Es gibt nur einen Jürgen Klinsmann

Ein Jürgen Klinsmann
Es gibt nur einen Jürgen Klinsmann
Ein Jürgen Klinsmann
Es gibt nur einen Jürgen Klinsmann

Lagu mendadak yang dinyanyikan dengan melodi Quantana Mera ini membuat saya jadi tersenyum. Hanya ada satu Jürgen Klinsmann. Senyum itu juga mengembang sesaat setelah kesebelasan Jerman kalah di menit-menit terakhir oleh kesebelasan Italia. Kecewa? Ya, saya ikut kecewa, karena saya pun menginginkan Jerman masuk final. Lalu makna senyum itu? Ah, saya tersenyum karena saya sadar, man kann nichts machen. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Kalah ya kalah. Yang penting sudah usaha. Usahanya pun tidak ringan. Keras sekali malah. Lalu apa? Tidak apa-apa. Das Leben geht weiter. Life goes on. Yang sudah lewat ya lewat. Besok mulai lagi. Sedih? Kecewa? Tentu. Menangis pun boleh. Marah? Boleh juga. Asal tidak merusak. Dan untungnya ini terjadi pada kesebelasan Jerman. Di Jerman. Dengan pendukung orang-orang Jerman. Apa yang akan terjadi kalau Jerman kalah? Tidak akan terjadi apa-apa. Hidup berjalan seperti biasa. Kalah ya kalah saja. Mau diapakan? Tim Italia memang lebih baik di babak-babak terakhir. Namun, itu bukan berarti tim Jerman pun tidak baik. Tapi ada yang lebih baik. Salah satu tentu harus menang. Kalau kali ini bukan Jerman, ya memang bukan gilirannya. Tim yang lain yang menang.

Weiterlesen

Werbeanzeigen