Penyakit Kronis: Gangguan Konsentrasi

Obrolan minggu pagi saat sarapan dengan sahabat-sahabat memang menarik dan inspiratif. Dari tema yang satu beralih ke tema yang lain dengan mulut tak berhenti mengunyah, sementara tangan sibuk ambil makanan ini dan itu. Kemudian sampailah pada keluhan seorang sahabat tentang anak-anaknya yang mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi saat mengikuti pelajaran. Salah seorang dari dua anaknya itu malah sudah cukup parah, sampai akhirnya dia merasa perlu untuk membawa anaknya ke psikiater anak. Dia bertanya kepada kami, apakah ada obat yang dapat membantu seseorang untuk bisa berkonsentrasi. Sahabat saya yang lain menyarankan agar anak tersebut dibawa ke alam bebas, dibiarkan menikmati alam, melakukan olah raga, dan agar dijauhkan dari televisi. Karena menurutnya, televisi bisa merusak konsentrasi anak. Kemudian berkembanglah percakapan menjadi diskusi yang menarik.

Salah seorang anaknya ada di situ bersama kami. Seorang gadis manis yang duduk di kelas 8 dan mengeluh kepada saya karena dia merasa tidak pernah bisa mengerti mata pelajaran Fisika. Mata pelajaran yang menurutnya tidak ada gunanya sama sekali. Saya tidak bisa berkomentar banyak, karena saya pun tidak suka dan tidak bisa Fisika. Saat saya tanya dia ingin kuliah apa kelak, dia menjawab ingin mempelajari komputer dan informatik (yang sebenarnya berhubungan banyak dengan fisika dan matematika, dua mata pelajaran yang tidak disukainya). Alasan kenapa dia ingin mempelajari komputer dan informatik adalah karena dia suka internet dan permainan di komputer. Namun, dia kemudian menekankan, yang dia sukai dari internet adalah chatting dan permainan online interaktif yang bisa dilakukannya bersama teman.temannya.

Diskusi yang berkembang tadi jadi mengarah ke hal-hal apa yang sebaiknya dilakukan agar seorang anak bisa berkonsentrasi penuh saat dia belajar. Fokus pada satu hal saja. Disarankan: jauhkan anak dari televisi dan internet. Sudah disadari bahwa kedua media tersebut bisa membuat seseorang kecanduan, duduk berjam-jam di depannya, sampai lupa segala. Itu konsentrasi juga memang: ada di depan TV dan komputer. Tapi, apa yang dilakukan? Di depan TV tetap saja tidak berkonsentrasi pada satu acara, melainkan sibuk mengganti-ganti saluran jika tidak ada acara yang menarik atau saat sebuah acara sedang menayangkan iklan. Di depan komputer? Bisa membuka beberapa window pada waktu yang bersamaan. Apalagi jika komputer dilengkapi internet. Sambil menunggu satu site terbuka, bisa langsung membuka site yang lain. Jika sedang membaca satu artikel, bisa langsung klik link yang lain. Belum lagi saat chatting. Begitu tampil visible, bermunculanlah box-box percakapan. Dalam satu waktu bisa „melayani“ banyak orang. Tidak cukup dengan „bicara“ dengan satu orang, bisa juga dilakukan secara bersamaan lewat conference. Tidak hanya lewat tulisan, lewat suara pun bisa. Bahkan jika dilengkapi dengan webcam bisa tampil visual juga.

Dunia menjadi lebih kecil. Jarak tidak ada lagi. Waktu pun berhasil dilompati. Informasi datang berlebih pada waktu yang sangat singkat. Banjir informasi. Sampai otak dan mata pun rasanya tidak punya kesempatan lagi untuk menyaring dan menyeleksi mana yang harus disimpan dalam memori, mana yang dibiarkan lewat saja. Akibatnya, semua hanya masuk sekilas-sekilas dan keluar dengan cepat. Secepat tampilan window yang terbuka dengan satu kali klik saja. Sampai mata pun rasanya tidak sempat berkedip, box-box percakapan sudah bermunculan minta ditanggapi. Terlebih jika koneksi internetnya sangat cepat, membuka beberapa site bisa hanya dalam hitungan detik saja. Kalau koneksi internet lambat, yang membuka satu site saja, meminjam istilah salah seorang teman, lamanya bisa „empat tahun monyet“, orang masih bisa melakukan hal yang lain. Sambil menunggu satu site terbuka, bisa masak dulu atau makan dulu.

Semua hal dikerjakan dalam waktu bersamaan. Akibatnya tidak ada lagi waktu dan kebiasaan untuk fokus dan konsentrasi pada satu hal. Kita jadi cepat bosan, karena ada hal-hal lain yang lebih menarik untuk dilihat. Otak dan mata tidak terlatih lagi untuk fokus. Wajar saja jika kemudian banyak orang menderita gangguan konsentrasi. Selain itu, orang juga bisa menjadi cepat lupa, karena semua informasi bisa didapat dengan sekali klik atau tekan. Ingatan hanya jadi ingatan jangka pendek saja. Paling banter jangka menengah. Ingatan jangka panjang hanya terjadi jika ada hal yang benar-benar istimewa.

Semua yang ada saat sarapan tadi memberi komentar yang sama, bahwa dengan teknologi yang semakin maju malah justru jadi membuat manusia tidak „manusiawi“ lagi, dalam arti semua jadi mengandalkan mesin dan teknologi. Mesin dan teknologi yang pada tujuan awalnya dibuat untuk membantu manusia malah justru membuat manusia jadi sangat tergantung padanya. Tidak hanya tergantung, tapi sudah sangat tergantung sampai jika tidak ada membuat hidup seakan lumpuh. Kadang orang bahkan mengeluarkan uang lebih untuk mesin dan teknologi itu daripada untuk makan atau pakaian yang layak. Telefon genggam bukan lagi sekedar alat komunikasi yang mungkin awalnya dibuat agar seseorang mudah dihubungi dan menghubungi di mana saja. Dia sudah berubah fungsi menjadi „gaya hidup“ dan „penghubung dunia“.

Komputer tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat „penghitung“ seperti makna awal kata compute yang berasal dari bahasa Latin computare yang artinya menghitung. Tapi ternyata kata komputer yang berasal dari bentukan awal con dan putus ini juga bermakna „bersih, membersihkan“, bahkan kata putare sendiri juga memiliki makna „memotong, mengamputasi“. Memotong, membersihkan, dan mengamputasi apa? Menarik juga untuk dipikirkan lebih lanjut. Komputer yang dilengkapi internet bahkan bisa meringkas dan menghubungkan dunia dalam satu kotak logam.

Berguna? Tentu saja. Tetapi semua hal ada sisi baik dan buruknya. Sepanjang tidak berlebihan. Idealnya begitu. Pada kenyataannya tetap saja sulit menyeimbangkan. Pada dasarnya manusia itu memang selalu ingin berlebih dalam satu atau beberapa hal saja. Akibatnya, ketika hal tersebut hilang, atau rusak atau tidak ada, maka rasa kehilangannya pun akan terasa besar. Bahkan rasanya „separuh nyawa“ diambil. Begitu mungkin analogi hiperbolisnya.

Kami yang ada saat sarapan berkomentar dengan sadar bahwa mesin dan teknologi selain membawa keuntungan, juga banyak kerugiannya. Kenapa kami bisa berkomentar dengan lancar soal kerugian dan keuntungan itu? Karena kami mengalaminya sendiri. Kami adalah orang-orang yang sudah „sangat tergantung“ pada mesin dan teknologi tadi.

Telefon genggam adalah satu hal yang diingat pertama kali saat akan pergi. Tidak boleh ketinggalan. Hidup ada di situ. Semua nomor telefon tersimpan di situ. Suatu hal yang dulu bisa diingat di dalam kepala, sekarang bisa dilihat dengan sekali tekan. Jika sedang bosan menunggu, ibu jari bisa bermain menekan keypad untuk „berbincang“ lewat sms.

Komputer dengan internet? Itu dunia kami sekarang. Hal yang dilakukan pertama kali setelah bangun tidur adalah menyalakan komputer yang terkoneksi ke internet untuk kemudian menyapa orang-orang di seberang benua dan samudera. Komputer pula yang dimatikan terakhir kali menjelang tidur. Tidak ada komputer dan internet bisa kelabakan. Karena artinya tidak bisa menyapa teman-teman di dunia maya lagi, tidak bisa chatting sampai tertawa-tawa sendiri, ketinggalan informasi terbaru, rasanya jadi terisolir. Padahal dengan internet semua bisa dilakukan hanya dengan duduk dan sekali klik. Belanja, berkomunikasi, mencari informasi, belajar (termasuk belajar memasak yang dulu dilakukan dengan trial and error sendirian), bahkan membaca kitab suci pun bisa lewat komputer dan internet (apakah namanya masih tetap kitab? Saya tidak tahu). Untuk yang tinggal bukan di komunitas muslim, adzan untuk panggilan shalat pun bisa diset otomatis di komputer.

Menguntungkan? Tentu saja. Kami menikmatinya. Saking menikmatinya, kami sampai sering lupa bahwa sudah banyak waktu yang lewat karena kami terlalu banyak duduk di depan komputer dan internet melakukan entah apa. Saking menikmatinya, ketika suatu saat komputer itu rusak atau koneksi internet tiba-tiba putus, maka paniknya luar biasa. Saking menikmatinya, ketika seseorang „menghilang“ dari „peredaran“ dunia maya, maka kita pun ikut kehilangan. Lucu memang. Urusan perasaan tetap tidak bisa digantikan dengan mesin dan teknologi tadi. Tidak ada perasaan yang virtual. Perasaan tetap nyata. Ketika teman chatting kita menyinggung perasaan kita, maka tetap saja kita merasa sebal, dan itu tidak virtual. Jika harus pacaran jarak jauh, tetap saja perasaan rindu tidak bisa digantikan dengan rindu virtual. Apalagi jika patah hati. Patah hatinya tidak bisa virtual. Tetap saja sakit.

Merugikan? Iya juga. Rekening listrik jadi naik, karena penggunaan komputer yang non-stop. Kalau pasang internet masih analog, maka rekening telefon ikut naik pula. Jika pakai DSL, biasanya ada ekstra biaya walaupun orang jadi lupa karena fasilitas internet yang online 24 jam. Belum lagi ditambah untuk bayar pulsa atau biaya pemakaian bulanan telefon genggam. Belum puas, masih ada pula fix telephone di rumah. Lainnya? Belum lagi kalau ada kerusakan, belum lagi kalau tergiur ingin tambah feature yang lebih canggih, lebih cepat, dan lebih menarik. Ingin lebih, lebih dan lebih.

Kenapa kami bisa lancar berkata bla bla bla seperti itu? Ya, karena kami kemudian membuat “pengakuan” tentang kebiasaan dan ketergantungan kami. Sambil bekerja di laboratorium, teman saya yang doktor di bidang fisika masih sering melihat film dan membuka site-site lain di luar urusan kerjanya. Belum lagi online jurnal yang dia ikuti dan masih juga sering chatting dan menonton soap opera berjam-jam. Tidak saja di rumah, tapi juga di kantor. Salah seorang teman, calon doktor di bidang biologi, juga melakukan hal yang sama. Chatting tidak pernah ketinggalan, apalagi kalau sedang rindu rumah. Teman yang lain, master di bidang ekonomi, juga ketergantungan pada hal yang sama ditambah dengan telefon yang bisa berjam-jam. Saya? Tidak jauh beda. Saya chatting, membuat jurnal online setelah dipaksa oleh salah seorang teman, dan akhirnya dia berhasil, apalagi dengan fasilitas internet 24 jam dengan biaya sangat murah dan koneksi super cepat. Semua bisa saya lakukan di kamar. Dunia saya ada di depan kotak logam metalik, yang sempat „koma“ karena „minum wedang jahe“, dengan telefon di sebelah kirinya.

Kami semua akhirnya membuat pengakuan tentang ketergantungan kami pada tiga hal tadi: telefon genggam, komputer dan internet. Kami tidak terlalu tergantung pada televisi dengan alasan yang berbeda-beda. Karena ketergantungan itu, kami mengalami „penyakit“ yang juga sudah kronis: gangguan konsentrasi. Seperti saat menulis ini misalnya, saya tidak bisa berkonsentrasi penuh, karena saat menuliskan satu kalimat, saya langsung berpikir ke sana ke mari. Saya ingin menulis banyak hal. Akibatnya malah saya jadi melantur ke mana-mana, tidak sesuai dengan ide yang berdesakan sebelumnya di kepala. Tidak bisa saya runut. Saat menulis ini juga saya masih sempat klik sana sini untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Walaupun itu juga sebenarnya hanya alasan dan pembenaran bagi „penyakit kronis“ tadi. Nah, saya sudah melantur lagi. Bisa terlihat dengan jelas pada tulisan ini, bukan? Sebenarnya saya mau dan sedang menulis apa, sih? Sekarang saya pun sadar mungkin penyakit malas membaca yang semakin parah saya alami juga merupakan akibat lanjutan dari penyakit kronis ini.

Setelah komentar bla bla bla dari kami, sahabat saya, si ibu yang mengeluh soal anaknya tadi, yang kemudian jadi terheran-heran. Tidak dinyana, teman-temannya yang mungkin dipikirnya bisa memberikan saran atas masalah yang dihadapi anaknya, malah menderita penyakit yang sama, bahkan lebih parah. Sementara ibunya terheran-heran, anak gadisnya tersenyum-senyum dengan senangnya. Dia tidak sendiri. Orang-orang dewasa yang ada di sekitarnya, yang seharusnya bisa lebih dewasa dan mampu mengontrol dirinya sendiri, ternyata lebih parah darinya.

Bayreuth, 050306

21:00

Advertisements

4 Gedanken zu „Penyakit Kronis: Gangguan Konsentrasi

  1. Saya pikir penyakit kronis ini berhubungan dengan masalah sosial kehidupan masing-masing orang,dan ini memang sangat berpengaruh bagi perilaku individu tersebut.tapi Disatu sisi kita melihat bahwa masih ada orang yang tidak paham tentang penggunaan teknologi yang cukup memadai disebabkan oleh hal-hal tertentu. oleh karena itu sudah sepatutnyalah meskipun kebiasaan dalam penggunaan teknologi yang agak berlebihan membuat kita sadar bahwa semuanya harus dipergunakan seefektif mungkin dengan memikirkan orang-orang disekitar yang memerlukan bantuan dari kita khususnya dibidang teknologi.

  2. Menurut saya, tergantung orangnya si, internet bahkan bermanfaat banget, jika dipegang oleh pembisnis, atau pejabat yang membutuhkan berita cepat, atau bahakan untuk orang yang kuliah yang menghemat pembelian buku jadi memakai fasilitas internet sebagai solusinya. Internet bermanfaat bagi orang yang mempunyai kepentingan. Bagi orang yang memanfaatkan internet hanya sekedar untuk hiburan dan gaya hidup itu rentang sekali bubasir. Hiburan si boleh-boleh saja, bahkan sangat dianjurkan, ketika seseorang dapat menyaraing informasi dan dapat berpikir ilmiah atau kritis, saya rasa itu bukan lagi masalah. Untuk itu, bekali konsep pada diri yang positif.
    Saya punya pendapat, kalau pemerintah membuat kebijakan tentang pendidikan yang berisi membuat mata pelajaran baru untuk anak SMP, mata pelajaran ETIKA INTERNET DAN mata pelajaran BERFIKIR ILMIAH DADALAM MENYERAP INFORMASI (BIDMI). Saya rasa dengan demikian, unsur negatif internet dapat ditekan.

  3. Menurut saya, tergantung orangnya si, internet bahkan bermanfaat banget, jika dipegang oleh pembisnis, pejabat yang membutuhkan berita cepat, atau untuk Mahasiswa yang menghemat pembelian buku jadi internet sebagai solusinya. Internet bermanfaat bagi orang yang mempunyai kepentingan Positif. Bagi orang yang memanfaatkan internet hanya sekedar untuk hiburan dan gaya hidup itu rentang sekali bubasir. Hiburan si boleh-boleh saja, bahkan sangat dianjurkan, ketika seseorang dapat menyaring informasi dan dapat berpikir ilmiah atau kritis, saya rasa itu bukan lagi masalah. Untuk itu, bekali konsep pada diri yang positif.

    Saya punya pendapat, kalau pemerintah membuat kebijakan tentang pendidikan yang berisi membuat mata pelajaran baru untuk anak SMP atau Tingkat SD, mata pelajaran ETIKA INTERNET DAN mata pelajaran BERFIKIR ILMIAH DALAM MENYERAP INFORMASI (BIDMI). Saya rasa dengan demikian, unsur negatif internet dapat ditekan.

  4. Masalah kosentrasi, mungkin itu faktor genetik atau masih banyak lagi faktor lagi. Pemecahan yang tepat, harus ditangani ahlinya, dokter, bahkan kita dapat mencari informasi seluas mungkin lewat internet, tentang daya kosentrasi.

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s