Porzellan – Poem vom Untergang meiner Stadt

porzellan

Kumpulan puisi dari Durs Grünbein, penyair kelahiran Dresden. Terdiri atas 49 puisi yang mengisahkan tentang Dresden dari berbagai macam sudut pandang. Keseluruhan puisi ini dibuat dalam rentang waktu cukup lama yaitu dari 1992 – 2005.

Dengan gaya bahasa yang sarkastis dan ironis Grünbein berusaha mendefinisikan dirinya sebagai orang Dresden lewat sejarah kota kelahirannya itu. Dresden tidak hanya penuh dengan mitos dan legenda. Dresden tidak hanya penuh dengan seni dan arsitektur yang indah, tapi Dresden untuknya juga adalah kota tempat „orang-orang mati bicara“. Dresden adalah tempat yang penuh dengan „salju hitam“. Dresden adalah kota tempat „malam kristal“ menjadi awal dari „luka yang tak akan pernah bisa sembuh“.

Lewat puisi-puisinya Grünbein pun berusaha mengatasi masa lalunya untuk bisa melangkah lagi ke depan. Melanjutkan hidup.

Werbeanzeigen

(Malas) Membaca

Kalau saya pikir-pikir, saya ini sebenarnya malas dan tidak hobby membaca. Dulu mungkin iya, tapi sekarang tidak. Di jaman SD saya rajin membaca komik pewayangan dari R.A. Kosasih, sampai saya hafal betul jalan cerita dan tokoh-tokoh dalam epos Mahabharata dan Ramayana. Saya membaca cerita bergambar dalam majalah Bobo dan Kawanku (saat itu Kawanku masih jadi majalah anak-anak dan isinya pun bagus). Saya juga membaca biografinya Soekarno dan Hatta milik kakek saya. Saya membaca buku serial Malory Towers, Lima Sekawan dan Pasukan Mau Tahu, Trio Detektif, Tintin, Nina, Asterix, Steven Sterk, Smurf, Pippi si Kaos Kaki Panjang dan semua buku-bukunya Astrid Lindgren. Menginjak bangku SMP saya membaca habis semua roman terbitan Balai Pustaka. Dan ketika teman-teman saya keranjingan majalah Hai, Mode, dan Gadis, saya malah sibuk membaca novel-novelnya Mira W dan Marga T serta membaca majalah Femina, Kartini dan Sarinah. Setiap saya membeli buku sejarah, saat itu juga saya langsung membacanya sampai habis.

Weiterlesen