Sedikit Catatan untuk Hari Pendidikan Nasional (Bagian 2: Guru)

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru/Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku/Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku/Sbagai prasasti trima kasihku tuk pengabdianmu/Engkau bagai pelita dalam kegelapan/Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan/Engkau patriot pahlawan bangsa/Tanpa tanda jasa

Betapa mulia dan berharganya seorang guru yang digambarkan dalam bait-bait lagu di atas. Semua orang memujinya. Namanya akan selalu hidup tak lekang ditelan waktu. Bakti yang diukir jadi prasasti. Pengabdian tanpa kenal pamrih. Membuat seorang guru menjadi pelita saat kita berjalan dalam gelapnya ketidaktahuan. Menjadi embun yang menyejukkan saat kita dahaga akan ilmu. Guru tak ubahnya pahlawan. Pahlawan tanpa tanda jasa.

Ya, siapa yang memberi guru tanda jasa? Disematkan bintang di dada? Paling hanya sebagai tanda dia sudah mengabdi sebagai abdi bangsa sekian tahun. Setelah itu apa? Sepertinya setelah itu tidak terjadi apa-apa. Bintang hanya sekedar bintang yang disematkan di dada. Dijual saat perlu uang untuk makan pun tak akan laku.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa seseorang menjadi guru –di Indonesia- karena sudah tidak bisa mendapat pekerjaan lagi. Guru dengan gaji yang kecil. Guru yang tetap diprotes sana sini karena banyak memberikan les di luar jam sekolah atau „berbisnis“ di luar. Menjual buku pelajaran misalnya atau cari obyekan lagi. Entah apa. Yang penting bisa makan. Keluarga bisa bertahan hidup. Murid di kelas? Cukup diberikan pelajaran seadanya. Toh waktu yang diberikan cuma sedikit. Tidak perlu persiapan mendalam. Kalau mereka perlu, orang tuanya bisa membayar les tambahan.

Tak heran jika pendidikan di Indonesia begitu terpuruk. Namun, kesalahan tidak bisa ditimpakan semua kepada guru. Mereka sudah cukup berbakti. Walaupun dengan imbalan tak pasti. Sering kurang daripada lebih. Padahal perut masih harus terus diisi. Belum lagi keluarga di rumah yang menanti dibagi.

Saya tidak akan berputar mencari siapa yang salah di sini. Seperti sudah diungkap dalam tulisan sebelumnya, masalah sudah berputar seperti lingkaran setan. Yang diperlukan sekarang adalah bagaimana mencari solusi agar pendidikan di Indonesia bisa bangkit. Pelan saja, tapi pasti dan menjejak bumi. Sebagai seorang yang percaya bahwa segala sesuatu itu bermula di diri, saya yakin, jika setiap diri ingin berubah menjadi lebih baik, maka perubahan pun akan terjadi. Seminimal apapun itu.

Guru. Menjadi guru. Kenapa orang menjadi guru? Pertanyaan itu saya ajukan ke diri saya sendiri. Kenapa saya menjadi guru? Saya sulit menjawabnya. Saya malah balik bertanya: mau jawaban jujur atau jawaban klise? Saya memilih jujur, tidak mau membohongi diri. Pertama mungkin karena saya senang diperhatikan. Menjadi guru adalah menjadi pusat perhatian di kelas. Kedua mungkin karena saya tidak suka keterikatan. Dengan menjadi guru saya masih bisa bebas ke sana ke mari, tidak terikat jam kerja dari jam 9 sampai jam 5. Ketiga mungkin karena saya pemalas. Dengan menjadi guru saya bisa mengatur jadwal saya sendiri dan bisa lebih banyak berada di rumah dengan keluarga saya. Keempat saya mengajar di sebuah universitas negeri di Bandung, kesempatan untuk berkembang pasti lebih besar. Kelima, karena saya perlu bekerja dan mendapat uang. Tidak mungkin minta terus pada orang tua, dan jadi guru tampaknya lebih mudah untuk mendapatkan uang. Walaupun tidak banyak.

Semua alasan di atas sangat pribadi. Semua untuk kepentingan saya. Namun, kalau saya menjawab ingin mengabdikan diri pada bangsa, jadi pahlawan tanpa tanda jasa, ingin berbagi ilmu, ingin mendidik anak bangsa sebagai generasi penerus, ingin turut membangun negara, guru adalah pekerjaan mulia, dan sebagainya, saya kok merasa munafik. Membohongi diri saya sendiri. Saya tak sekuat itu. Saya tak semulia itu. Saya tidak punya energi cukup untuk mencapai tujuan semulia itu. Tenaga, pikiran dan waktu saya masih harus saya bagi-bagi.

 

Kalau begitu kenapa saya tetap menjadi guru? Bukankah jika ingin diperhatikan kita bisa memintanya dari orang lain? Jika ingin bebas dan lebih banyak di rumah ya tidak usah bekerja. Jika ingin dapat uang banyak, jangan jadi guru yang gajinya kecil, kerja saja di tempat lain. Namun, saya tetap menjadi guru. Itu semua karena saya mengalami ekstasis luar biasa saat saya mengajar di depan kelas. Saya lebur di dalam dunia kecil saya dan mahasiswa saya. Saya merasakan kebahagiaan luar biasa saat saya menyiapkan bahan, menyampaikannya, atau saat mengoreksi diiringi senyum atau kerutan di kening. Saya merasa bersemangat saat menelusuri dunia kecil di mata mahasiswa-mahasiswa saya. Lagi-lagi alasannya sangat pribadi. Kemudian saya merasakan, bahwa factor-faktor lain kemudian mengikuti. Perhatian, kesempatan, uang. Semua diawali dengan cinta.

Kembali ke fenomena menjadi guru di Indonesia. Menjadi guru di Indonesia kadang tidak perlu pendidikan formal yang memadai. Tidak kuliah di IKIP pun bisa. Akibatnya dari segi metodik dan didaktik, apalagi pedagogik, sangatlah kurang. Hanya berbekal pengalaman trial and error. Kuliah di IKIP pun belum tentu menjamin bisa jadi guru yang “baik” (pengertian “baik” ini juga sangat relatif, saya tidak mau membahasnya di sini). Teoretis mungkin iya, tapi praktek? Rasanya masih kurang. Cukup berbekal pengetahuan yang didapat lebih dulu, mereka terjun ke lapangan. Mengajar. Mendidik? Belum tentu.

Dalam rangka tindak lanjut dari ekskursi mahasiswa Jerman di Universitas Bayreuth ke Bandung, Samarinda dan Balikpapan, kami membuat kuesioner evaluasi. Dari hasil kuesioner yang diisi oleh beberapa guru di Bandung, Samarinda dan Balikpapan, saya mendapat jawaban yang kurang lebih sama. Mereka menjadi guru karena:

merasa memiliki tanggung jawab moral kepada generasi penerus

keinginan dan permintaan orang tua,

tuntutan jiwa,

kurangnya tenaga guru di daerahnya,

keinginan diri sendiri,

menjadi guru itu menyenangkan dan membuat mereka bisa dekat dengan murid serta bisa mengetahui karakter mereka,

kebetulan,

ingin mendidik generasi muda menjadi lebih baik dan ingin menransfer ilmu,

ingin lebih mendalami bidang ilmunya,

sudah jadi cita-cita sejak dulu,

ikut teman,

latar belakang keluarganya yang juga guru,

sesuai dengan jurusan dia saat kuliah,

guru adalah pekerjaan yang menarik,

menjadi guru adalah satu-satunya peluang untuk bisa cepat mendapat kerja sesuai dengan latar belakang pendidikan,

untuk mengembangkan ilmu pengetahuan,

ingin bekerja dan lowongan yang ada hanyalah lowongan menjadi guru,

ingin beribadah dan bekerja,

guru adalah pekerjaan yang mulia,

ingin mengabdi kepada nusa dan bangsa,

terpaksa, menjadi guru bukanlah tujuan utama,

ingin mencerdaskan dan menanamkan nilai-nilai budi pekerti kepada anak bangsa,

untuk memenuhi kebutuhan ekonomi,

ingin mencapai kepuasan batin,

mengisi formasi guru.

Saya memang tidak bisa menggeneralisasikan jawaban-jawaban di atas, karena mereka hanya sedikit wakil dari banyak guru di Indonesia. Namun, terus terang, saat saya membaca jawaban-jawaban tersebut, saya merasa sedih dan teriris. Betapa tugas menjadi guru akan menjadi sedemikian berat jika mereka “dibebani“ tujuan-tujuan dan „tanggung jawab“ yang kebanyakan datangnya dari luar. Mengabdi kepada negara. Imbalan apa yang didapat dengan pengabdian mereka puluhan tahun? Tidak ada. Mencerdaskan anak bangsa? Bisakah dengan buku-buku yang tak terjangkau harganya dan uang sekolah yang melonjak? Memiliki tanggung jawab moral kepada generasi penerus? Guru bukan Atlas yang menanggung dunia. Pun jika pada akhirnya generasi penerus itu hancur karena untuk pergi ke sekolah pun mereka tak punya uang. Karena di rumah pun mereka tidak mendapat kasih sayang dan pendidikan yang cukup dari orang tuanya. Kenapa “beban berat dunia” itu seakan dibebankan kepada guru semata? Apa yang didapat guru itu? Sangat sedikit. Padahal, guru juga perlu hidup. Guru pun bisa merasa lelah dan capek.

Tujuan mulia itu akhirnya lambat laun menghilang, digantikan dengan ikut teman, mengisi formasi, lowongan kerja yang ada hanya menjadi guru, agar bisa cepat dapat kerja, ikut keinginan orang tua. Apakah ada niat yang kuat dari itu? Tidak ada. Pekerjaan hanya sekedar pekerjaan. Tanpa jiwa. Tanpa cinta. Semua dilakukan karena orang lain. Bukan untuk dirinya. Bagaimana dengan kepuasan batin dan tuntutan jiwa atau keingintahuan yang lebih banyak terhadap manusia lain di hadapannya atau memperdalam ilmunya? Ada juga, tapi sangat sedikit dari sekian banyak guru yang mengisi kuesioner itu. Aktualisasi diri. Itu yang hilang.

Akibatnya apa? Akibatnya semua dilakukan sekedarnya. Bahan disampaikan. Selesai. Apakah anak mau mengerti atau tidak, itu urusan lain. Itu terlihat dari jawaban untuk pertanyaan tentang persiapan apa yang mereka lakukan saat akan mengajar, bagaimana metode yang mereka pakai dan apakah mereka terpaku pada kurikulum baku atau mencoba berekspresi sendiri sesuai dengan kebutuhan kelas dan muridnya. Hampir semua melakukan persiapan hanya 50 %, mereka tidak tahu pasti apa yang mereka harus “tampilkan”, berpatokan baku pada kurikulum, yang penting adalah bahan tersampaikan. Tidak bisa disalahkan kenapa begitu. Ada banyak alasan, yang membuat mereka tidak sepenuhnya ada dalam pekerjaan mereka. Mereka hanya punya pekerjaan itu, tapi mereka tidak ada di dalamnya. Dari sisi tujuan saja sudah tampak jelas, belum lagi factor-faktor lain. Terutama faktor ekonomi. Tak bisa ditawar. Hidup sudah cukup keras. Memikirkan orang lain? Murid? Orang tua yang mampu bisa membayar untuk les tambahan. Kalau orang tuanya tidak mampu? Tidak usah pergi sekolah. Mahal.

Yang kemudian terjadi adalah saling silang yang rumit. Masalah tidak terselesaikan. Kurikulum yang sudah cukup bagus tidak bisa tersampaikan dengan baik karena gurunya tidak memiliki tujuan dan kompetensi yang memadai. Kenapa? Kuliah saja susah, prakteknya saja kurang. Buku-buku penunjang saja sulit. Padahal, di era teknologi sekarang ini, jika guru tidak terus menerus menambah ilmunya dan tidak terus mengaktualisasikan diri, murid-murid yang punya kesempatan dan sarana seperti komputer dan internet bisa menjadi lebih pintar dari gurunya. Apakah kemudian guru tetap menjadi “pelita dalam kegelapan” atau “embun penyejuk dalam kehausan”. Mungkin kata guru bisa disubstitusi dengan internet. Bukankah menyedihkan? Tapi bagaimana bisa mengembangkan diri kalau uang gaji pun hanya cukup untuk ongkos pulang pergi ke sekolah atau kampus dalam seminggu? Bukankah masih ada tiga minggu yang lain yang harus dijalani untuk pulang dan pergi? Bukankah guru juga harus makan dan tetap sehat?

Fenomena saling silang ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Saya rasa, masalah ini juga terjadi di mana pun.Tidak ada yang salah dalam hal ini, karena setiap individu memiliki alasan, tujuan dan kemampuan yang berbeda. Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Saya tidak berharap banyak, masalah rumit pendidikan Indonesia bisa diselesaikan dalam waktu cepat. Tidak mungkin. Saya hanya bisa memulainya dari diri saya sendiri. Menjadi guru adalah pekerjaan “gila” yang membutuhkan banyak sekali pengorbanan dengan penghargaan yang minim. Agar saya tidak stress dan “gila”, saya lebih suka kembali ke tujuan awal saya menjadi guru. Saya ingin diperhatikan. Agar saya diperhatikan saya ingin terus menerus membuat “penampilan” yang lebih baik dari hari ke hari. Dengan demikian sudah seharusnya saya harus berusaha keras untuk membuat “penampilan” saya berbeda setiap waktu, dengan isi tampilan yang semakin baik. Dengan demikian mudah-mudahan mahasiswa saya bisa mengambil sesuatu dari “penampilan” saya. Terdengar narsistis mungkin, tapi tak apalah. Hanya itu yang saat ini bisa saya lakukan. Sesuai dengan kemampuan saya. Saya hanya punya cinta.

Bayreuth, 030506

18:43

Advertisements

Ein Gedanke zu „Sedikit Catatan untuk Hari Pendidikan Nasional (Bagian 2: Guru)

  1. saya sependapat dengan tulisan yang anda muat, memang sudah tidak menjadi rahasia umum kalau orang menjadi guru karena tidak ada pekerjaan yang lain, namun pertanyaannya apakah harus seperti itu?
    kita sadar bahwa kita/guru butuh uang,butuh pekerjaan namun marih kita luruskan niat kita menjadi guru jangan karena tidak ada pekerjaan yang lain,karena menurut saya jika seorang guru dalam mendidik dengan penuh keihlasan maka rizki akan dibukakan jalannya oleh yang maha kuasa entah dari mana itu jalannya, ini tlah saya rasakan dimana orang tua saya seorang guru, beliau tidak pernah meminta sepeserpun bayaran dari muridnya, namun berkat keiklasannya kini beliau dapat membiayai anak-anaknya sampai keperguruan tinggi

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s