Jarak

„Gempa lagi, Di…ngga tahu harus ngomong apa :(„

Itu yang ditulis Lusi di PM-nya hari ini. Saya juga tidak tahu harus ngomong apa ketika berita itu saya ketahui kemarin. „Gempa? Iraha? Di mana? Maenya sih?“ begitu reaksi ibu saya, saat saya hubungi per telefon siang kemarin. „Teu nyetel TV. Dipareuman. Bosen atuh da, beritana soal Israel jeung Libanon wae.“ Sudah bosan dengan berita perang. „Iya, katanya. Gue denger ada gempa. Tapi gue ngga tahu tuh. Ngga kerasa. Pokoknya gue pengen kawiiinnn…Udah ngga tahan“. Begitu tulis salah seorang teman saat berbincang virtual. Tak (terlalu) peduli atau mungkin sudah „kebal“ dengan bencana yang datang beruntun? „Kebal“? Saya nyalakan TV, biasanya di CNN sudah langsung ada beritanya. Kali ini tidak ada. Hanya ada liputan khusus Libanon dan Israel. Pindah ke saluran TV Jerman: ntv, Phoenix, ZDF. Baru ada. Di radio ada juga. Masuk GMX, Indonesia jadi headline.


Telefon teman. Tanya kabar dan sekalian tanya kabar keluarganya di Pangandaran. Tapi lebih ke basa-basi saja ternyata. Karena kemudian lebih banyak membahas tentang Systemtheorie-nya Luhmann dan Theorie der sozialen Ungleichheit-nya Weber.

Hai, apa yang terjadi dengan saya? Bagaimana perasaan saya? Sepertinya lebih panik karena mau ujian. Sebegitu pentingnyakah ujian? Sebegitu paniknya kah? Kenapa sepertinya teori sistem dan „ketidaksetaraan“ lebih enak untuk dibahas? Karena apa? Karena abstrak. Karena keduanya „hanya“ jadi „yang lain“ yang tidak mengancam. Bukan diri. Tidak mengancam diri.

Bagaimana dengan orang-orang yang panik karena air datang? Bagaimana dengan orang-orang yang ketakutan saat bumi berguncang? Saya ada di sini. Nyaman saja. Kenapa saya lebih merasa terancam dengan ujian? Karena saya berjarak dari „guncangan“ dan „air“. Keduanya jadi „yang lain“. Ya, saya mengikuti „yang lain“ tadi dengan „berjarak“.

Belakangan ini saya memang sedang sering merasa marah. Terutama marah pada diri saya sendiri. Kali ini saya marah pada rasa „kebal“ yang semakin tebal. Saya marah pada diri saya yang sudah merasa „nyaman“ di sini. Sehingga semua yang terjadi di manapun, termasuk di „rumah“ saya sendiri, saya lihat dan saya rasakan dengan „berjarak“. Rasanya malah jadi basa-basi bilang „ikut sedih dan berduka“. Benarkah itu yang saya rasakan? Jujur saja, benarkah? Toh semua pada akhirnya hanya ungkapan basi saja. Toh semua saya rasakan dalam „jarak“. Saya tidak ada di sana. Fisik dan psikis.
Dan…tiba-tiba pula saya merasa takut. Sangat. Takut kalau-kalau hati saya mengeras seperti batu. Tak bergeming. Duuuhhh…. :-(

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s