(Belajar) Sejenak

Mentang-mentang ujian jadi ngga nulis. Hehehe. Kan biar kesannya sibuk belajar. Padahal sih ngga juga. Keinginan menulis tetap menggebu, tapi ternyata perasaan bersalah ngga „belajar“ ternyata bisa mengalahkan keinginan menulis di sini. Jangan salah, menulis mungkin ngga, tapi blog walking tetap jalan. Sama saja sebenarnya. Maklum, warming up untuk belajar biasanya lebih lama dibandingkan dengan belajarnya itu sendiri.

„Belajar“. Apa sih? Duh, kesannya. Tapi beneran, saya ngga tahu definisi belajar itu apa. Saya cuma lakukan apa yang saya rasa mau saya lakukan. Parahnya, saya ini orangnya penurut. Apalagi menuruti kata hati. Paling suka deh. Selain itu saya juga menuruti saran psikolog saya yang bilang: „belajar dua jam saja, asal intensif. Sisanya lakukan apa yang kamu suka. Kamu ngga merasa bersalah, senang-senang pun tetap jalan.“ Psikolog yang seperti ini yang saya suka, hahaha. Sejak saat itu saya menerapkan pola dua jam belajar intensif tiap hari. After midnight pula. Soalnya, lagi-lagi si psikolog bilang, saya harus menemukan waktu dan cara belajar yang pas untuk saya. Bukan yang kata orang lain tepat. Nah, saya sadar kalau saya bisa konsenstrasi penuh tengah malam, saat gelap dan hening dan ngga panas. Siang-siang biasanya saya mengerjakan tugas-tugas saya yang lain. Tengah malam sampai lewat tengah malam baru saya bisa konsentrasi penuh dengan bacaan saya. Dua jam saja. Lewat dari itu ngga bisa. Sudah saya bilang, saya ini penurut. Cukup segitu? Lumayan. Setidaknya untuk saya. Dan parahnya, saya juga selalu punya pembenaran untuk itu. Dua jam, asal intensif dan dilakukan rutin. Bener? Hehehe. No further comment.

Weiterlesen

Werbeanzeigen