My Beloved Child (Brit Jorunn Hundsnes, Norway: 2004:103′)

Film berjudul asli "Mitt elskede barn" ini disutradarai oleh sutradara Norwegia Brit Jorunn  Hundsnes dan diproduksi pada tahun 2004. Durasinya yang cukup panjang, 103 menit, membutuhkan kesabaran ekstra untuk menyaksikan film tersebut sampai habis.

Film dibuka dengan siaran berita di televisi tentang pembunuhan yang dicurigai dilakukan oleh seorang ibu dan kedua anak perempuannya. Laki-laki berusia 66 tahun yang dibunuh adalah suami dan ayah dari kedua anak perempuan itu. Salah seorang anak perempuan itu, Sigrid Beate Edvardsen (33 tahun), mengakui perbuatannya dan diberi hukuman 7 tahun penjara atas tuduhan pembunuhan.

Film ini merekam kehidupan Sigrid Beate sehari sebelum dia masuk ke penjara. Peristiwa yang melatarbelakangi terjadinya pembunuhan tersebut. Kenangan masa kecilnya yang suram. Komentar ibu dan gurunya. Kehidupan keluarganya bersama Tornbjorn dan Tobias, anak laki-lakinya yang berusia 7 tahun. Semua direkam dengan detil dan dimontasekan dengan sejumlah foto keluarga dan footage dari rekaman video keluarga, menjadikan film ini tidak hanya sekedar dokumentasi sebuah perjalanan hidup, tetapi membawa pemirsa memasuki dunia masa kecil Sigrid Beate, nasibnya yang tragis yang membawanya sampai ke pembunuhan ayah kandungnya sendiri, kemudian membawanya masuk ke penjara.

Keluarga Edvardsen adalah contoh keluarga kelas menengah atas Norwegia yang tinggal di kota tepi pantai Holmestrand. Mereka tinggal di sebuah rumah yang cukup mewah dan memiliki peternakan kuda sendiri. Sang ayah adalah tipikal ayah yang tidak dekat dengan anak-anaknya secara emosional. Tidak hangat dan tidak pernah bicara banyak, sehingga anak-anaknya merasa perlu menunjukkan sesuatu agar dianggap “ada” oleh ayah mereka. Dia pun tipe suami yang bisa menyakiti istrinya dengan mudah untuk kemudian dengan mudah pula menyesal dan meminta maaf. Alkohol adalah teman dekatnya.

Saat Sigrid Beate berusia 6 tahun, ayahnya memperkosanya. „He first abused me when I was six. As a child I could not tell my father "no", and I became the victim of this perverted desires”, begitu pengakuan Sigrid Beate tentang peristiwa yang membuatnya mengalami trauma fisik dan psikis luar biasa. Itu tidak hanya terjadi sekali, melainkan berkali-kali. Semua dilakukan di kandang kuda milik keluarga. Sigrid Beate dibujuk dengan kucing agar dia mau menjadi objek nafsu ayahnya. Ayahnya pun mengancamnya untuk menutup mulut, karena jika Sigrid Beate bercerita pada seseorang, ibunya akan mati. Sejak peristiwa itu, hidup menjadi sesuatu yang menakutkan bagi Sigrid Beate. Dia tumbuh bersama ketakutan-ketakutan pada ayahnya dan dengan kesakitan yang hanya bisa dirasakannya sendiri. Trauma berat itu menjadikannya gadis yang sangat pendiam dan menutup diri. Dia merasa dirinya „berbeda“ dibandingkan dengan teman-teman sebayanya.

Saat berusia 16 tahun, dia akhirnya bisa berkata „tidak“ kepada ayahnya dan memutuskan untuk menceritakan semua kepada ibunya. Dilema keluarga, cinta dan benci membuat si ibu tidak bisa memutuskan untuk lepas sepenuhnya dari laki-laki yang telah menodai anaknya sendiri. Walaupun kemudian mereka bercerai, ini pun memerlukan proses yang lama. Ini bukan akhir dari cerita.

Sigrid Beate berusaha bangkit sendiri dari trauma masa lalunya dan traumanya terhadap laki-laki. Sampai suatu saat dia bertemu dengan Tornbjorn, laki-laki yang membantu menumbuhkan kepercayaan dirinya kembali, dan akhirnya menikah serta memberinya anak laki-laki bernama Tobias. Usaha keras Sigrid Beate belum sepenuhnya tuntas saat ayahnya muncul kembali ke dalam kehidupannya. Di saat itulah dia memutuskan untuk „menghilangkan bayangan, tubuh dan bau ayah“ dari kehidupannya dengan menusukkan pisau di leher ayahnya.

Dia menyesal sudah membunuh ayah kandungnya sendiri, karena mungkin itu bukan cara yang terbaik untuk mengobati traumanya. Namun, jika dia mengingat kesakitan yang diakibatkan oleh ayahnya, Sigrid Beate merasa tidak punya pilihan lain.

Saat ini, satu dari sepuluh anak di Norwegia menjadi korban pelecehan seksual. Kebanyakan kasus ini dilakukan oleh orang-orang terdekat mereka dan orang yang mereka percayai. Kejadian serupa pun banyak ditemukan di Indonesia.

Film ini memenangkan perhargaan utama di Main Competion One World 05: 7th Annual Human Rights Documentary Film Festival di Praha. Pertimbangan juri adalah film ini mengangkat tema yang tabu dibicarakan di masyarakat: yaitu masalah incest dalam keluarga.

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s