Genteng Merah

Tadi pagi saya mendapat mainan baru. Jadi iseng coba-coba sambil berbincang virtual dengan salah seorang teman. Iseng-iseng mencari dan melihat tempat tinggal kami. Dia tanya, apakah tempat tinggal saya yang bergenteng merah. Iya. Bergenteng merah. Tepat di depan kolam renang.

frankengutstr.jpg

Genteng merah. Ternyata ada ceritanya. Saya baru tahu kenapa tempat tinggal saya bergenteng merah pada sore harinya. Saat saya ikut kuliah umum „Zeichen in der interkulturellen Kommunikation“. Tempat tinggal saya terletak di satu daerah pemukiman bernama Birken. Menurut aturan tata kota Bayreuth, atap perumahan haruslah berwarna merah. Maka, orang tidak bisa sembarangan jika akan membangun rumah. Tidak bisa tiba-tiba berwarna lain. Kekecualian yang saya lihat adalah atap rumah Wagner yang berwarna hijau serta bangunan Neues Schloss. Mungkin karena keduanya adalah bangunan lama. Jika orang ingin atap rumahnya bergenteng hitam, maka dia tidak akan mendapat ijin mendirikan rumah. Alasannya adalah tentu karena akan merusak tata kota mereka. Itu akan merusak kultur material yang dijadikan ciri kota Bayreuth. Jadi identitas. Bahkan genteng sekali pun.


Saya penasaran, lalu „lari“ ke Köln. Eichstr. Tempat saya dulu tinggal. Ternyata di sana semua atap berwarna hitam. Masih penasaran, saya „pindah“ ke Bonn-Bad Godesberg. Di sana kelabu. Bagaimana Berlin? Coklat. München? Merah. Nürnberg? Merah. Bagaimana dengan Bandung? Coklat tua, coklat muda, hitam, abu-abu.

Tata kota, pengaturan ruang dalam rumah, peletakan dan pemilihan furniture hanya sebagian dari kultur material. Bagaimana kultur material ini diinterpretasikan dan dimaknai bisa menjadi sangat menarik. Apalagi kalau disangkutpautkan dengan latar belakang kultur atau sejarah si pelaku komunikasi. Seperti juga pakaian dan kelengkapan, yang sadar atau tidak sadar „menunjukkan“ siapa diri kita, atau ingin seperti apa diri kita menjadi.

Benda dan materi itu sebenarnya tidak memiliki makna apapun, sampai dia ditandai dan dimaknai. Kalau tidak ada penanda, maka dia akan tetap menjadi tanda. Tapi benarkah tidak bisa ditandai dan dimaknai sama sekali? Ah, seperti kata Watzlawick, manusia kan tidak bisa tidak berkomunikasi. Bahkan dengan diam dan benda yang bisu pun sebenarnya dia sedang (mencoba) berkomunikasi. Minimal (mencoba) mengkomunikasikan sesuatu.

Jadi, bagaimana dengan genteng merah dan pohon birken yang tidak boleh ditebang walaupun terasa mengganggu? Saya menandai dan memaknainya sebagai: Jerman sekali! :-)

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s