Mardi Grass: Made in China


Film yang dibuat tahun 2004 oleh David Redmont dari USA ini mengisahkan kehidupan para perempuan pekerja pabrik di Cina, tepatnya di daerah Fujian. Mereka adalah pembuat kalung manik-manik dan hiasan-hiasan untuk karnaval. Hasil pekerjaan mereka dijual ke seluruh dunia, terutama ke Amerika. Kalung manik-manik dan hiasan ini biasanya dipakai di acara karnaval tahunan Mardi Gras di kota New Orleans. Kalung-kalung ini diberikan sebagai „hadiah“ bagi mereka yang „rela“ mempertunjukkan buah dada dan alat genitalnya. Semakin berani mereka „menelanjangi tubuhnya“, semakin banyak kalung yang mereka dapat, semakin „berartilah“ mereka.


Film dibuka dengan peristiwa karnaval ini, orang yang bersuka cita, sambil berpesta pora, menari dan membuka pakaian mereka satu demi satu: laki-laki dan perempuan. Beberapa orang dari mereka diwawancarai dan ditanya apakah mereka tahu darimana asal kalung-kalung yang mereka pakai. „I don’t know and I don’t wanna know. It’s Mardi Grass. It’s time to having fun” atau “It’s a funny question. Who cares?” begitu rata-rata jawaban anak-anak muda yang sedang sibuk berpesta pora. Tak ada yang peduli dan mau tahu, bahwa nun jauh di belahan bumi yang lain, di sebuah pabrik yang termasuk 10 pabrik terbesar di Cina, bekerja ratusan perempuan muda seusia mereka, bahkan banyak yang lebih muda. Mereka bekerja 12 jam sehari, seringnya lebih. Mereka bekerja non-stop, hanya beristirahat makan siang selama 60 menit, tanpa boleh berbisik sekalipun. Berbisik saja sudah berarti hukuman berupa potongan upah, apalagi berbicara atau berbincang sejenak. Kuota harus dipenuhi, dengan kuantitas dan kualitas yang dikontrol ketat oleh si pemilik pabrik. „Hukuman itu baik untuk mereka, agar mereka bekerja dengan baik“, ujar sang pemilik pabrik. Punishment, kata yang sering diucapkan olehnya. Punishment, punishment, punishment.

Pekerjaan yang mereka lakukan cukup berat dan memerlukan kesabaran serta ketelitian tinggi. Memasang manik-manik, merangkainya, melukis hiasan untuk karnaval, memang cocok dilakukan oleh perempuan. Namun, alasan lain memilih tenaga kerja perempuan adalah karena upah yang diberikan untuk mereka bisa jauh lebih kecil. Tak ada protes dari mereka, walaupun pekerjaan dengan mesin tanpa alat pengaman cukup membahayakan mereka. Salah-salah, tangan mereka bisa masuk ke mesin pemotong kalung atau terbakar di mesin pelebur jarum atau terpotong bersama gips yang mereka bentuk jadi suatu figur. Tak ada protes dari para pekerja perempuan itu, walaupun kesalahan kecil saja bisa berarti punishment berupa potongan upah sehari. Tak ada protes dari mereka, yang bekerja karena „saya ingin membantu orang tua saya“ atau karena „senang bisa mendapatkan uang sendiri“. Tak ada protes dari mereka, yang hanya mendapat libur pada hari minggu saja. Mereka tetap bersenda gurau di malam hari bersama-sama di dalam satu „barak“. Menari-nari, bernyanyi, bahkan belajar bahasa Inggris. Rata-rata dari mereka adalah perempuan berusia sekitar 15 sampai 25 tahun. Upah yang mereka dapat biasanya mereka kumpulkan dan diberikan kepada orang tua mereka. Mereka berharap bahwa suatu saat mereka bisa menabung cukup banyak. Uang itu kelak bisa dipakai untuk membeli tanah, membuat rumah, membeli mobil dan nantinya untuk membuat pabrik sendiri. Harapan yang mungkin akan sangat sulit diwujudkan, karena upah mereka sebulan hanya kurang dari 2 US $.

David Redmont berusaha menghubungkan konsumen Amerika dan pekerja wanita di Cina dengan cara yang personal. Kalung manik-manik ini menjadi benang merah dari potret konstruksi realitas sosial di Cina dan Amerika, juga menjadi metafora bagi struktur globalisasi yang semakin memperjelas jurang ketidakseimbangan sosial di masyarakat dunia saat ini.

Gambar-gambar yang dibuat berdampingan antara pekerja perempuan di Cina dan anak muda New Orleans yang sedang berpesta, membuat kesan ironis tampak jelas. Begitu juga musik dari karnaval yang ditingkahi dengan suara mesin di pabrik, semakin memperkuat kesan ini.

Kepada anak-anak muda New Orleans diperlihatkan gambar-gambar pekerja perempuan di Fujian yang membuat kalung-kalung itu untuk mereka. Kalung yang kemudian hanya menjadi sampah. Kalung yang mereka beli di K-Mart atau Walmart seharga 3 kali upah pekerja tersebut. Ada yang merasa tak enak hati setelah melihat gambar tersebut, tetapi banyaknya tidak peduli. “It’s Mardi Gras”. Ya, ini Mardi Gras. Untuk apa peduli.

Para perempuan pekerja itu tentu saja tidak tahu kemana kalung-kalung yang mereka buat dipasarkan. Saat diperlihatkan kepada mereka gambar-gambar anak muda yang berpesta pora lengkap dengan kalung-kalung buatan mereka, mereka hanya tertawa heran dan geli. “Kalung-kalung itu kan jelek, kenapa saat dipakai oleh mereka menjadi bagus, ya?” begitu keheranan mereka ungkapkan. Mereka pun menertawakan orang-orang yang rela telanjang hanya untuk mendapatkan kalung-kalung tersebut.

Bagi mereka, kalung-kalung itu bermakna sesuatu yang pahit dan berat. Itulah mengapa kalung-kalung itu menjadi tampak begitu buruk. Bagi mereka, kalung-kalung itu berarti bekerja 12 jam sehari tanpa boleh berbisik sekali pun. Bagi mereka, kalung-kalung itu adalah sebagian kecil dari proses perjuangan hidup yang berat dari hari ke hari. Bagi mereka, kalung-kalung itu adalah hidup. Tapi tidak bagi anak-anak muda New Orleans. Mungkin tidak hanya bagi mereka saja, tetapi mungkin juga bagi kita. Sesuatu yang berarti hidup untuk seseorang, belum tentu bermakna sama bagi yang lain. David Redmont menampilkannya dengan gamblang dan menohok.

Advertisements

4 Gedanken zu „Mardi Grass: Made in China

  1. film ini menampilkan satu bentuk kekerasan dan ketidakadilan terhadap perempuan. pfofisiat kepada David Redmont yang telah menguak ke permukaan segala bentuk penyelewengan sepert ini. kiranya kita dapa belajar dari kesalahan masa lampau untuk lebih menghargai dan menghormati martabat kaum perempuan di bumi ini.

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s