„Menyaksikan“ Wagner di Neuschwanstein

Perjalanan akhir pekan kemarin masih jadi bagian dari penelusuran jejak Wagner. Setelah Leipzig dan Dresden, dan tentu saja Bayreuth, kali ini yang menjadi tujuan adalah Istana Neuschwanstein milik raja Ludwig II dari Bayern. Selain dalam rangka itu, perjalanan kali ini juga dalam rangka mewujudkan mimpi masa kecil saya, saat melihat gambar istana tersebut dalam kalender yang dipasang di rumah saya dulu. Istana di „negeri dongeng“ yang berdiri megah di atas tebing batu, lengkap dengan menara-menaranya, dikelilingi oleh gunung-gunung dengan salju abadinya serta dilingkupi dengan pohon-pohon berdaun merah, kuning, hijau dan coklat. Semua gambar itu sangat berkesan untuk saya dan selalu membawa kesan yang misterius, magis dan romantis. Gambar „istana dongeng“ dengan pangeran tampan yang menyelamatkan sang putri cantik dari tawanan seekor naga. Itu imajinasi masa kecil saya saat melihat gambar istana tersebut.

Bayangan tersebut berkembang menjadi rasa penasaran, mengingat Ludwig II adalah seorang raja yang sangat memuja Wagner, sehingga istana ini dibuat berdasarkan cerita-cerita dalam opera Wagner. Rasa penasaran bagaimana seorang raja bisa sampai begitu memuja seorang komponis, bahkan sang komponis dihadiahi sebuah tanah dan rumah serta gedung opera untuk mementaskan pertunjukan-pertunjukannya. Tidak hanya itu, istananya pun dibuat berdasarkan karya-karya Wagner, dan dipersembahkan untuknya. Pemujaan yang luar biasa. Mungkin juga berlebihan. Apapun maksudnya, istana ini sudah menjadi karya seni tersendiri pula.

Terletak di kaki rangkaian pegunungan Alpen di perbatasan Austria dan Jerman, dekat kota kecil bernama Füssen, istana ini menjulang megah dan anggun. Di dekatnya terdapat dua danau yaitu Alpsee dan Schwansee. Untuk mencapai istana tersebut, bisa digunakan bis yang akan mengantarkan pengunjung melalui jalan yang berkelok-kelok indah mengelilingi bukit atau dengan menggunakan kereta kuda. Berjalan kaki bisa jadi pilihan juga. Pemandangan di sekitarnya yang indah, memungkinkan berjalan kaki menjadi hal yang menyenangkan, walaupun jalan yang dilalui cukup terjal.

Istana ini adalah istana musim panas yang dibangun Ludwig II di dekat istana musim panas kedua orang tuanya. Batu pertama istana bergaya gotik ini diletakkan pada tahun 1869. Pembangunannya sendiri dihentikan pada tahun 1886, saat kematian sang raja. Begitu terpesonanya Ludwig II terhadap opera-opera Wagner dan legenda bangsa Germania, istana ini pun penuh dengan lukisan cuplikan adegan dari legenda-legenda dan syair-syair abad pertengahan. Di antaranya adalah legenda Lohengrin, sang ksatria angsa. Sejak muda Ludwig bahkan mengidentifikasikan dirinya sebagai Lohengrin. Angsa (Schwan) menjadi lambang kerajaan ini. Angsa yang dalam mitologi Kristen bermakna „kesucian“ juga menjadi Leitmotiv istana ini. Dari mulai pegangan pintu dan jendela, aksentuasi pada tiang-tiang penopang, sampai ke mozaik-mozaik yang dipakai untuk menghias lantai serta kain-kain penutup tempat tidur, kursi dan singgasana sang raja.

Istana ini adalah mimpi sang raja untuk hidup di dalam „negeri dongeng“. Dan ini sudah dimulai dari mulai letaknya yang jauh di atas tebing sampai memasuki ruang-ruang yang ada di dalamnya. Ruang pertama yaitu ruang untuk pelayan yang sangat sederhana dari segi hiasan. Selanjutnya masuk ke ruang depan bawah (unterer Vorplatz) yang bernuansa biru dengan dinding penuh dengan lukisan cerita Sigurd-Sage yang berasal dari kumpulan syair „Edda“. Sage ini bercerita tentang Siegfried dalam legenda bangsa Germania Syair Nibelungen (Nibelungenlied), yang diulangkisahkan oleh Wagner dalam opera siklusnya „Ring des Nibelungen“.

Ruang berikutnya adalah ruang singgasana raja (Thronsaal). Berada di ruangan ini membawa kesan seolah saya sedang berada di sebuah gereja Byzantium. Dan Ludwig II memang terinspirasi oleh Gereja Allerheiligen di München dan Gereja Aya Sophia di Istanbul. Ruangan ini tidak hanya dimaksudkan untuk menerima tamu saja, tetapi Ludwig II memaksudkan ruang ini sebagai ruang pusat yang suci, sebagai tempat khayalannya. Mungkin saja Ludwig II membayangkan dirinya sebagai Gralskönig Parzival jika berada di ruangan ini. Namun, singgasana di ruangan ini tidak pernah berdiri, karena setelah kematian Ludwig II yang misterius di danau Starnberger, pembangunan istana ini dihentikan.

Ludwig II adalah seorang raja penyendiri yang sepertinya lebih memilih hidup dalam „fantasinya“. Dia lebih suka memilih makan sendirian di ruang makannya yang berhiaskan lukisan dari cerita Minnesang. Meja makan di ruangan ini memiliki tempat baki berkaki perunggu yang berukiran tokoh Siegfried sedang berperang dengan naga Fafnir.

Jika ruang duduk istana ini bergaya roman, ruang tidur sang raja dibangun dengan hiasan-hiasan dari kayu bergaya gotik. Dinding di kamar tidur ini dilukis dengan gambar adegan dan tokoh dari opera „Tristan und Isolde“. Akhir dari epos ini adalah diberikannya „racun cinta“ (Liebestrank) oleh Tristan pada Isolde dalam perjalanan membawa Isolde pada calon suaminya: König Marke. Keduanya meminum „racun“ ini dan memilih jalan akhir kematian, karena hanya kematianlah yang bisa menyatukan mereka. Di kamar ini pula, Ludwig II ditangkap pada malam tanggal 12 Juni 1886. Di kamar dengan lukisan dari kisah cinta yang tragis, terjadi pula dimensi tragis dari kehidupan nyata sang raja.

Kamar tidur ini dilengkapi dengan kapel kecil bergaya gotik tempat sang raja berdoa. Altar, dinding dan lukisan kaca di kapel ini menggambarkan kehidupan raja Louis IX dari Perancis yang sangat dipuja oleh Ludwig II. Ruang pribadi berikutnya adalah ruang ganti pakaian sang raja yang berhiaskan lukisan dari cerita Minnesang karya Walther von der Vogelweide dan dari opera Wagner „Meistersinger von Nürnberg“.

Ruang berikutnya adalah ruang duduk. Di ruang ini terdapat juga ruang yang agak menjorok ke belakang yang menjadi tempat favorit sang raja untuk membaca. Ruangan ini dipenuhi gambar dari cerita dalam opera Lohengrin-Sage. Di dalam ruang duduk ini, angsa sebagai Leitmotiv istana tidak hanya terdapat dalam lukisan dinding, melainkan juga dalam tirai, kain pembungkus kursi, taplak meja, patung angsa keramik sebesar angsa asli, gagang pintu serta ukiran di daun pintunya, juga dalam lampu gantung.

Di antara ruang duduk dan ruang kerja terdapat satu ruang berbentuk lorong yang cukup aneh dan istimewa karena tidak berbentuk ruang atau lorong biasa. Ruang yang dinamakan Grotte ini dibentuk seperti gua lengkap dengan stalaktit dan stalagmitnya. Gua tiruan ini terkesan sangat natural karena dilengkapi pula dengan air terjun kecil. Dilengkapi dengan pencahayaan yang redup berwarna biru dan kemerahan (warna daerah Bayern) serta ditingkahi dengan suara gemericik air membawa kesan romantis. Dari ruang ini sayup-sayup bisa terdengar suara musik dari ruang musik (Sängersaal). Ruangan ini rupanya adalah cerminan dari Venusgrotte di Hörselberg dekat Eisenach. Di tempat ini Tannhäuser harus menghadapi godaan Venus. Tentang cerita ini ditemukan di ruang berikutnya, yaitu di ruang kerja sang raja.

Melewati „gua“ ini terdapat bagian yang agak menjorok di sebuah „tebing“. Bagian ini dilengkapi dengan pintu geser dari kaca yang menuju ke Wintergarten istana ini. Dari tempat ini orang bisa melihat pemandangan daerah Alpen Vorland yang indah.

Jika di dalam Grotte saya seperti berada di atas panggung pertunjukan opera „Tannhäuser“, maka di ruang kerja sang raja, cerita opera ini ditampilkan di dinding. Kisah Tannhäuser di dalam Venusgrotte ini membuka opera Wagner „Tannhäuser“, yang selanjutnya digabungkan dengan legenda tentang Sängerkrieg auf der Wartburg. Gabungan dari kedua kisah ini ditemukan di dalam ruang kerja sang raja. Konflik dalam kisah ini seakan juga mencerminkan konflik batin dan hidup Ludwig II yang misterius dan penyendiri.

Di atas meja tulis di ruang kerja ini terdapat hiasan bergambarkan kisah „Lohengrin“. Ludwig II yang benar-benar mengidentifikasikan dirinya dengan ksatria angsa (Schwanenritter) membuat dia meminta Wagner memberikan keterangan detil tentang pakaian sang ksatria dan dia sering berpakaian seperti Lohengrin dalam kisah itu.

Tangga utama di menara utara istana ini berakhir di ruang yang memiliki tiang penyangga utama berbentuk pohon kurma. Ruangan berbentuk setengah lingkaran ini berlukiskan kisah Gudrun, janda dari Sigurd. Ruangan ini juga menjadi penghubung dengan ruang musik (Sängersaal).

Sängersaal adalah ruangan terbesar di istana ini. Ruangan ini berbentuk saal untuk tempat pesta dan dilengkapi dengan sebuah panggung dengan latar belakang lukisan Gralskönig Parzival, ayah Lohengrin. Ludwig II yang sangat katolik mendambakan kesatuan antara peran sebagai seorang raja dan sebagai pendeta. Oleh karena itu ia sangat terpesona pada Parzival yang memenuhi gambaran idealnya tentang kerajaan yang „suci“. Dia bahkan meminta Wagner untuk menampilkan „Parsival“ di dalam pertunjukan perdana Festival Wagner di Bayreuth pada tahun 1882. Namun, musik Wagner tidak pernah sekalipun terdengar di ruang ini pada saat sang raja hidup. Dia tidak sempat menikmatinya, karena dia meninggal sebelum istana ini selesai. Setelah 60 tahun kematiannya, barulah konser musik Wagner dimainkan di ruangan ini.

Ludwig II memang sangat memuja Wagner dan terkagum-kagum pada musik dan operanya. Legenda bangsa Germania dalam opera-opera tersebut begitu kuat tertanam dalam imajinasinya. Keinginannya untuk menampilkan kisah-kisah tersebut dalam rangkaian gambar di ruangan-ruangan istananya mungkin bisa dibilang “gila”. Tapi “kegilaan” kadang bersentuhan pula dengan “kecerdasan” luar biasa. Perlu kemampuan interpretasi luar biasa untuk mewujudkan hal ini. Dibantu oleh para pelukis dan arsitek yang handal, dia berusaha mewujudkannya dalam kesatuan ruang dan gambar.

Berada dalam istana ini memang seperti menyaksikan opera-opera Wagner dalam gambar yang bisu. Gambar bisu yang menyimpan kemisteriusan kisah di balik sosok seorang raja bernama Ludwig II. Sosok bertinggi 1,90 meter, perenang handal yang ditemukan terapung di danau Starnberger di pinggiran kota München bersama dokter pribadinya. Sosok raja yang misterius yang mengidentifikasikan dirinya seperti Lohengrin. Sosok raja dengan „kegilaan“ dan „kejeniusan“ yang obsesif mewujudkan kisah, syair, saga, dan legenda dalam ruang-ruang hidupnya. Membuatnya menjadi lebih terkesan misterius. Berada di istana ini, saya merasakan misteri yang melingkupinya, dingin dan sepi yang mendekapnya, namun juga keromantisan yang muncul menyelinap. Berada di istana ini, saya bisa menerapkan tiga kata sifat yang saya sukai: misterius, magis, dan romantis.

 

Bayreuth, 100406

23:56

Advertisements

2 Gedanken zu „„Menyaksikan“ Wagner di Neuschwanstein

  1. Wagner? Gue banget ;). Duh, MTV.
    Banyak yang bilang Wagner nggak ada apa2nya dibandingkan misalnya Beethoven. Tapi tidak ada pada komposer mana pun, istilah yang setara dengan Wagnerian, Wagnerism, Wagnerite, etc. Dan Ludwig II adalah satu dari deretan itu. Ada Nietzsche juga, tentu. Secara terbatas, ada juga Shaw (dan dari Shaw ada Herriot), ada Stephen Hawking, Edward Said.
    Makasih buat ceritanya, Dian. Aku serasa ikut menyusup ke sana. Mungkin sebuah ziarah ke istana seorang Prime Wagnerian — di mana cerita rakyat dijiwai secara kuat oleh ruh semesta — bisa lebih dari perjalanan ke negeri2 Palestina yang kisah2 nabinya sudah tercemar cerita rakyat.

  2. neuschwanstein memang dahsyat, mas koen. you should go there ;) „jiwa“nya terasa sekali. aku paling suka saat berada di „grotte“ -di dalam „gua“-. ada rasa yang „aneh“, ditambah lagi terdengar sayup-sayup „tannhäuser“. ada banyak kisah menarik di balik Ludwig II, Wagner, Neuschwanstein. saat aku iseng tanya sama si tour guide tentang nietzsche. dia ngga mau jawab dan mengalihkan pembicaraan. ngga nyaman. eh, kok malah curhat di sini. tentang ini bisa jadi satu jurnal sendiri :) btw, perjalanan ke palestina? hmm…boleh juga tuh :)

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s