Egois

Kesedihan, kesenangan, rasa sedih, senang, bahagia dan semacamnya itu memang egois. Di saat orang lain senang, belum tentu kita bisa merasakan kesenangan bersama atau untuk orang itu. Apalagi jika kita sebenarnya sedang bersedih. Di saat orang lain sedih, belum tentu kita juga benar-benar bersedih bersama dan untuk orang itu. Apalagi jika sebenarnya kita sedang bahagia. Begitu sebaliknya jika itu terjadi pada kita. Paling hanya „sekedar“ ucapan bernada simpati: saya ikut sedih atau saya ikut senang. Tapi toh rasanya tidak akan pernah bisa sama dengan rasa yang sedang dialami orang yang bersangkutan.

Jangan-jangan ungkapan semacam itu pun nantinya hanya akan jadi sekedar basa-basi tak bermakna, setelah itu menghilang. Menguap hanya jadi sekedar kata.

Tapi mengapa, jika hanya sekedar kata, saat kita merasa senang, kita tetap saja tidak bisa mengungkapkannya hanya karena „melihat“ orang lain sedang bersedih? „Tidak enak, tidak etis, orang lain bersedih, kita gembira. Bagaimana jika kita yang mengalaminya?“ Begitu selalu –katanya- Jika hanya sekedar kata, mengapa pula saat kita sedih, kita pun tak bisa mengungkapkannya, hanya karena orang-orang di sekitar kita sedang gembira? “Jangan dikatakan, tidak enak, nanti bisa merusak suasana”. Juga selalu begitu –katanya-.

Ternyata benar bukan, rasa senang dan sedih itu memang egois. Hanya bisa dinikmati sendiri. Karena kalau terjadi di saat dan tempat yang –egoisnya- „tidak tepat“ salah-salah bisa membuat „tidak enak“. Apa harus peduli? Bahkan rasa peduli pun ternyata egois. Semuanya jadi bergantung pada kepentingan diri sendiri. Egois kan?

Apakah bukan egois juga namanya, jika kita merasa senang karena sahabat kita “tersandung” sesuatu yang justru akan membuatnya semakin kuat dan sabar? Merasa senang karena kita tahu bahwa di depan kesulitan itu akan ada kebahagiaan yang sudah menantinya, karena dia menjalani kesulitannya dengan sabar? Apakah bukan egois juga, jika kita justru merasa sedih melihat sahabat kita “senang” karena sesuatu yang akan membuatnya terlena dan terpuruk? Karena “kesenangan” yang berlebihan itu ternyata membuatnya lupa pada kesulitan yang siap menghadangnya?

Sekali lagi, ternyata kesenangan dan kesedihan itu memang egois. Dan sepertinya saya adalah seorang yang egois, karena saya senang melihat sahabat saya „tersandung“ dan dia bersabar bangkit untuk kemudian berjalan lagi. Betapa saya senang sekali diijinkan mendukung dan membantunya bangkit. Saya sedih melihat sahabat saya „senang“ karena dengan „senangnya“ dia melupakan banyak hal. Termasuk: hidup masih harus terus dijalani, sementara waktu tidak menunggu. Betapa saya sedih sekali, ketika dia tidak mengijinkan saya memutus "kesenangannya" itu, lalu melihat kenyataan bahwa dia memilih dengan „senang“nya berjalan dalam „kesenangan“ semunya.

Ya, saya akui, saya memang orang yang egois.

Bayreuth, 300306

19:11

Advertisements

24 Gedanken zu „Egois

  1. memang benar,xl egois sering terjadi pd diri kita.tapi apakah saya salah.saat ini saya pny mslh dgn ssorng.stt dy mmnt tlng pd sy,sy tdk mmbntny.dan dia lngsng mrh,tnp mndngr pnjsn dr sy.apakh sy egois atwkh dy??????????????????????????
    apa aku hrs mngglh,cm gr2 lbh dws dr dy?dr mslh itu aku down.

  2. ia ku sdr lo ak tu mng egoiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiissss, tp ak gk jg bs merbh wlu dah dicba, tp alhamdulilah dah bs brpkir sdikit tntng tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu““““““““““““““““““““““““v ranggi

  3. walaupun tidak semua oran suka denan keegoisan, tapi, saya yakin pada saat tertentu mereka akan sangat egois. karena pada saat itu, egoisme menjadi jalan satu-satunya dan terbaik…..

  4. namanya juga manusia dan bukan malaikat.. bergaul dengan manusia… dan hidup d dunia berisi manusia…. i love ur writing…. full of inspiration

  5. Memang bener, sgala „rasa“ di dunia ini adalah „egois“, tinggal bgmn kita menghadapinya dg persepsi yg positif. –Mohon ijin, tulisannya aku „save“ buat introspeksi diri– thank’s..

  6. Pingback: (Masih) Egois « From This Moment

  7. Egois ith ga bsa d hlangin, susah tuk mnghlangkannya. Hnya dgn brsyukur,sbar dan mnghargai oranglain
    „orang yg ga bsa mnghrgai drinya sndiri, nggak kn prnah bsa nghargai oranglain“

  8. Egois ith ga bsa d hlangin, susah tuk mnghlangkannya. Hnya dgn brsyukur,sbar dan mnghargai oranglain tuk mnguranginya..
    „orang yg ga bsa mnghrgai drinya sndiri, nggak kn prnah bsa nghargai oranglain“

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s