Die Kunst des Liebens

the art of lovingSalah satu buku terlaris yang ditulis oleh Erich Fromm pada tahun 1956. Berusaha menjawab atau mungkin hanya sekedar menggambarkan hal yang selalu dan akan terus menjadi pertanyaan yang paling menarik untuk ditanyakan dan berusaha dijawab. Pertanyaan yang tak akan pernah berhenti, seperti yang ditulis dengan lugas oleh Seno Gumira Ajidarma dalam cerpennya „Sebuah Pertanyaan untuk Cinta“, seperti banyak cerpen dan novel, seperti kisah dalam film, seperti berjuta puisi, seperti berjuta tulisan. Cinta. Bagian dari hidup. Hal yang sederhana. Sesederhana „Aku Ingin“nya Sapardi Djoko Damono. Sesederhana „Es ist was es ist“-nya Erich Fried. Namun, sederhana juga berarti ketegangan yang sama dan berbanding lurus dengan kerumitan.

Erich Fromm berusaha menggambarkannya. „Hanya“ sekedar menggambarkan dari perspektif psikologi yang menjadi bidang kajiannya. Gambaran yang cukup komprehensif, jika cinta memang bisa diteorikan dan dikategorisasikan. Bisakah? Minimal Fromm mencobanya, dan untuk saya dia cukup berhasil. Tandanya? Saya bisa betah berjam-jam membacanya sampai selesai dengan konsentrasi penuh. Sambil sesekali mengerutkan kening, atau tersenyum, menggarisbawahi apa yang ditulisnya, atau juga mengangguk-angguk dan menggelengkan kepala. Untuk saya, itu suatu tanda keberhasilan dia “menawan” saya dengan tulisannya.

Saya membaca edisi terjemahan buku ini dalam Bahasa Jerman. Dari judul asli „The Art of Loving“ menjadi “Die Kunst des Liebens”. Cuplikan buku ini sudah saya baca kira-kira 10 tahun lalu. Sudah tertarik, apalagi karena berurusan dengan masalah yang satu ini. Namun, saya belum juga mau membacanya dengan utuh. Saya lebih suka „meng-alam-i“nya langsung atau mendengar sang kekasih hati menceritakan isi buku ini pada saya, lalu kami diskusikan dan kami „alami“ sendiri. Selain bisa membawa saya terbang melayang-layang, juga karena alasan strategis (lihat, bahkan cinta pun tidak hanya berseni, tapi juga beralasan strategis).

Baru sebulan lalu saya –akhirnya- membaca sendiri buku ini. Bukan disengaja karena penasaran atau apapun, tapi karena saya sedang malas membaca apa yang seharusnya saya baca. Pengalihan. Seperti biasa menghindar dari kewajiban. Mencari-cari kira-kira bacaan apa yang menarik di rak buku, saya akhirnya mengambil buku ini. Pengalihan yang menawan saya. Tentu saja. Walaupun pada akhirnya, bacaan wajib saya selesai, buku ini pun selesai dibaca. Ternyata cinta memang bisa membangkitkan semangat. Tidak usah ditanyakan. Semua orang pun sudah tahu.

Kenapa buku ini bisa begitu menawan saya? Karena temanya? Atau karena isinya? Atau karena ini pelarian saja? Bisa ketiganya. Jadi, apa isinya? Semua orang juga sudah tahu isinya apa. Biasa saja. Masalah cinta. Apakah mencintai itu sebuah seni? Tentang teori cinta (bahkan cinta pun ada teorinya). Cinta sebagai jawaban atas masalah eksistensi manusia. Cinta antara orang tua dan anak. Objek cinta. Dari mulai mencintai partner kita, cinta seorang ibu, cinta erotis, cinta diri, sampai yang paling hakiki: cinta pada Tuhan. Fromm juga berusaha melihat cinta dan “kejatuhan”nya dalam masyarakat barat saat ini. Fenomena yang sekarang tidak hanya terjadi di barat, tapi juga di timur, utara dan selatan.

Biasa saja, kan? Kapan-kapan lah kalau saya perlu pengalihan lagi saya tulis review lengkapnya. Tidak janji. Karena mungkin saya akan mengalihkan kewajiban saya dengan membaca buku lain dari Fromm yang sudah saya “pindai” sekilas: “Haben oder Sein” atau “to have or to be”.

Jadi, bagaimana dengan buku ini? Bagaimana dengan seni mencintai ini? Baca sendiri saja, ya. Lepas atau tidak dari buku ini, saya masih percaya pada mantera “give give and give”. Dan saya masih percaya pada cinta tak bersyarat dari-Nya dan -seharusnya- untuk-Nya. Dari dan untuk yang punya dan yang menciptakan cinta dengan penuh cinta. Erich Fromm cuma membantu menggambarkan. Selebihnya, ada yang lebih berhak. Sang Maha Cinta.

Bayreuth, 060406

01:00

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s