Aku, Pram dan Lelaki itu (Semacam Obituari)

Ada apa antara aku dan Pramoedya, sehingga saat kubaca berita kematiannya ada yang tercerabut dari hatiku? Bukunya yang kubaca diam-diam sebelas tahun lalu, yang diberikan dengan sembunyi-sembunyi dibungkus kertas koran oleh salah seorang sahabatku? Atau rasa penasaran yang tumbuh sejak SMP saat pelajaran Bahasa Indonesia: Pram diasingkan karena dia -katanya- komunis? Atau keheranan yang tumbuh karena menurutku tidak ada sesuatu pun dari buku-bukunya yang harus dilarang? Atau bahasanya? Temanya? Perlawanannya? Karena dia „orang besar“? Karena dia pernah dinominasikan sebagai penerima Nobel? Karena dia sastrawan besar? Karena dia humanis? Ataukah karena pertemuanku dengannya?


Ah, itu semua rasanya terlalu „sama“ dan „biasa“ seperti yang lain. Tidak. Pram lebih berarti personal untukku. Sehingga rasa kosong yang tertinggal saat membaca berita kematiannya terasa begitu lengang. Rasa kosong yang dibarengi dengan kesadaran: lepas satu-satu. Pergi. Hidup tidak jatuh di masa lalu. Tapi di saat ini dan untuk masa depan.

Tak berpanjang kata. Pram adalah benang merahku dengan lelaki itu. Seperti juga seorang ibu baik yang „mem-benang merahi-i“ kami, Pram juga jadi bagian rekatan itu. Ketika ibu itu pergi, pelan-pelan hatiku pun menguraikan ikatan dengan lelaki itu. Sekarang, ketika Pram pergi, bagian lain hatiku pun seolah ikut melepas ikatanku dengannya. Menjadi bagian masa laluku saja. Tidak saat ini. Entah nanti. Rasanya kosong.

Suatu hari, sebagai hadiah ulang tahun seminggu berikutnya, kuhadiahi dia secarik print out email tentang Klab Baca Pramoedya. Aku tahu dia akan menemukan „rumah“nya di situ. Dengan Pram di dalamnya. Karena aku tahu aku sudah tidak bisa lagi memberikannya „rumah“. Senang. Seperti yang tampak pada binar di matanya saat ulang tahun setahun sebelumnya dia memintaku manja: minta dibelikan buku. Kubiarkan dia memilih, dan dipilihnya „Arus Balik“. Bahagiaku adalah binar di matanya. Ketika tidak bisa kuberikan lagi binar itu, aku berikan dia „rumah“ baru. Berharap aku masih bisa melihat binar itu muncul, walaupun aku hanya bisa melihatnya dari jauh.

Berbinar dia. Benar. Bersemangat. Hidup lagi. Benar. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Menyaksikan dengan senyum. Seperti seorang ibu menyaksikan anaknya belajar berjalan dan akhirnya bisa berlari kegirangan. Tak ada yang melebihi kebahagiaan itu. Tak ada yang melebihi kebahagiaanku melihat matanya berbinar lagi. Dia asyik dengan „rumah“ barunya. Dengan Pram di dalamnya. Tak apa. Aku senang. Aku tersenyum. Dilibatkannya aku sesekali. Dalam diskusi, dalam tulisannya, dalam percakapan panjang di malam hari. Tentang "Arok Dedes", "Calon Arang", "Korupsi" juga "Jongos dan Babu". Masih ditambah dengan "Makhluk di Belakang Rumah". "Gadis Pantai" dan "Tetralogi Buru" sudah tak perlu dibahas lagi. Begitu pula dengan "Arus Balik" dan "Cerita dari Blora". Minke, Annelies dan Nyai Ontosoroh menjadi sosok akrab seakan sudah berteman lama. Ah, tak banyak. Selebihnya aku hanya memperhatikan mata itu berbinar, bergairah dan bersemangat penuh. Tersenyum senang. Ikut bahagia yang beririsan dengan rasa sedih, yang entah kenapa juga ikut muncul. Dari jauh.

Itu sangat dia. Kukenal betul. Aku tahu, itulah caranya berterima kasih padaku. Pada aku yang sudah memberinya „rumah“ lagi. Aku tahu itu, beberapa waktu kemudian, ketika dia menangis di dadaku, dengan kepala kupeluk erat. Hujan menempias di teras. Dingin mulai merasuk tulang. Rambut yang kubelai, basah oleh air hujan ditingkahi cucuran air mataku. Saat itu, kuminta dia pergi. Meninggalkan „rumah“nya yang lain. “Kau yang memberiku “rumah” itu. Dengan Pram di dalamnya. Seperti apa aku harus berterima kasih padamu? Dan sekarang kau biarkan aku sendiri di “rumah” itu?” begitu ujarnya terbata. Dengan isak yang tak ditahannya. Aku hanya mengelus-ngelus rambutnya yang hitam lebat. Menciumi kepalanya. Dan semakin mengeratkan pelukanku. Tak ingin kulepas dia. Tapi aku harus. Seperti seorang ibu yang melepas anaknya belajar berjalan. Seperti aku yang melepasnya pergi. Menatap punggungnya menghilang pelahan dari tatapanku. Senja itu. Dengan tempias hujan yang sudah berganti menjadi gerimis kecil. Dengan gigil yang mendekap tubuh dan hatiku.

Pram menjadi begitu personal bagiku. Dia menggantikan “rumah”ku untuk laki-laki yang kusayangi melebihi rasa sayangku pada diriku sendiri. Dengan Pram di dalamnya, aku merasa tenang. Setidaknya dia tetap ada di “rumah”. Ah, rasa yang mirip dengan rasa yang dipunya seorang ibu pada anak laki-lakinya. Yang menatapnya cemas saat dia belajar berjalan, namun ada kelegaan tak terhingga saat dia akhirnya berhasil berdiri, berjalan dan kemudian berlari.

Pram membakar lelaki itu. Dia menulis banyak. Dengan Pram sebagai inspirasinya. Untuk Pram tulisan-tulisan itu dibuatnya. Entah kenapa, kadang itu membuatku takut dan cemas, tapi kadang juga bahagia, karena apinya membuat mata itu berbinar lagi. Pram membuat dia hidup. Sekaligus juga mematikannya dalam hal lain. Pram memang jadi benang merah yang samar mengikat dua orang manusia: aku dan lelaki itu. Namun, lambat laun aku seperti tidak mengenalinya lagi. Entah kenapa.

Maka, ketika Pram pergi, benang merah ikatan itu lambat laun makin samar. Untuk kemudian hilang pelahan. Ya, terlalu pribadi untuk memaknai kepergian seorang manusia bernama Pram. Rasa kehilangan yang kosong yang sudah samar muncul sejak tiga tahun lalu. Semakin nyata ketika satu demi satu orang yang menjadi rekatan kami juga pergi.

Tapi mungkin itulah hidup. Tidak jatuh di masa lalu. Tapi di saat ini dan untuk nanti. Pram jadi masa lalu. Dunia dan kemanusiaanku. Romantisme dan sejarah. Setidaknya untukku. Juga lelaki itu.

Rasa kehilangan ini terlalu pribadi. Karena ada ikatan yang aneh antara aku dan Pram, dengan lelaki itu di antaranya. Atau mungkin dia-lah sebenarnya yang mengikatku dengan Pram. Mungkin juga. Aku tidak tahu. Yang aku tahu: hidup berlanjut. Ikatan itu sudah dan sedang pelan-pelan kuurai. Kulepas. Membiarkannya lepas mengikuti ruang dan waktunya sendiri.

Selamat jalan, Pram. Karena yang baik sekarang sedang terbang ke sana. Ke tempat semua tak lagi harus jatuh di masa lalu. Tapi setiap hari terbit dan terbenam. Bak mentari. Pergilah. Seperti kurelakan lelaki itu lebih dulu pergi. Aku masih harus melanjutkan hidup. Juga lelaki itu.

Bayreuth, 020506

Catatan: ini hanya sebuah cerita rekaan super pendek

Advertisements