Berani

am beispiel meines bruders

Setelah berbulan-bulan, di antara berbagai macam kesibukan, akhirnya saya bisa menyelesaikan membaca roman autobiografi „Am Beispiel meines Bruders“ dari Uwe Timm. Berkisah tentang usaha Timm „melacak“ masa lalu dan identitas dirinya lewat buku harian sang kakak yang meninggal di garis depan saat NAZI berusaha menginvasi Rusia.

Dituturkan dengan bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti, alur waktu yang maju mundur, ditambah dengan cuplikan-cuplikan dari buku harian sang kakak, membuat roman ini sangat menarik untuk dibaca, membawa saya seakan ikut menelusuri jejak yang sedang ditelusuri Timm. Emosi saya ikut terbangun saat Timm berusaha mengumpulkan ingatannya tentang sang kakak yang hanya dia lihat langsung selama beberapa tahun pertama hidupnya. Ingatan selanjutnya dia kumpulkan dan susun dari ingatannya tentang ibu dan ayahnya, kakaknya, tentang keluarga mereka, dari buku harian sang kakak, satu-satunya peninggalan saat dia gugur. Bermula dari situ, Timm kemudian menelusuri jejak sang kakak dengan mengunjungi kota-kota yang disebutkan dalam buku harian yang ditulis dengan kalimat tak lengkap, tetapi lengkap dengan nama tempat dan waktu. Dengan datang ke tempat-tempat yang disebutkan itu, Timm berusaha merasakan apa yang dirasakan dan dialami sang kakak saat berada di sana.

Mengangkat tema besar trauma masa lalu Jerman di jaman NAZI dan perang dunia kedua dan melihat hal tersebut tidak dari stereotip umumnya, melainkan dari sudut pandang seorang tentara yang menjadi pelaku sekaligus menjadi korban. Timm mengisahkannya dengan sangat apik dan detil, ditambah dengan pendapat dan sudut pandangnya sebagai orang yang „terlibat“ secara emosional, namun tetap berjarak dari segi tempat dan waktu.
Satu hal yang paling menarik perhatian saya dan membuat saya tercenung cukup lama adalah saat membaca satu paragraf di bagian akhir roman ini. Dengan bahasanya yang mudah, dan struktur kalimat yang tidak rumit, Timm mengajukan kritik yang cukup tajam dan dalam. Dikatakan kurang lebih sebagai berikut: „Saat kita kecil, kita sering dituntut untuk selalu menjadi orang yang berani. Berani berbuat, berani berjuang, berani berperang. Kita harus punya keberanian membela negara, berani mematuhi atasan. Kita tidak boleh takut mati, kita tidak boleh takut kalah. Kita harus berani. Namun, saat semua tuntutan dan suruhan itu tidak sesuai dengan hati nurani kita, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita berani untuk berkata ‚tidak‘?“
Ya, sudahkah kita berani untuk berkata ‚tidak‘?

Bayreuth, 270206

00:26

Advertisements

2 Gedanken zu „Berani

  1. Sepertinya sebuah roman yang menarik… sayangnya bahasa Jerman ya…. wah bisa nggak kelar-kelar bu…. kalo saya yang baca. Baru baca satu halaman udah ngantuk hehehe

    Bu dah baca The Kite Runner karya Khaled Hosseini?

    saya baru baca sedikit sih.. tapi bagus sekali…

  2. Iya, sayangnya memang bahasa Jerman. Tapi oke kok :) Projekt jangka panjang nerjemahin roman itu ah :)

    Belum, Dod, belum baca the kite runner. tentang apa?

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s