Sedikit Catatan untuk Hari Pendidikan Nasional (Bagian I: Kurikulum)

Sudah setahun saya menjadi HiWi (Studentische Hilfskraft) di Jurusan Didaktik der Chemie Universitas Bayreuth. Jurusan itu akan mengadakan ekskursi ke Jurusan Kimia UPI dan Universitas Mulawarman serta kunjungan ke sekolah-sekolah di Bandung, Balikpapan dan Samarinda. Selain menerjemahkan ke dalam Bahasa Jerman kurikulum pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, khususnya pelajaran Kimia, yang dibuat oleh Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, menerjemahkan program komputer pelajaran Kimia untuk anak-anak ke dalam Bahasa Indonesia, saya pun mendapat tugas untuk memberikan pengarahan dan pelatihan tentang bahasa dan budaya Indonesia (budaya dalam pengertian luas).

Dari pekerjaan itu saya mendapatkan banyak sekali pelajaran dan masukan yang berharga. Tidak hanya untuk kemampuan berbahasa saja, tetapi yang lebih utama adalah untuk intensitas ketertarikan saya yang lebih dalam pada masalah pendidikan di Indonesia. Berjarak secara ruang dan waktu membuat saya bisa melihat secara lebih objektif dan dari berbagai macam sudut pandang tentang apa yang terjadi dengan pendidikan di Indonesia. Pendidikan yang seharusnya menjadi batu pijakan bagi kokohnya bangun diri dan bangsa.

Masalah pendidikan di manapun tetap menjadi sorotan. Saya hanya akan membatasinya pada masalah pendidikan di Indonesia, yang tampaknya sudah menjadi masalah yang saling berkait memutar bak lingkaran setan. Sebagai orang yang terlibat di dalam dunia pendidikan baik secara formal dan informal, saya selalu merasa terpanggil untuk menyelami masalah tersebut lebih dalam. Catatan ini pun bersifat umum saja.

Apa yang salah dengan pendidikan di Indonesia? Pemerintahnyakah? Sistemnyakah? Kurikulumnyakah? Gurunyakah? Muridnyakah? Rasanya jika ditelusuri satu-satu, saya jadi skeptis sendiri. Begitu banyaknya, akar permasalahannya sudah tidak jelas lagi. Terus terang saya tidak punya energi yang cukup besar untuk mengurai semuanya. Sehingga saya akan membatasi pada fenomena yang tampak saja, tidak akan melihat kaitannya dari sisi sejarah, politik, ekonomi atau psikososialnya. Saya pun akan membatasi pada dua hal saja, yaitu kurikulum dan guru, karena saya terlibat penuh langsung secara fisik dan psikis dengan kedua hal itu.

Tentang kurikulum pendidikan di Indonesia. Saya mungkin harus berkilas balik dulu sejenak pada saat saya sekolah dan kuliah. Pada saat saya mengalami perubahan kurikulum tahun 80-an saat masa Daoed Joesoef, sampai ke masa kurikulum CBSA (yang plesetannya macam-macam) masa Nugroho Notosusanto dan Fuad Hasan (setelah kedua orang itu, saya tidak pernah hafal lagi nama menteri pendidikan di Indonesia). Sampai kemudian saya kuliah dengan menggunakan sistem SKS. Apa yang saya dapat dari kurikulum SD, SMP dan SMA? Terus terang saat itu saya hanya merasakannya sebagai beban. Saya adalah seorang murid yang sangat tidak suka menghafal, sementara semua mata pelajaran menuntut saya menghafal. Dulu saya merasa, banyak sekali yang harus saya pelajari saat sekolah. Bebannya cukup berat juga. Sampai-sampai saya mengalami sindroma takut sekolah pada hari-hari tertentu. Tidak ada mata pelajaran yang saya sukai benar, kecuali mungkin pelajaran sejarah, itupun dengan kekecualian: tanpa menghafal tahun. Bagaimana dengan CBSA tadi? Yang katanya singkatan dari Cara Belajar Siswa Aktif? Tidak terasa manfaatnya. Apa yang saya dapat dari kurikulum pelajaran yang padat, namun tak mendalam tersebut? Saat itu saya tidak merasakannya.

Apakah kemudian ada yang berubah sekarang? Ya. Seperti yang saya tulis di atas, berada jauh di negara orang, pengalaman berkuliah di sini, mendapat pekerjaan membandingkan kurikulum, membuat saya bisa melihat dengan lebih objektif lagi. Apa yang saya lihat? Saya lihat kurikulum di Indonesia ternyata tidak seburuk yang dikeluhkan banyak orang (dan juga oleh saya dulu).

Benarkah? Saya beri gambaran sedikit saja. Tema-tema dalam mata pelajaran yang diberikan di sekolah-sekolah di Indonesia itu umumnya banyak dan umum. Misalnya untuk pelajaran geografi dan sejarah. Mata pelajaran sejarah di Indonesia tidak hanya mencakup sejarah Indonesia atau negara-negara sekitar, tetapi juga sejarah dunia. Murid-murid di Indonesia tahu bahwa Cina, India, Mesir, Babilonia adalah beberapa kerajaan tertua di dunia. Murid-murid di Indonesia tahu bagaimana sejarah kolonialisme dimulai. Begitu juga dengan pelajaran geografi. Murid-murid di Indonesia tahu bahwa Jerman terletak di Eropa. Ibukota Uruguay adalah Monte Video dan terletak di Amerika Selatan. Masih banyak lagi hal lainnya. Semua dipadatkan dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, yang saat ini dikeluhkan oleh kebanyakan orang tua murid, muridnya sendiri (walaupun mungkin dalam hati saja atau dalam obrolan dengan teman), juga jadi keluhan anggota masyarakat lainnya.

Sedemikian jeleknyakah? Ternyata tidak. Tanyakan pada anak-anak Indonesia yang kemudian mendapat kesempatan bersekolah di luar negeri. Kebanyakan dari mereka menjadi yang terbaik di kelasnya. Kenapa? Pengetahuan mereka umumnya lebih banyak dari teman-teman sekelas mereka. Malah kadang mereka „mengeluh“, bahwa pelajaran yang mereka dapat di sekolah mereka terlalu „mudah“. Sudah bukan hal yang aneh lagi jika mereka sering mendapat pertanyaan „bodoh“ dari teman-temannya tentang di mana letak negara Indonesia. Atau ungkapan heran bahwa orang Indonesia menulis dengan menggunakan huruf latin, tidak seperti Jepang dan Cina. Jangan salah, fenomena ini tidak hanya ditemukan pada anak-anak saja, tetapi juga pada orang dewasa. Mereka bertanya bukan karena bermaksud menghina, tetapi karena mereka memang tidak tahu. Kendala yang dialami murid-murid Indonesia yang bersekolah di luar negeri mungkin masalah bahasa serta masalah mengekspresikan diri dan menuangkan pendapat. Murid-murid di Indonesia tidak terlatih. Namun, ini pun biasanya bisa cepat dipelajari, terutama jika si murid mau belajar.

Tidak terlalu jelek kan? Selain pengalaman pribadi, saya semakin yakin saat saya membandingkan kurikulum pelajaran kimia di Indonesia dan Jerman. Berdiskusi banyak dengan ketua jurusan Didaktik der Chemie tentang kurikulum di Indonesia dan di Jerman membuat saya sadar, untuk masyarakat dan manusia Indonesia yang „terbiasa“ melihat sesuatu dengan umum (banyak faktor yang mempengaruhinya), maka kurikulum yang dibuat sudah cukup baik. Artinya kurikulum yang meliputi semua. Berbeda dengan masyarakat dan manusia Jerman yang “terbiasa” dengan pola berpikir dialektik, maka kurikulum yang „hanya“ mencakup beberapa hal saja, tetapi dibahas secara mendalam, adalah yang paling tepat. Idealnya tentu menyeluruh, tapi mendalam. Namun, itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu sinergi dan kerjasama yang kuat dan saling mendukung dari banyak sekali pihak. Belum lagi masalah sistem, kebijakan, terutama masalah keuangan.

Memang tampaknya masih banyak hal abstrak yang ditemui dalam kurikulum tersebut, tetapi jika diperhatikan benar, kurikulum pendidikan di Indonesia saat ini masih tepat untuk kondisi dan pola pikir orang Indonesia. Yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana aplikasinya? Bisakah kurikulum yang cukup baik itu disampaikan dengan baik pula? Ini masalah yang cukup pelik yang sampai sekarang masih harus dicari penyelesaiannya. Masalah ini tidak hanya ditemui di Indonesia, tetapi juga diseluruh dunia.

Pertanyaan tersebut tampaknya ditujukan kepada guru yang menjadi mediator penyampai dan pelaksana kurikulum tadi dengan murid.

(Bersambung)

Advertisements

8 Gedanken zu „Sedikit Catatan untuk Hari Pendidikan Nasional (Bagian I: Kurikulum)

  1. Salam kenal mbak dianekawati… maaf kalau salah sebut.
    Membaca tulisan di atas saya jadi pengen ngerti hasil perbandingan baik persamaan dan perbedaan kurikulum pelajaran kimia di Jerman dengan Endonesa. Maksud saya adalah bagaimana muatan, isi kurikulum, praktis pengajaran dan metode belajar yg di gunakan siswa di jerman.
    Maklum saya tidak banyak tahu tentang kondisi pengajaran kimia di negara lain. (Lah wong bahasa asing aja gak ngerti blassssss).
    Kapan2 kalo ada kesempatan dan kesediaan mbak dianekawati saya pingin banyak bertanya lagi. id ym mr.urip

  2. Salam kenal mbak Di,
    Tulisan mbak sangat menarik. Secara keseluruhan saya setuju dengan pendapat mbak bahwa pelajaran yang banyak dan umum masih cocok dan baik untuk kurikulum sekolah di Indo, seperti sejarah, geografi dsb. Hanya saja, dari pelajaran yang sangat banyak itu ada bebrapa plajaran yang menurut saya kurang penting seperti PMP atau PPKn, ketrampilan dan bhs Indo yg justru jam belajarnya paling banyak. Kalau memang tidak bisa banyak dan mendalam sebaiknya juga jgn terlalu banyak dan dangkal. Kalau pelajaran yang kurang penting dikurangi mungkin yg lain bisa lebih dalam pembahasannya.

    Satu hal lagi yg ingin saya tanyakan terkait dengan ketidak sukaan mbak menghafal waktu SD :), bagaimana menurut mbak metode menghafal dalam belajar? Dan sejauh apa pentingnya menghafal?. Anak2 sekarang cenderung ogah utk menghafal dan ini didukung oleh org tua mereka dan beberapa pakar pendidikan yang menyatakan bahwa belajar bukanlah menghafal tapi memahami.

  3. salam mba diana,
    saya salah satu mahasiswa UPI Tasikmalaya (cabang bandung). saya sangat tertarik dengan ulasan Mba. KurikulumIndonesia banyak dipengaruhi oleh politik. banyak sekali orang politik yang bermain di sini. contohnya setiap ganti mentri, pasti kurikulum dan perangkatnya banyak dirubah. sangat memprihatinkan bangsa indonesia. tidak berfikir panjang ke arah yang lebih matang.
    Mba, yang saya tanyakan dari ulasan diatas. apa saja perbandingan kurikulum yang ada di indonesi dari tahun 1068-2006? mohon jawab dan kirim ke e-mail saya.
    terimakasih

  4. salam kenal bwt mba dian..
    saya mahasiswi dari sebuah PTN di Solo. mau tanya analisa dan pendapat mba dian tentang semua kurikulum yang ada atau yang sudah berlaku di Indonesia(sampai pada KTSP).
    mohon kirim jawabannya ke e-mail saya.terima kasih.

  5. salam kenal buat mba Dian. saya sangat senang membaca
    artikel yang mba tuliskan karena terus terang sebelumnya saya agak apriori terhadap kurikulum di Indonesia, beban belajar yang banyak sehingga seolah-olah siswa dijejal dengan pengetahuan yang kayaknya ga tertampung lagi dalam benak mereka. tapi saya merasa sudah ada perbandingan bawha kurikulum dinegara kita ga jelek-jelek amat bila dibandingkan dengan negara jerman. tapi saya punya pertanyaan tentang bagaimana proses kurikulum itu diterapkan disekolah terutama bagi saya Guru Bahasa Inggris di SMP. mohon kirim jawaban ke e-mail saya ya mbak. thanks….

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s