Racauan

Ini hanya sekedar racauan di kepala. Seperti biasa, kalau sedang kurang kerjaan. Iseng-iseng berkutat dengan pertanyaan. Yang sama sekali tidak penting untuk ditanyakan. Juga untuk dijawab.

Karena pertanyaan itu selalu muncul berulang-ulang. Jadi biarkan saja dia lewat. Sekedar ikut meramaikan isi kepala. Ini dia.

Racauan Satu:

Siapa Tuhan? Apa itu Islam? Kenapa Islam? Kenapa berjilbab? Kenapa shalat? Kenapa berperang? Bagaimana babi dan alkohol? Hypokrit atau hanya fleksibel? Banyak bohongnya dong. Kalau begitu bagaimana? Apa itu agama? Apa pentingnya? Kenapa hidup? Untuk apa hidup? Untuk siapa? Setelah itu apa? Prioritaskan. Bagaimana? Kepentingan seperti apa? Atheis. Hindu. Budha. Yahudi. Kristen. Islam. Jawaban tetap sama: lakukan saja. Shalat saja. Kembali saja kepada dirimu, hatimu. Urusanmu hanya dengan Tuhan.

Racauan Dua:

Bahasa. Prodrop Parameter. Chomsky. Systemlinguistik. Universalgrammatik. Null Subjekt. Inversi. Elipsis. Tata Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa. Balai Pustaka. Lihat konteksnya, siapa yang menentukan suatu bahasa itu gramatis atau tidak gramatis. Ada apa di balik itu? Bukankah itu hanya Sprachpolitik saja? Sejauh mana kepentingannya? Pragmatis saja. Apa yang dilakukan setelah suatu ujaran diucapkan, disampaikan, bahkan di”atur”kan. Konteks, konteks. Eigenwelt. Umwelt. Dunia berpusat di diri. Begitukah? Ada teori yang menggugurkan proses akuisisi pembelajaran bahasa anak pertama kali: prodrop. Gramatika bahasa mencerminkan karakter si pelaku bahasa tersebut. Mungkin juga. Cukup setuju. Cukup banyak bukti, walaupun tidak bisa digeneralisasikan. Kembali ke konteks. Apa yang ada di balik bahasa? Kebijakan. Politik. Sosial. Psikologi. Pragmatis. Dunia.

Racauan Tiga:

Bahasa membuat hidup lebih hidup, maka Tuhan menciptakan bahasa. “Bacalah!” dan gemetarlah Muhammad, karena berat sekali untuk bisa “membaca” dan ber”bahasa”.
Tidak akan ada habisnya bicara tentang bahasa. Setelah tak terbahasakan dan tidak bisa dibahasakan dan tidak untuk dibahasakan juga tidak perlu dibahasakan, maka diamlah. Wovon man nicht reden kann, darüber muß man schweigen. Begitu kata Wittgenstein. Tetap ada batasnya: Jika bicara itu perak, maka diam itu emas. Bicara saat perlu bicara dan diam di saat yang tepat. Itu yang sulit. Di saat perlu bicara, malah memilih diam. Di saat perlu diam, berebutan bicara. Chaotisch.

Lihat, sama sekali tidak penting, kan?! Lagipula itu hanya sekedar racauan :)

Advertisements