Hujan

Hujan tampaknya selalu menjadi teman setia kita. Rintik dan tempiasnya hampir tak lepas menemani hari, senja dan malam kita. Kadang dinginnya terasa, seringnya tidak, karena selalu ada hangat yang didekapkan.

Walaupun hujan hampir selalu jadi teman setia kita, tak pernah mau kita membiarkan diri ada di dalam rintik dan tempiasnya. Ada payung yang melindungi kepala dan tubuh kita agar tak kuyup olehnya. Atau kita duduk berteduh sambil menikmati guntingan tetesnya yang serupa tirai.

Kita tak pernah mengeluh tentang hujan. Kita selalu bisa menikmatinya. Pun walau hujan sesekali memberikan rasa dingin dan membuat kita harus menghentikan langkah sejenak. Pun walau hujan tak hanya berupa rintik dan tempias, tapi juga sering diselingi angin dan badai.

Kita selalu bisa menikmati hujan. Dengan payung di tangan kita berjalan di bawahnya. Atau berlari kalau sudah terlalu deras. Atau berteduh sejenak untuk menikmati guntingan tetesnya ditemani secangkir coklat atau teh panas. Atau juga diselingi jahe hangat di pondok kayu perkebunan teh di selatan. Kadang kita tak bercakap karena kita begitu sibuk menikmati guntingan tetes itu berebutan menyentuh tanah. Tak ada keluh kita pada hujan.

Juga malam itu hujan menemani kita di luar. Kita nikmati hujan dengan cara kita. Aku sedang sibuk mencari dunia ketika tiba-tiba hening kau pecahkan dengan petikan gitar dan dengan ucap:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana[1]

Aku terdiam, menatap. Sejenak berhenti dari usahaku mencari dunia.

Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku yang tak ingin berkata. Hanya menatapmu diam dan berhenti dari usahaku mencari dunia. Waktu terasa berhenti berdetak. Aku pun tak ingat apakah hujan masih menempias di luar.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Kubiarkan kau melanjutkannya. Aku masih diam menatap dan mendengar. Kuhentikan seluruh usahaku mencari dunia. Aku hanya ingin mendengar kau melanjutkannya. Aku hanya ingin menatap mata yang tiba-tiba berbinar. Aku hanya ingin membiarkan hujan di luar. Karena tiba-tiba hanya hangat yang kurasakan.

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Malam itu memang hujan menempias. Di luar. Tidak di dalam. Di dalam hujan tiada. Hanya ada hangat. Dalam hening yang diam dari cakap. Namun rasa tak perlu diurai dengan derai nafas kata. Ruang lengang yang tercipta dari setiap jeda, cukuplah sudah untuk mengungkap semua.

Tak pernah kita mengeluh tentang hujan. Juga malam itu di saat kuhentikan usahaku mencari dunia. Untuk menyimak dan menikmati rasa. Dan sejujurnya aku pun tak tahu, apakah saat itu rinai hujan masih ada.

Kita memang tak pernah mengeluh tentang hujan. Juga pada hujan-hujan yang lain. Yang tak hanya berupa rintik dan tempias, tapi ada kalanya juga deras diseling badai. Hujan masih setia menemani hari-hari kita selanjutnya dan selanjutnya dan selanjutnya. Pagi yang cerah. Hari yang panjang. Senja yang menjelang dan malam yang datang. Hujan masih sering ikut mencurah. Hujan ada saat kau memintaku pergi karena merasa tak bisa membuatku bahagia. Hujan ada saat aku yang memintamu pergi kemudian. Hujan ada saat hening tak lagi terasa menyenangkan. Hujan ada saat dekap tak lagi terasa hangat. Hujan pun ada saat tangis pecah diam-diam.

Namun, seperti biasa, kita tak pernah mau membiarkan diri kita kuyup olehnya. Ada payung yang melindungi kita agar tak basah. Atau kita berhenti sejenak membiarkan hujan mereda di luar.

Sampai saat itu. Hujan tak ada. Aku lepas dirimu terbang menuju mentari di sana. Sendiri saja. Tanpa ditemani hujan.

 

Bayreuth, 010706

02:21

 

 


[1] “Aku ingin“ Sapardi Djoko Damono

Advertisements