisa sembarangan jika akan membangun rumah. Tidak bisa tiba-tiba berwarna lain. Kekecualian yang saya lihat adalah atap rumah Wagner yang berwarna hijau serta bangunan Neues Schloss. Mungkin karena keduanya adalah bangunan lama. Jika orang ingin atap rumahnya bergenteng hitam, maka dia tidak akan mendapat ijin mendirikan rumah. Alasannya adalah tentu karena akan merusak tata kota mereka. Itu akan merusak kultur material yang dijadikan ciri kota Bayreuth. Jadi identitas. Bahkan genteng sekali pun.

Weiterlesen

Es gibt nur einen Jürgen Klinsmann

Ein Jürgen Klinsmann
Es gibt nur einen Jürgen Klinsmann
Ein Jürgen Klinsmann
Es gibt nur einen Jürgen Klinsmann

Lagu mendadak yang dinyanyikan dengan melodi Quantana Mera ini membuat saya jadi tersenyum. Hanya ada satu Jürgen Klinsmann. Senyum itu juga mengembang sesaat setelah kesebelasan Jerman kalah di menit-menit terakhir oleh kesebelasan Italia. Kecewa? Ya, saya ikut kecewa, karena saya pun menginginkan Jerman masuk final. Lalu makna senyum itu? Ah, saya tersenyum karena saya sadar, man kann nichts machen. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Kalah ya kalah. Yang penting sudah usaha. Usahanya pun tidak ringan. Keras sekali malah. Lalu apa? Tidak apa-apa. Das Leben geht weiter. Life goes on. Yang sudah lewat ya lewat. Besok mulai lagi. Sedih? Kecewa? Tentu. Menangis pun boleh. Marah? Boleh juga. Asal tidak merusak. Dan untungnya ini terjadi pada kesebelasan Jerman. Di Jerman. Dengan pendukung orang-orang Jerman. Apa yang akan terjadi kalau Jerman kalah? Tidak akan terjadi apa-apa. Hidup berjalan seperti biasa. Kalah ya kalah saja. Mau diapakan? Tim Italia memang lebih baik di babak-babak terakhir. Namun, itu bukan berarti tim Jerman pun tidak baik. Tapi ada yang lebih baik. Salah satu tentu harus menang. Kalau kali ini bukan Jerman, ya memang bukan gilirannya. Tim yang lain yang menang.

Weiterlesen

Lisa

Sore itu saya mengambil tempat duduk paling belakang di bis yang akan membawa saya pulang usai belanja. Bis masih menunggu jam berangkat ketika serombongan anak TK berusia antara 4 – 5 tahun masuk dengan ceria. Tampaknya mereka adalah anak-anak TK di sebelah rumah saya, karena mereka naik bis menuju tempat kami. Mereka berjumlah 8 orang, terdiri atas 4 orang anak laki-laki dan 4 orang anak perempuan serta ditemani oleh dua orang guru mereka. Mereka membawa gantungan kunci berbentuk kangguru serta boneka kangguru warna kuning bertuliskan nama salah satu supermarket terkenal di Jerman. Celotehan riang mereka langsung meramaikan bis. Dua orang guru pendamping hanya sesekali mengatur anak-anak yang berebutan duduk di tempat duduk bagian belakang. Dua orang anak laki-laki duduk di samping saya. Yang lain duduk di kursi yang saling berhadapan di depan kami. Keempat anak laki-laki itu kemudian memanggil-manggil sebuah nama „Lisa, Lisa, komma’ her. Du sitzst neben uns“. Begitu lah mereka memanggil teman mereka bernama Lisa untuk duduk di samping mereka. Namun, gadis kecil bernama Lisa itu lebih memilih duduk di sebelah dua orang teman perempuannya, walaupun posisi duduknya tetap menghadap dan bersebelahan pula dengan keempat teman laki-laki yang memanggilnya.

Weiterlesen

Hujan

Hujan tampaknya selalu menjadi teman setia kita. Rintik dan tempiasnya hampir tak lepas menemani hari, senja dan malam kita. Kadang dinginnya terasa, seringnya tidak, karena selalu ada hangat yang didekapkan.

Walaupun hujan hampir selalu jadi teman setia kita, tak pernah mau kita membiarkan diri ada di dalam rintik dan tempiasnya. Ada payung yang melindungi kepala dan tubuh kita agar tak kuyup olehnya. Atau kita duduk berteduh sambil menikmati guntingan tetesnya yang serupa tirai.

Kita tak pernah mengeluh tentang hujan. Kita selalu bisa menikmatinya. Pun walau hujan sesekali memberikan rasa dingin dan membuat kita harus menghentikan langkah sejenak. Pun walau hujan tak hanya berupa rintik dan tempias, tapi juga sering diselingi angin dan badai.

Weiterlesen