„My admirer is Mother Theresa“

Duh, siapa sih orang yang sebegitu hebatnya sampai Mother Theresa mengidolakan dia? Ini dia. Putri Indonesia Nadine Chandrawinata. Sehebat apakah dia? Lihat saja di sini. Hebat betul, deh, sampai Indonesia saja dibilang „beautiful city“ yang banyak ‚bitches‘-nya (maksudnya „beaches“ mungkin, ya, Nadine, SAYANG! (grrr..) ?!).

Sebagai orang yang melibatkan diri dengan senang hati dan otomatis pada analisa percakapan serta interview, kali ini saya menyerah. Belum pernah saya merasa begitu „putus asa“ (putus asa beneeerrrr….) sebelum membuat transkripsi. Membuat transkripsi interviewnya saja saya sudah ngga tega, apalagi harus menganalisanya. Kasihan dia ah. Baru melihat videonya saja sudah bikin mual dan sakit kepala. Padahal baru tataran luar yang saya lihat, belum saya perhatikan (jangan salahkan saya, ini otomatis muncul karena kebiasaan). Apalagi kalau masuk ke tataran dalam sampai ke Pause, Verzögerungsphänomene, Lachspartikel, Mimik dan Blickverhalten. Apalagi kalau mau lihat latar belakang psikososiolingustiknya. Duuuhh….

Dari perhatian sekilas pada tataran luar tadi, Nadine memang terlihat gugup. Dia sering melakukan jeda, menggunakan Verzögerungssignal „eh“ dan „mmm“ yang amat sangat banyak untuk berpikir mencari kata serta ungkapan yang tepat, juga untuk mengoreksi kata atau bahkan kalimat. Tatapan matanya tidak fokus ke kamera tapi menerawang dan sering melirik ke samping atau melihat ke atas. Bibir yang banyak dimain-mainkan tak perlu. Banyak kata, bagian kata atau bahkan kalimat yang diulang untuk memperbaiki kata atau kalimat yang baru diucapkannya („I want express (-) explore…“). Jeda yang dipakai terlalu lama (lebih dari 2 detik). Dia pun terlihat ragu-ragu. Ragu-ragu itu bisa muncul karena gugup berhadapan dengan kamera (suaranya agak bergetar), tidak percaya diri, atau…memang tidak tahu apa-apa? Komposisi kalimat pertamanya saja sudah salah („I like to do in my spare time is…“)

Kesalahan terbesar menurut saya adalah saat dia mengucapkan „Indonesia is a beautiful city“. Duh, kok bisa ya? Slip of tounge juga banyak muncul. Salah satunya adalah saat dia berkata „my adm (-) eh (-) my admirer is mother theresa“ dan kemudian dengan lancar dia menyebut „bitches“ untuk „beaches“. Wah! Kemudian partikel tawa pada kalimat „so..I really adore at hi (2.0) at (1.0) hER. <<p> hihihi>“ Partikel tawa „hihihi“ itu diucapkan tiba-tiba dengan cepat, intonasi ragu, agak naik sebentar kemudian menurun, dengan mata melihat ke atas dan badan yang ditarik ke belakang. Saat itu dia baru selesai „bercerita“ tentang Mother Theresa. Partikel tawa itu sama sekali tidak pada tempatnya karena dia tidak sedang mengatakan hal yang lucu. Dia sedang bercerita tentang Mother Theresa! Atau mungkin saja dia tertawa untuk menutupi rasa gugupnya atau rasa malu karena sudah salah berucap atau menutupi „ketidaktahuan“ dirinya. Duh! Sudah ah…ngga enak hati melanjutkannya :-(

Saya tidak pernah setuju dengan acara putri-putrian. Bukan karena bertentangan dengan agama atau kultur atau alasan mengeksploitasi perempuan atau apapun. Ngga lah, saya ngga punya cukup ilmu untuk mengulas sampai sejauh itu. Alasan saya sederhana saja: „kekurangtahuan“ ngga usah ditampilkan deh, apalagi sampai heboh begitu. Ditutup dan diselubungi dengan istilah apapun tetap saja ketahuan. Kan lebih baik belajar, baca, biar pintar.

Maaf, ya, Nadine, SAYANG! (grrr….), saya jadi emosi begini. Kasihan kamu, SAYANG! (grrr…), mendingan pulang aja deh, bantuin mama di rumah. Kamu cantik, sayang kalau kamu permalukan dirimu seperti itu.

Kali ini saya sedang ngga mau bilang: Nadine juga manusia. Ngga ah, keterlaluan soalnya kalau sampai orang „Indonesia“ bilang Indonesia is a beautiful city dan Mother Theresa mengidolakan dia (umurmu baru 13 tahun saat Mother Theresa meninggal, SAYANG!) . Duuh….

*Saya yang masih gemas dan kurang kerjaan lihat video dan interview begitu*

Advertisements

4 Gedanken zu „„My admirer is Mother Theresa“

  1. mungkin lebih enak kalau interviewnya dalam hati dan pakai bahasa hati aja :) *halah* udah ah…bahasnya. malah jadi dosa ngomongin orang :)

  2. he-he-he dian…
    aku juga sama gemesnya tuh…
    segitu gemesnya kita sampe ba’da diskusi tentang yang satu ini nafsu makan kita meningkat drastis…
    aku tunggu loh script interview wanita-wanita cantik itu…
    selanjutnya, kalo rencana kita masih mau diterusin… kayanya harus banyak-banyak tarik nafas dalem-dalem nih… he-he-he…

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s