„Berjarak“ dengan Konflik: Catatan dari Diskusi tentang Situasi Konflik di Indonesia

Diskusi yang diadakan oleh Forum „Kultur und Sicherheit“ (Budaya dan Keamanan) Universitas Bayreuth hari ini mengambil tema besar situasi konflik di Indonesia. Pembicara pertama adalah Oberst i.G. Bruno Hasenpusch: Kommandeur VBK 67, mantan atase militer Jerman di Indonesia. Topik yang dibicarakan adalah „Grundzüge der indonesischen Sicherheitspolitik und deren Auswirkungen auf das Verhältnis zu den Nachbarstaaten Australien, Papua Neuguinea und Osttimor“ (Politik Keamanan Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Hubungan dengan Australia, Papua Nugini dan Timor Leste).

Pembicara kedua yaitu Susanne Rodemeier, etnolog dengan spesialisasi Indonesia Timur, dari Universität Passau yang membawakan tema „Kriegerische Auseinandersetzungen in Ostindonesien“ (situasi perang di Indonesia Timur). Tinjauannya lebih ke arah etnis dan latar belakang kultural situasi konflik dan perang, terutama di daerah Pantar dan Alor.


Bahasan Hasenpusch cukup menarik dan komprehensif. Diplomatis tentu saja. Sebagai orang yang pernah lama berinteraksi dengan komunitas dan situasi militer di Indonesia, mengajar beberapa tahun di Seskoad, dekat dengan petinggi-petinggi militer Indonesia, dia tentu harus „memainkan peran“ tertentu. Apalagi ketika kemudian melihat Rijal dan saya datang. Ada dua orang Indonesia di dalam ruangan. Tentu dia tidak bisa bicara sembarangan pula.

Hasenpusch memang diplomat militer. Tahu memainkan perannya dengan cara yang diplomatis. Latar belakang literatur untuk bahasan yang diambil mengacu kepada Buku Putih pemerintah Indonesia tahun 2005, yang bermaksud membuat transparansi tentang pemerintahan dan kekuasaan militer di Indonesia. Beberapa aturan pemerintah, POLRI dan TNI, juga dipakainya. Kemudian untuk hubungan bilateral dengan Jerman, dia juga mengacu ke politik luar negeri Indonesia dan Jerman. Untuk Jerman bisa dilihat di halaman Auswärtiges Amt.

Setelah menjelaskan tentang situasi geografis dan demografis Indonesia, pentingnya Indonesia secara ekonomi dan keamanan untuk negara-negara lain di dunia, termasuk Jerman, dia masuk lebih detil ke bahasan mengenai wilayah-wilayah konflik, mengungkapkan beberapa tesis tentang penyebab konflik dan kemungkinan penyelesaian masalahnya. Apa katanya?

Penjelasan tentang kondisi geografis dan demografisnya cukup komprehensif. Kadang angka walaupun tidak menjamin bisa sedikit membawa bayangan tentang Indonesia yang tidak diketahui banyak orang Jerman, bahwa ada sebuah negara kepulauan terbesar yang eksis di dunia bernama Indonesia. Negara dengan toleransi agama yang besar. Dengan tingkat pengangguran yang lebih dari 60 % dan hutang yang melebihi penghasilan brutonya. Negara yang disebutnya „Tanz in dem Vulkan“ (menari di dalam vulkan) memang nyata terletak di pertemuan dua pelat bumi. Jadi jangan salahkan kalau negara yang –katanya- diciptakan Tuhan dengan senyum ini banyak diguncang gempa. Negara ini bahkan ditakuti oleh seluruh dunia karena konflik yang tak berhenti dan teror yang bisa mengancam eksistensi negara lain terutama dari segi ekonomi. Ujungnya memang masalah ekonomi. Jika Indonesia kacau, ekonomi dann perdagangan dunia bisa ikut kacau. Jika hutan Indonesia hilang, negara lain ikut kena getahnya.

Semua orang juga sebenarnya sudah tahu masalah ini. Jangan katakan Jerman juga tak punya kepentingan. Ada. Sangat ada. Hasenpusch dengan diplomatis menjelaskannya di awal. Ekonomi. Perdagangan. Apa lagi? Ketika Indonesia berkonflik, Jerman hanya salah satu dari sekian banyak negara yang merasa perlu ikut membantu menyelesaikan konflik itu. Caranya? Menurut saya ini yang harus dipertanyakan. Membuat demokrasi a la barat? Melakukan mediasi dan pendekatan a la barat?

Sebelum melakukan penyelesaian mungkin perlu dilihat apa sebenarnya penyebab konflik yang banyak terjadi di Indonesia? Hasenpusch mengeluarkan statement klasik: ekonomi. Agama menurutnya bukan sumber konflik utama. Agama hanya diinstrumentasi oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan tertentu. Semua orang juga sudah tahu itu. Hal yang mudah untuk menjadikan agama sebagai alasan. Pada dasarnya orang Indonesia itu religius, walaupun tak beragama sama sekali. Ini disinggung juga oleh Susanne yang melihatnya dari sudut adat dan kultur dengan contoh orang Pantar dan Alor.

Filosofi yang menyatu harmoni dengan alam. Hubungan makrokosmos dan mikrokosmos yang saling mengisi, ini yang sering dilupakan. Ketika pendekatan dan mediasi konflik hanya menyentuh permukaan saja, tentu saja tidak akan berhasil baik. Lagipula, cara pendekatan dan penyelesaian konflik tiap negara, nation, berbeda-beda pula. Tergantung dari karakter negara dan orang-orangnya. Saya cukup bersetuju dengan these Susanne untuk tidak melupakan adat ketika bicara masalah mediasi konflik. Mungkin ini bisa menjadi pendekatan untuk sampai ke akar permasalahan. Penyelesaiannya pun bisa didasarkan pada hal itu. Jangan sampai orang hanya melihat tataran makro bahwa konflik yang terjadi di Indonesia melulu berkisar di konflik antaragama, sementara penyebab utamanya dikaburkan.

Ini memang masalah yang rasanya semua orang juga sudah tahu. Tidak mudah untuk menguraikan benang yang sudah sangat kusut di Indonesia ini. Dan yang saya rasa penting juga untuk menyadari bahwa siapapun yang melibatkan diri, dilibatkan atau terlibat dalam situasi kusut ini tak lepas dari kepentingan. Benturan kepentingan-kepentingan ini, yang tentu saja tidak pernah akan sama, yang perlu diperhatikan untuk kemudian dilihat bagaimana penyelesaiannya. Kompromi atau penolakan. Rasanya benturan kepentingan ini juga menjelaskan kondisi hubungan Indonesia dengan negara-negara tetangganya. Terutama dengan Australia dan Timor Leste. Siapa yang berperan, kepentingan apa, sudah jadi rahasia umum.

Susanne kemudian juga menguraikan tentang anggapan kebanyakan suku dan adat di Indonesia yang menganggap bahwa bantuan akan datang dari Barat. Minimal, ini yang terjadi pada kebanyakan suku di kepulauan Nusa Tenggara. Orang dari Pulau Jawa adalah orang Barat. Ketika orang dari Pulau Jawa datang ke tempat mereka, mereka adalah „Dewa Penolong“. Ketika hasilnya tidak seperti yang diharapkan, kecewalah mereka. Mudah sekali untuk dipicu ke situasi konflik.

Anggapan tentang segala sesuatu yang datang dari Barat itu adalah baik, saya rasa tidak hanya dimiliki oleh orang-orang Pantar dan Alor yang secara turun temurun sudah „dibisiki“ oleh para nenek moyangnya. Anggapan ini saya rasa dimiliki oleh hampir seluruh rakyat Indonesia. Bukan tanpa resiko ketika anggapan ini semakin mengendap dalam kepala. Jika dasarnya tidak kuat, yang terjadi adalah kelabilan identitas untuk tidak berkata kehilangan identitas. Kehilangan diri. Saat situasi konflik terjadi, dasar yang tidak kuat akan cepat membuat runtuh.

Tidak ada yang salah dari anggapan itu. Boleh-boleh saja. Minimal yang terlihat dari masyarakat Pantar dan Alor, sekalipun punya anggapan bahwa sang dewa penolong akan datang dari Barat, mereka tetap percaya bahwa spirit-spirit para nenek moyang mereka, kekuatan yang lebih besar, adalah tempat mereka bersandar. Sang Dewa hanya medium. Apakah kemampuan untuk berserah dan bersandar pada „Kekuatan yang Maha Besar“, Pemilik Timur dan Barat, dimiliki oleh sebagian besar rakyat Indonesia „modern“? Mungkin iya, mungkin tidak.

Secara keseluruhan acara tadi cukup menarik. Mengingatkan lagi bahwa situasi benang kusut ini harus pelan-pelan dibenahi. Awalnya mungkin melihatnya dengan berjarak dulu untuk mengetahui peta dan polanya. Saya setuju jika acara seperti ini sering-sering diadakan. Menarik mengetahui posisi dan kepentingan politis apa yang sedang jadi issue hangat. Termasuk ketika bicara tentang demokrasi dan toleransi, klaim bahwa Indonesia mungkin harus belajar dari Jerman, saya hanya mengerutkan kening dan tersenyum pahit. Kenapa? Setiap bicara tentang Islam dan terorisme dan semacamnya, kedua pembicara itu selalu melihat ke arah saya. Ketika ada seorang peserta diskusi bertanya tentang kaitan teror di Indonesia dengan jaringan terorisme internasional, taruhlah Al Qaida, kedua pembicara sepakat tidak menjawab melainkan melemparkan pernyataan retoris kepada saya yang duduk di kursi peserta dengan ungkapan „Di sini ada pakar yang bisa menjawabnya“.

Apa yang dimaksudkan oleh mereka? Saya menafsir sebagai penyamarataan Islam, teroris, Al Qaida, Indonesia dan saya. Hubungannya? Tampak jelas. Mungkin saya tahu kaitannya, karena saya Islam, saya orang Indonesia yang „teroris“ serta berhubungan dengan Al Qaida. Jadi, saya secara tidak langsung adalah anggota Al Qaida. Begitu mungkin kaitannya. Dan ini yang disebut toleransi dan demokrasi? Tidak sempat saya menjawab, karena acara segera ditutup tanpa ada penjelasan dari saya.

Di luar, kami masih sempat berdiskusi. Melanjutkan masalah terorisme, Al Qaida, dan saya. Ini sudah jadi bagian sehari-hari hidup saya sebagai perempuan muslim berkerudung dari Indonesia, negara teroris terbesar. Katanya. Saya sudah terbiasa dengan pertanyaan seperti itu. Kali ini saya –dan juga Rijal- berkesempatan menjawab, bahwa saya –kami- memang fundamentalis. Mereka tidak mau mengakui bahwa kami fundamentalis dan meminta kami mengganti kata itu. Saya belum menemukan kata yang tepat, dan untuk apa pula, jika memang situasinya adalah kami memang fundamentalis. Kembali kepada dasar-dasar agama dan kepercayaan kami. Bukankah istilah fundamen itu juga mereka yang buat? Rijal dan saya hanya mengadopsi. Ternyata, kejujuran memang tidak bisa berterima begitu saja.

Kesan yang lain: Hasenpusch cukup pengalaman di bidangnya, dia banyak masuk ke situasi real di lapangan. Bahasa Indonesianya bagus sekali. Secara personal, dia adalah sosok orang yang ramah dan menyenangkan. Kami kemudian berdiskusi tentang konsep negara federal. Terus terang saya adalah orang yang bersetuju dengan konsep negara federal untuk Indonesia karena pertimbangan berbagai hal. Susanne, saya tidak perlu komentar banyak tentang dia. Ada beberapa statementnya masih sering mengganggu saya. Mudah-mudahan ini hanya karena saya mengenal dia secara pribadi, jadi kadang sulit untuk memisahkan mana pendapat yang subjektif dan objektif.

Acara tadi ditutup dengan penyerahan wine edisi spesial Festival Wagner. Susanne mendapat wine dengan botol bermotifkan tokoh dari cerita „Der fliegende Holländer“, sedangkan Hasenpusch mendapatkan motif „Tannhäuser“. Walaupun pasti tanpa kesengajaan, saya –dengan menyesal- membaca tanda yang lain dari kedua motif tadi.

 

Bayreuth, 260706

18:36

 

 

 

 

 

 

Advertisements

2 Gedanken zu „„Berjarak“ dengan Konflik: Catatan dari Diskusi tentang Situasi Konflik di Indonesia

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s