Ingat dan Lupa

Salah satu mata kuliah yang saya ikuti semester ini adalah „Deutsche Erinnerungskultur“. Masalah mengingat dan melupakan. Masalah yang jadi bagian hidup. Ingat dan lupa. Menarik sebenarnya.

Selain itu dibahas juga tentang „rasa bersalah“ atas „kesalahan kolektif“ yang dibuat oleh orang-orang Jerman (siapakah „orang-orang“ di sini?!) dengan holocaust-nya di jaman NAZI. Rasa bersalah. Menarik juga. Tema keseharian juga.

Pertanyaan saya adalah: perlukah „rasa bersalah“ itu dibuat dan dibesar-besarkan? Batasan kesalahan kolektif itu apa? Lalu sampai mana sebenarnya orang bisa dan perlu mengingat? Apakah ada gunanya mengingat atau tidak mengingat „kesalahan kolektif“ tadi? Implikasi ke depannya apa? Apa yang terjadi sekarang jika orang –katanya harus- mengingat?

Saya rasa, orang memang wajar-wajar saja punya rasa bersalah. Harus mungkin, jika tidak, lepaslah kontrol dari hati nurani. Idealnya memang begitu. Namun, pada kenyataannya tetap saja tidak semudah itu.Apalagi jika hal tersebut melibatkan orang lain dan orang lain itu menganggap: „Saya tidak ikut campur. Kenapa juga saya harus ikut disalahkan?“. Ini terjadi, dulu dan kini. Menjadi sulit karena individu adalah bagian dari masyarakat dan masyarakat melibatkan individu-individu.

Selanjutnya adalah budaya mengingat. Apakah itu? Apa gunanya mengingat? Apa implikasinya jika orang mengingat? Mengingat. Setelah itu apa?

Jika orang mengingat dan “mengingat dengan benar“ serta pada tempatnya (tetapi apakah “benar” dan „salah” itu? Semua subjektif), mungkin tidak akan ada lagi pembantaian, perang, saling menghina, bertindak anarkis dan sebagainya. Namun, mengingat pada kenyataannya pun hanya sampai pada batas “mengingat”. Terbatas. Karena pada batas itu manusia akhirnya lupa. Sengaja tidak sengaja. Melupakan atau memang benar-benar lupa. Namun, saya rasa wajar juga jika manusia lupa, karena manusia memang penuh dengan keterbatasan.

Jadi, saya pikir, orang-orang Jerman (sekali lagi, saya terpaksa menggeneralisasikan karena saya belum menemukan istilah yang lebih tepat dan karena “pelakunya” pun abstrak) tidak perlu merasa bersalah berlebihan, tidak pula perlu “berusaha sekuat tenaga” berlebihan mengingat kalau toh pada akhirnya tetap saja semua yang terjadi di masa lalu terjadi juga sekarang. Tidak belajar dari kesalahan masa lalu. Jadi, menurut saya, biasa-biasa sajalah. Manusia mengingat, tetapi manusia juga lupa. Ini wajar dan manusiawi.

Jangan-jangan semua cuma jadi utopi saja. Jangan-jangan jika dibuat berlebihan orang akan menganggapnya bukan sesuatu yang istimewa lagi. Orang akan menganggapnya juga biasa-biasa saja. Mengingat dan melupakan pun bukan hal yang istimewa lagi. Orang mungkin akan menganggap sebagai suatu kewajaran yang hanya melintas begitu saja dalam hidup. Sekilas. Dengan begitu, mengingat dan ingatan akan jadi pendek. Melupakan akan jadi pendek pula. Pada akhirnya, tidak akan ada bedanya lagi antara mengingat dan melupakan. Mengingat kemudian lupa, atau kebalikannya, lupa kemudian ingat (tapi ini jarang sekali). Jadi, sewajarnya sajalah. Manusia punya mekanisme pertahanan diri yang berbeda-beda. Mengingat, lupa, merasa bersalah, itu hanya sebagian dari cara manusia untuk tetap bertahan hidup. Untuk hidup bersama waktu yang bisa membuat dan menghapus jejak. Mungkin sebaiknya disyukuri saja bahwa manusia dikaruniai „ingat“ dan „lupa“. Bukankah itu yang menjadikan kita lengkap jadi manusia?

Bayreuth, 090206

18:20

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s