Der Fall Zidane: Galia vs. Romawi di Negeri Orang-orang Gothik

Saat kesebelasan Italia dan Perancis memastikan diri masuk Final Piala Dunia 2006 yang baru berakhir, saya langsung teringat pada komik Asterix. Penasaran rasanya menyaksikan „orang Galia“ melawan „orang Romawi“ di Germania . Terus terang yang saya bayangkan saat itu adalah adegan pertempuran di komik Asterix. Yang terbayang dan melintas di benak adalah pertanyaan-pertanyaan seperti apakah „orang Galia“ akan minum dulu ramuan ajaib Panoramix, kemudian dengan mudahnya „orang Romawi gila“ itu „dijatuhkan“ dan „diterbangkan“? Atau kali ini „orang Romawi“ yang meluluhlantakkan „Galia“? Yang pasti saya membayangkan dan mengharapkan „pertempuran“ yang seru dengan harapan „orang Galia“ memenangkan pertandingan. Seperti cerita „Asterix dan Obelisk“ :-). Harapan saya pun berdasar pada kenyataan bahwa tim „Galia“ bermain bagus sampai ke final.

Beberapa saat sebelum pertandingan dimulai, kamera menyorot seorang pendukung „Galia“ berpakaian seperti Obelisk. Saya tersenyum. Namun, pertandingan final semalam sepertinya jadi antiklimaks. Secara pribadi, saya kecewa karena pertandingan tidak seperti final yang „seharusnya.“ Tapi tak usahlah berpanjang-panjang. Saya juga tak perlu menulis banyak-banyak, karena sudah banyak yang menulis dan dimuat serta dianalisis di manapun. Bahkan TV Brasil „Globo“ sampai mendatangkan pembaca bibir untuk „mengira-ngira“ apa yang dikatakan Materazzi pada Zidane, sampai mengakibatkan peristiwa „tandukan Zidane“ itu terjadi. Dugaan sementara adalah Materazzi dua kali menyebut saudara perempuan Zidane sebagai „pelacur“, kemudian menyebut Zidane sebagai „teroris“. Ini memang masih harus dibuktikan kebenarannya. Zidane sendiri sampai sekarang belum mau bicara. Pada agennya dia hanya berkata bahwa Materazzi mengatakan sesuatu yang sangat serius padanya. Tapi sampai saat ini, dia tidak ingin membicarakan hal itu dulu. Agennya menyebutkan, bahwa dalam beberapa hari ini Zidane akan bicara.

Apapun itu, tindakan Zidane memang tetap bodoh dan tidak bisa dibenarkan. Namun, tidak ada salahnya juga melihat masalah itu dari perspektif lain. Dan rasanya, orang-orang sudah tidak bisa dibodohi lagi. Orang sudah bisa melihat, tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Juga dalam „kasus Zidane“ ini. Zidane tetap jadi pemain terbaik, „Zizou, on t’aime“ tetap ditampilkan di Arc de Triomphe, dia tetap diterima dengan penuh kebanggaan oleh Jacques Chirac dan rakyat Perancis lainnya.

Rasanya kok jadi hal yang paradox melihat kenyataan Italia menjadi juara dunia, tetapi tim yang terpilih sebagai „the best fair play team“ adalah Spanyol dan Brasil. Pemain terbaik dipegang Zidane dari Perancis (yang memang masih bermain menawan sampai dia dikeluarkan). Pemegang sepatu emas sebagai top scorer adalah Klose dari Jerman. Podolski dari Jerman pun menjadi pemain muda terbaik. Untung Italia masih punya Buffon yang terpilih menjadi penjaga gawang terbaik dan mendapat trophi Lev Yashin. Buffon memang layak mendapatkannya, karena dia bermain sangat bagus selama Piala Dunia berlangsung. Selain bagus, dia juga bermain bersih.

Harapan saya menyaksikan „pertempuran Galia dan Romawi“ memang tidak tercapai. Justru setelah pertandingan itu saya kecewa. Kecewa karena memang lebih enak baca komik ternyata daripada menyaksikan „sandiwara“ dan adegan „menanduk di lapangan“ (padahal di komik Asterix pun banyak adegan „kasarnya“ ya?! Apapun, mungkin ini juga karena kekecewaan saya karena kejadian „sandiwara“ dan „menanduk“ itu cukup dalam sepertinya :-))

Berita lengkap (dalam Bahasa Jerman -maaf-, tapi rangkumannya sudah ditulis di atas) tentang didatangkannya pembaca bibir untuk „kasus Zidane“ bisa dilihat di sini

Pagi ini saya menulis: „Orang Romawi memang gila :-)“. Sambil menulis itu, saya membayangkan kata-kata tersebut diucapkan oleh kaum Galia dalam komik Asterix sambil mengetuk-ngetukkan jari di pelipis. Maksud saya menulis kata-kata itu adalah „salute“ pada Italia yang sudah menjadi Juara Dunia. Bagaimana pun memang merekalah yang jadi juara dunia tahun ini.

Saya tiba-tiba ingin mengkhayal dan membayangkan lagi „pertempuran Galia vs. Romawi di negeri orang-orang Gothik“. Bagaimana ya kalau „pertempuran“ dibahas dalam komik Asterix? „Orang Galia“ harus minum ramuan ajaib Panoramix dulu. Atau mungkin Asourancetaurix harus diikutkan main. Abraracourcix juga tetap main dengan ditandu di atas perisai. Mungkin dengan begitu Zidanix tidak perlu „menanduk“ Materrazius (harusnya kan „diterbangkan“ :-)). Tidak apa-apa orang Romawi menang karena Pirlous Nonsanggupus, Materrazius Akalbusyukus, Rossius Tifus, Alessandro del Sapujebholus dan Grossous Kemayus memang bisa memasukkan semua bola ke jaring Fabien Barthezix. Sementara Buffonus Monchongmanchungus terbukti bermain dengan gemilang. Namun, „para serdadu Galia“ memang sudah kehilangan Zidanix serta Henrix. Dan Trezeguetix pun tidak mampu menyarangkan bola di gawang Buffonus seperti yang sudah dilakukan 3 orang rekannya, yaitu: Wiltrodix, Abidalix, dan Sagnolix. Sementara itu di luar, David Youpielatula, Christoph Kopicoklatta, Philipp Penchasilata juga Lukas Trompetapianikabiolala bersenang-senang sudah jadi juara ketiga. Yang penting mungkin sekarang jadi juara. Biarlah juara ketiga juga :-)

Selesai. „Pertempuran“ sudah selesai. Hidup kembali seperti semula. Saya kok tiba-tiba merasa ada yang hilang. Namun, bukankah „kehilangan“ juga beririsan dengan „penemuan“?. Kali ini yang hilang adalah „pendewaan“ dan yang saya „temukan“ adalah kemanusiaan. It’s all just (too) human. Jadi, lebih enak jadi manusia saja, kan?.

Advertisements

5 Gedanken zu „Der Fall Zidane: Galia vs. Romawi di Negeri Orang-orang Gothik

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s