„Saya Punya Pacar. Sesama Jenis“

Bagaimana rasanya jika sahabat Anda, sangat dekat, yang rasanya Anda kenal dan ketahui sampai ke dalam-dalamnya, suatu saat berkata kepada Anda: „Saya punya pacar. Sesama jenis.“ Apa yang Anda rasakan? Apa yang akan Anda lakukan?

Perasaan apa yang muncul, ketika dia bercerita bagaimana tertekannya dia? Bagaimana bertahun-tahun dia menyembunyikannya tidak saja dari Anda, tetapi juga dari semua orang? Ketika dia merasa telah membohongi Anda sedemikian rupa. Tidak hanya Anda, tetapi juga membohongi dirinya sendiri? Ketika semua beban dan rahasia yang selama ini disimpannya sudah tidak sanggup ditanggungnya lagi?

Bagaimana rasanya, ketika dia meminta Anda dengan sangat untuk tidak berubah? Untuk tidak meninggalkannya? Untuk tetap ada di sisinya, karena dia ingin bisa menjadi „normal”? Normal seperti layaknya „normalitas“ dalam agama dan masyarakat. Seperti yang sudah pernah begitu kerasnya dia usahakan?

Saya bingung. Saya tidak tahu harus berkata apa. Saya tidak tahu harus merasa apa. Tiba-tiba semuanya menjadi sangat berbeda. Sangat asing. Sahabat yang sudah saya kenal bertahun-tahun. Tempat berbagi suka dan duka, tangis dan tawa. Sahabat yang selalu mendukung dan ada untuk saya. Jujur, ada rasa kesal, marah, merasa dibohongi, bercampur dengan rasa prihatin dan kasihan, terutama rasa tidak percaya. Benarkah? Apa saya tidak salah dengar? Rasanya semua pengalaman, pikiran dan perasaan saya terdistraksi saat mendengar kalimat itu diucapkan. Di satu sisi tetapi saya tidak bisa mengingkari rasa bahagia yang terselip saat emndengar ucapan tadi, karena dia menemukan pasangan sesama jenisnya dan dia merasa sudah jujur pada dirinya. Ah, kebahagiaan dan kesedihan memang egois. Kita bisa merasa sedih di saat orang lain senang, atau sebaliknya, justru senang di saat orang lain sedih.

Saya banyak membaca, menonton film dan kenal beberapa orang yang memiliki orientasi seksual berbeda dari „normalitas“, yakni tidak memiliki hasrat afeksi dan seksual kepada lawan jenis yang semestinya, melainkan kepada sesama jenis. Dari pengalaman itu saya sebenarnya bisa melihat sisi yang lain tentang orientasi seksual yang mengacu pada sesama jenis yang lazim dikenal sebagai homoseksual (baik itu gay atau lesbian). Seorang teman saya bahkan mengaku dan bersikap terang-terangan. Saya „kagum“ karena dia cukup berani bersikap terbuka. Tentu tidak mudah untuk menjadi „tidak normal“ diantara yang „normal“. Walaupun demikian, saya sebenarnya tetap yakin bahwa „ketidaknormalan“ tadi bisa disembuhkan, asal diusahakan dengan keras. Tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa.

Saya tahu juga, bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan seorang individu menjadi homoseksual. Pertama, faktor biologis, yakni ada kelainan di otak atau genetik. Kedua, faktor psikodinamik, yaitu adanya gangguan perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak. Ketiga, faktor sosiokultural, yakni adat-istiadat yang memberlakukan hubungan homoseks dengan alasan tertentu yang tidak benar. Keempat, faktor lingkungan, yaitu keadaan lingkungan yang memungkinkan dan mendorong pasangan sesama jenis menjadi erat.

Saya sadar pula, bahwa dalam diri setiap manusia itu ada gen maskulin dan feminin. Keduanya tentu memungkinkan individu berkembang menjadi seorang heteroseksual atau homoseksual. Seseorang menjadi homoseksual karena faktor bawaan atau gen termungkinkan jika ada ketidakseimbangan jumlah hormon pada diri seseorang sejak lahir. Jika jumlah hormon wanita pada seorang laki-laki cenderung lebih besar daripada hormon laki-lakinya, maka hal ini dapat berpengaruh pada sifat dan perilaku si laki-laki tersebut. Misalnya dia akan merasa jati diri kewanitaannya lebih kuat, sehingga mereka cenderung berperilaku feminin dan selalu tertarik pada aktivitas yang dilakukan perempuan. Kebalikannya pada perempuan, jika jati diri kelelakiannya lebih kuat, maka mereka cenderung berlaku maskulin dan tertarik pada aktivitas lelaki, serta cenderung menyukai perempuan lain, seperti layaknya seorang laki-laki menyukai seorang perempuan.

Namun, faktor lingkungan juga ternyata berpengaruh sangat besar. Jika lingkungan menunjang, maka seseorang yang sudah memiliki gen homoseksual bawaan bisa „terlampiaskan“ sehingga bisa menjadi seorang homoseksual sejati. Jika mereka sering berada dalam komunitas laki-laki saja dan amat jarang bertemu dengan wanita, atau sebaliknya, itu pun bisa menjadi faktor pemicu atau penguat.

Selain itu, ada juga dari mereka yang terlibat dalam kehidupan homoseksual semata-mata karena gaya hidup dan materi. Biasanya berawal dari coba-coba untuk berhubungan dengan sesama jenis dengan imbalan uang. Jenis homoseksual seperti ini bisa hilang bila mereka telah menemukan pasangan hidup dari lawan jenisnya. Atau, mereka keluar dari „lingkungan“ tersebut akibat terkena penyakit kelamin. Namun, sekali lagi, seorang homoseksual bisa kembali menjadi lelaki atau perempuan sepenuhnya bila punya komitmen kuat untuk menjauhi kehidupan homoseksual tadi. Faktor agama, dukungan dari keluarga, teman dan lingkungan sosial tentu sangat berperan penting untuk menunjang upaya kesembuhan tersebut.

Saya sadari itu, tetapi saat itu saya tetap merasa begitu asing dan aneh. Saya sadari bahwa saya memang tidak bisa dan tidak boleh meninggalkan sahabat saya sendirian. Namun, saya tidak bisa membohongi perasaan asing yang menyergap tiba-tiba ketika hal tersebut terjadi pada sahabat yang –saya pikir- saya ketahui dan kenal dengan sangat baik. Rasa tidak percaya terus hadir di kepala dan hati saya. Sahabat yang saya kenal begitu bersemangat, rajin, ulet, rajin beribadah, baik hati, ceria, selalu siap menolong, selalu berusaha mendukung dan mengerti saya, tiba-tiba membuat pengakuan tentang bagian yang paling pribadi dari dirinya. Bagian yang saya tahu dan saya baca, tetapi ternyata tetap asing untuk saya. Tentang hal yang saya pikir bisa saya mengerti dan saya pahami. Tidak mudah. Ternyata saya memang berjarak dan asing dengan dunia yang saya pikir saya tahu dari bacaan dan dari cerita orang-orang. Namun, ketika itu diucapkan oleh sahabat sendiri, rasanya benar-benar menohok.

Di tengah keasingan dan keterkejutan yang menerpa tiba-tiba, saya merasa sangat beruntung masih bisa mengendalikan perasaan saya. Saya masih bisa menghargai keberanian dan kebesaran hatinya untuk bercerita pada saya. Saya tahu, itu bukan hal yang mudah. Dia pun mengakui, bahwa dia gemetar dan berdebar luar biasa, saat akan bercerita pada saya. Apalagi setelah bertahun-tahun rahasia itu disimpan dari saya, sahabatnya yang hampir mengetahui seluruh kisah dan situasi hidupnya. Hampir, tapi tidak untuk hal yang satu ini.

Ya, bagaimana tidak merasa terkejut? Dia tampak “normal” dalam pandangan kasat mata saya. Pernah punya pacar lawan jenis. Tidak pernah ketinggalan shalat. Rajin berpuasa dan ikut pengajian. Tentu saja “pengalaman” pikiran saya yang terbatas memang tidak bisa menembus apa yang dia sembunyikan dan dia tekan selama ini. Usaha yang dia lakukan sedemikian keras untuk bisa menjadi “normal”.

Kenyataan bahwa selama bertahun-tahun hidupnya –setelah dia sadar bahwa dia ternyata memiliki orientasi seksual yang berbeda sejak kecil- dia terus berusaha dengan keras menekan, terus berusaha memiliki kehidupan yang normal – terutama dalam masalah orientasi seksual-. Namun, ternyata tetap saja, dia merasa seperti membohongi diri dan perasaannya sendiri. Dia tersiksa dengan itu. Akibatnya, belakangan dia malah menjauh dari Tuhan karena merasa dirinya berdosa sudah menjadi “lain”, dia malu untuk mendekat pada-Nya. Dia merasa dirinya “tidak bersih”. Dia pun sampai pada tahap depresi karena pengingkaran atas jati diri yang sebenarnya.

Dari beberapa artikel yang saya baca tentang homoseksual, dari segi psikologis ada dua macam homoseksual, yakni homoseksual ego sintonik (sinkron dengan egonya) dan ego distonik (tidak sinkron dengan egonya). Seorang homoseks ego sintonik adalah homoseks yang tidak merasa terganggu oleh orientasi seksualnya, tidak ada konflik bawah sadar yang ditimbulkan, serta tidak ada desakan, dorongan atau keinginan untuk mengubah orientasi seksualnya.

Hasil penelitian beberapa ahli menunjukkan, orang-orang homoseksual ego sintonik mampu mencapai status pendidikan, pekerjaan, dan ekonomi sama tingginya dengan orang-orang bukan homoseksual. Bahkan kadang-kadang lebih tinggi. Perempuan atau laki-laki homoseks dapat lebih mandiri, fleksibel, dominan, dapat mencukupi kebutuhannya sendiri, dan tenang. Kelompok homoseks ini juga tidak mengalami kecemasan dan kesulitan psikologis lebih banyak daripada para heteroseks. Pasalnya, mereka menerima dan tidak terganggu secara psikis dengan orientasi seksual mereka, sehingga mampu menjalankan fungsi sosial dan seksualnya secara efektif.

Sebaliknya, seorang homoseks ego distonik adalah homoseks yang mengeluh dan merasa terganggu akibat konflik psikis. Ia senantiasa tidak atau sedikit sekali terangsang oleh lawan jenis dan hal itu menghambatnya untuk memulai dan mempertahankan hubungan heteroseksual yang sebetulnya didambakannya. Secara terus terang ia menyatakan dorongan homoseksualnya menyebabkan dia merasa tidak disukai, cemas, dan sedih. Konflik psikis tersebut menyebabkan perasaan bersalah, kesepian, malu, cemas, dan depresi. Karenanya, homoseksual semacam ini dianggap sebagai gangguan psikoseksual.

Saya rasa, sahabat saya termasuk ke dalam golongan homoseks ego distonik karena dia pada akhirnya mengalami konflik psikis yang begitu berat dan berakibat sangat besar dalam kehidupan pribadi dan sosialnya. Mengenal dia dari dulu hingga sekarang dan melihat perubahannya belakangan ini, saya percaya bahwa konflik batin yang dialaminya sudah sedemikan berat. Banyak faktor memang, tetapi tampaknya faktor pengingkaran jati diri dan penekanan orientasi seksual yang berbeda, membuat dia menjadi sangat terpuruk.

Menyadari itu, tentu saja saya tidak bisa membiarkan sahabat saya sendiri. Meninggalkannya? Tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan mungkin akan memperburuk masalah, karena dia akan semakin merasa asing dan ditinggalkan. Namun, saya juga tidak bisa mengingkari perasaan saya yang tidak bisa “permisif” terhadap “perbedaan” itu (maaf, kalau saya sebut “perbedaan”, karena saya belum menemukan istilah dan kata yang tepat). Saya bisa menerima alasannya, saya bisa mengerti latar belakangnya, saya bisa memaklumi kesulitannya. Namun, bukan berarti kita harus diam dan menerima begitu saja kondisi diri kita. Harus diusahakan. Ibaratnya penyakit, maka kita harus berusaha untuk mencari jalan penyembuhannya. Hasilnya diserahkan kepada Yang Maha Menyembuhkan. Tidak berarti pasrah dan diam menerima nasib begitu saja.

Begitu pun dengan homoseksual, saya rasa. Jika sahabat saya dulu sudah bisa berusaha sedemikian keras dan sudah –hampir- berhasil, kenapa sekarang tidak? Sekali lagi, saya rasa agama dan dukungan keluarga serta teman sangatlah penting. Kembali kepada Tuhan dan percaya kepada diri sendiri untuk menjadi „normal“ sepertinya akan sangat membantu. Tidak mudah. Sangat tidak mudah. Namun, bukan berarti tidak bisa.

Mungkin saya terlalui naif dengan percaya bahwa homoseksualitas bisa dikurangi kadarnya. Namun, kepercayaan saya rasanya cukup mendasar pula, bahwa setiap individu bisa berubah. Begitu juga dengan masalah orientasi seksual. Jika tidak, mengapa Kinsey sampai membuat skala gradasi seksual seseorang, sebagai berikut:

0 = heteroseksual eksklusif; 1 = heteroseksual lebih menonjol (predominan), homoseksualnya cuma kadang-kadang; 2 = heteroseksual predominan, homoseksual lebih dari kadang-kadang; 3 = heteroseksual dan homoseksual seimbang (biseksual); 4 = homoseksual predominan, heteroseksual lebih dari kadang-kadang; 5 = homoseksual predominan, heteroseksual cuma kadang-kadang; dan 6 = homoseksual eksklusif.

Karena bergradasi, menurut logika saya, kondisi tersebut bisa berubah-ubah. Tergantung pada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat gradasi tadi. Dan saya yang selalu percaya, bahwa segala sesuatu itu dimulai dari diri, sangat yakin bahwa jika mau, maka bisa.

Saya tahu, akan sangat berat untuk sahabat saya. Namun, saya tahu juga, akan lebih berat lagi baginya jika semua orang menganggapnya benar-benar „lain“. Saya, sahabatnya, tidak akan tega membiarkannya terpuruk begitu jauh.

Seorang sahabat memang „idealnya“ bisa menerima sahabatnya seperti apa adanya dia, tetapi itu bukan berarti ikut membiarkan dia tenggelam sedemikian jauh. Namun, semua kembali kepada dirinya sendiri. Saya tidak berhak pula mencampuri urusan pribadinya terlalu jauh, jika tidak diminta. Yang bisa saya lakukan mungkin minimal tetap ada untuknya, saling mengingatkan, berdoa dan mendukungnya menjadi „sehat“. Semua tetap saya kembalikan pada-Nya, karena tidak ada seorang pun yang ingin dilahirkan „berbeda“. Pasti ada maksud dibalik „normalitas“ dan „perbedaan“ tadi. Kata-kata sahabat saya terus terngiang di telinga saya: „Siapa yang ingin dilahirkan „tidak normal“? Saya juga ingin hidup normal seperti kebanyakan orang.“

Dari „pengakuan“ itu saya belajar banyak hal. Terutama belajar untuk tidak dengan mudah menghakimi dan membuat penilaian kepada seseorang atau sesuatu yang kita rasa „lain“. Belajar untuk melihat latar belakang dari segala sesuatu. Belajar melihat hal dari berbagai macam sisi. Belajar menghargai perbedaan. Belajar hidup dan kehidupan. Belajar untuk mendengarkan kata hati nurani. Belajar untk melihat dan menyadari bahwa mereka ada di sekitar kita. Bukan untuk ditinggalkan tetapi untuk berjalan bersama-sama. Belajar untuk percaya, bahwa Tuhan tidak akan menciptakan sesuatu tanpa maksud. Tinggal kita yang harus pintar-pintar mencari dan menyikapi maksud itu.

Bayreuth, 170206

21:25

* Untuk sahabat saya tersayang. Jangan takut, masih ada satu pintu yang akan selalu terbuka untukmu jika kau ketuk. Ketuklah pintu itu.

Advertisements

27 Gedanken zu „„Saya Punya Pacar. Sesama Jenis“

  1. aku malah udah jatuh cinta n sayang luar biasa pada sahabatku yg ternyata suatu hari mengaku bahwa dia gay….walau saat itu hatiku begitu hancur tetapi aku rasanya begitu tegar mendengar pengakuannya saat itu karena aku rasanya udah bisa merasakannya…dan peristiwa itu adalah 5 tahun yg lalu….dan jika boleh aku bilang bahwa rasa hancur hatiku masih amat terasa hingga saat aku mengetik tulisanku ini…karena aku masih amat sangat mencintai n menyayanginya sebagaimana sejak kenal dengannya 9 tahun lalu….rasanya kalo kepedihan ini datang nyaris aku mau jika Tuhan memanggilku…..karena sebenernya aku gak sanggup menjalaninya….

  2. What a gay really need is understanding. He is not a „sick“ or „will be dying soon“ person. But to understand what „gay“ really means is never easy, or maybe it is an impossible task to do. It’s not something that someone could learn, could try, or even could grasp with full of empathy. Nobody will really understand what is being a gay, unless he is a gay himself.

    It’s as simple as trying to understand what is a blind man feel about this world. What can we do to understand ? Nothing. Until one day maybe we lost our sight completely, we never know how it feels.

    It is a matter of understanding. No more, no less.

    If only anyone in this world is brave enough to ask to theirself, there wouldn’t any hatred anymore.

    „What if I am a gay?“ No body with sane brain will answer, „I would like of being tortured, hated, and discriminated, because I will do the same thing with any other gay in this beautiful world“

    Will we dare enough to say that to ourself ?

  3. kepada penulis saat ini aku merasakan hal yang penulis utarakan, sama persis tetapi saat ini aku masih dapat mengontrol diri belum sampai ada keyakinan hanya ada ketertarikan yang lebih terhadap sesama, aku bingung nga bisa berbuat apa2 cuma bisa berdoa “ semoga hidayah diberikan kepada saya “ dan aku berusaha untuk menjadi sehat agar bisa menjadi ayah dari anak2 saya dan menjadi suami dari istri saya , jika kelak Tuhan memberi kesembuhan pada saya , boleh saya minta alamat email penulis terima kasih

  4. dear dian,\
    sya mulai mencintai pria sejaks ltp,setelah hubungan sesama pertama kalid engan teman…..dan berlanjut hingga sekarang.dimana aku telah merasakan cinta yagn cukup mendalam antara aku dan pria yg dekat dengnaku….
    aku puas dan bisa menerima diriku apaa danya, wlaupun kelak aku tidak akan menikah.
    .tetapi yg menjadimasalah adalah bagaimana dengna keluargaku,yg nota bene kental dengnan adat,terutama aku anak laki-laki dan sulung dari semuanay,
    karena saya diharapkan sebagai penerus keluarga,walaupun saya punya 4 org adikl aki2.apakah saya boleh minta email BRAMS,sebagai teman untuk berbagi cerita?tlg dijawab ya THANKS

  5. aq penen bnyk tau tentang komunitas homoseksual diindonesia.bisakah anda memberikan banyk info ttg mereka,saya pgn ngelihat mereka lebih dekat lagi,dan mengetahui bagaimna sebenarnya aktifitas mereka

  6. @ semua: terima kasih atas komentar-komentarnya untuk tulisan saya di atas. tapi maaf, saya tidak bisa (dan tidak ingin) membahasnya lebih lanjut. sekali lagi maaf.

  7. Pingback: Die meisten « From This Moment

  8. Dear Dian…
    we are usually more considerate when knowing that there are people outside there who are gays. However, when the case comes to our friends, especially close friends, it can be ten times much harder to deal with…
    hard to believe…
    I do understand what you feel, coz I have the same experience… adn I don’t know whether my reaction at that time was wise enough…

  9. aq juga merasa bingung aq sk ce tp sk ma co jg aq tkt sm God pa lg aq tau itu zina tp aq bingung aq g bs nolak kl aq sk ma co
    aq tertekan kesepian, dan takut org tau
    tapi aq jg ekspansi cari pasangan
    bs g kasih saran

  10. Saya baru kenal dengan seseorang yang saya rasa adalah sahabat sejati saya, tetapi rasa itu lambat laun berubah jadi rasa sayang dan cinta. ya, saya mencintai sahabat saya yang jelas2 sama seperti saya -laki2-ketika perasaan itu saya katakan padanya. dia bilang itu baik dan dia juga menyayangi saya dan katanya rasa itu baik tapi dalam konteks islam katanya.
    dalam islam mecintai sahabat adalah cinta yang kekal nanti di syurga.
    dan akhirnya cinta saya ke sahabat saya membuat saya untuk bersemangat menggapai syurga, bersemangat mencari ridho ilahhi

  11. yup..saya search di google“sesama jenis“, hasilnya peringkat no dua.saya laki-laki, straight act,dan saya gay, setelah 12 tahun masa denial akhirnya saya terlibat scr fisik dengan seorang cow, dan ga ada penjelasan lain selain menerima ini sebagai pemberian(=takdir), kalo ngga gitu saya ga bakalan pernah selesai meratapi diri sendiri dan terus-menerus dicekam perasaan bersalah karena merasakan „kekaguman“ kalo melihat keindahan cowok.saya udah kehilangan kesempatan untuk berkembang mjd manusia yg lebih baik selama smp, sma dan kuliah, hanya karena setiap saya kagum sama cowok-yg notabene adalah temen2 di sekolah/kuliah- selalu didera rasa bersalah, juga ketika ngaji dan ikut taklim, ataupun saat2 di masjid.
    anda bisa bilang saya terkutuk karena hal ini, tapi saya lelah didera rasa bersalah dan berdosa, saya bosan menjadi pribadi yg ga punya kepercayaan diri, dan saya tidak mau kehilangan kesempatan untuk menjadi manusia yg bermanfaat karena selama belasan tahun selalu menarik diri dari lingkungan,a sosial, berkesan angkuh dan sombong, dan begitu introvert.
    Pernah ada site&milis hijrah euy(mengajak gay untuk menjadi straight versi muslim)- http://hijrah.uni.cc, saya tahu dari baca tulisan Is Mujiarso (aka MUMU)-jurnalis/penulis review film, dan milis itu aktif cuma beberapa bulan dan dari 2004 udah ga ada postingan baru
    dan ketika saya coba kirim e-mail ke almt2 e-mail di guestbooknya untuk share dan mencari jalan keluar untuk masalah saya, dari hampir 40an e-mail hanya 3 yg balas, dan mereka berumur di atas 35tahun dan udah pada nikah+punya anak, dan masih tetep ga bisa menghilangkan perasaan mereka, padahal ketika saya search di friendster email2 itu, sebagian berhasil ketemu profilnya.
    ternyata niat saya untuk share dan bertanya tidak berbalas
    dan kesimpulan saya: tidak ada seorangpun yang berubah straight, kalaupun dia menikah dan punya anak berarti dia mungkin memang biseksual dan bukan gay seperti saya.
    dan kalaupun saya pernah terlibat secara fisik dengan laki-laki lain, karena (dulu) ketika jatuh cinta (dngn laki-laki tentunya) saya selalu ga punya keberanian untuk mendekat dan mengungkapkan, padahal sampai sekarang pun saya masih menginginkan relationship without sex.
    karena kalau sex witout married adalah tindakan pidana menurut islam dan tidak ada pengakuan untuk pernikahan sesama jenis, maka hubungan sesama jenis tidak bisa dikatakan benar.
    Tapi mungkin saya edan, mimpi di siang bolong, notabene di luar sana cowok-cowok gay biasa melakukan hal itu, dan saya masih berharap relationship without sex……..
    Ayo yg mau share: kirim email anda ke: fe0187@gmail.com
    ..
    sukron untuk dian
    thanx buat semua
    wassalam

  12. gay<skrg hal yg,biasa bahkan secara terang2an aku pernah di ajak kencan ama gay,padahal aku cowok normal,mungkin gay tertarik ketampananku,aku punya tmn yg gay,tapi dia g berani terbuka,kalau mau bantu tmku yg gay itu tlg kontak di emailku yaaaaaaplis

  13. Emang hal kayak gini butuh keberanian.
    Sekarang ini ak aja lg coba buat lupain kalo ak cinta sama sahabatku sendiri.
    Aku udah mulai ’ngrelain‘ buat ngehindarin dy
    Biar intensitas ketemu jarang n bisa lupa gitu.
    Moga2 berhasil.Fight!

  14. gw cew, tp gw tomboy
    gw jg sering suka ma sahabat gw sndiri,,
    masalahnya,
    saat gw masuk dlm sbuah lingkungn baru,
    gw slalu ngincer seorg cew
    ga tau knp, mata gw sllu aja trtarik ma sesosok cew
    biz itu gw incer dy
    pgn tau siapa namanya,
    no hp nya, dll (i wanna know all bout her)
    stlh gw dapetin, gw dketin dy
    akhirnya qta temenan dan akhirnya sahabatan dket
    saat itu gw suka m dy
    mkin lama makin sayang
    gw sllu nomor satuin dy
    dan gw mmperlakukan dy spti seorg cow yg suka ma seorg cew
    pokoknya hmpir smw prnh bilang kalo gw mirip bgd m cowok mereka
    setau gw mrk enjoy aja gw perlakuin spti itu
    tapi gw sndiri yg mrasa aneh, gw ga mau jd lesbi, gw mau normal
    lama2 gw yg hindarin mrk, tp cara itu ga bkin gw mkin jau m mrk
    justru gw mkin dket

    untungnya ampe skr gw lom prnh mnyatakan prasaan gw m mrk
    dan mdah2an mrk ga tau

  15. Dear Cahedan..

    dari cerita kamu yg aq baca.. menurutqu itulah yg disebut dg „Tubuh Berbicara“ saat km sangkal rasa itu berati km jg menyangkal dirimu sndr &itulah beban terberat untukmu..

    99% manusia didunia ini adalah Bisexual krn Sexualitas itu sangatlah cair..

    Menurut Teman2 Ardhanary Institute & menurutqu juga bahwa sebenarnya Menjadi Lesbian Adalah Given/Anugrah
    krn Lesbian aq adalah Sosok Yg Unique Aq Pribadi adalah Orang Tomboy berkepala botak plontos tetapi aq memikli Payudara n Vagina

    Aktifitas sehari2 yg kami lakukan pun sama saja seperti orang lain sama sekali ga ada yg beda..
    yang membedakan kami adalah heteronormativity yg ada didalam pikiran kaum Heterosexual..

    Kita sama2 manusia sama2 Ciptaan Tuhan jadilah diri sendiri sebagaimana nyamannya kita
    My Body Is My Right Kan???

    Aq Bangga Menjadi Lesbian&Jika ada yg mengatakan bahwa lesbian itu dosa aq hanya senyam seyum aja
    Tuhan koq yg menentukan dosa atau tidaknya bukan manusia itu sendiri yg menghakimi seolah2 Ia adalah Tuhan…

    Tuhan Pasti Lebih Memahami Apa Itu Orientasi SexuaL
    Tidak ada bedanya Antara Hetero dan Homosexual..
    Justru Dengan Menjadi Lesbian malah jauh lebih Memiliki Kesetaraan Gender / Adil Gender.

    Tidak ada yg namanya Patriarkhi atau merasa menjadi Kepala Keluarga lantas Mendominsi hubungan.. Contoh Kongkrit Kentalnya Budaya Patriarkhi adalah Ahmad Dhani… itulah Budaya yg harus di Sembuhkan karena jelas2merugikan Semua Kaum Perempuan..

    Semoga ini dapat menjadi Pencerahan untuk semua Pembaca disini…

    Jabat Hangat
    Nio Hymena

  16. Berbicara tentang Come Out…
    Pertama kali aq come out kepada Sahabat Dari SMP Qu..
    awalnya dia ga percaya&kecewa sama aq jadi aq mundur menjauh dari dia sampai dia benar2merasa kehilangan aq dan akhirnya dia bisa menerimaqu sampai sekarang ini…

    Begitu juga dengan Kaka qu aq jg sdh come out awalnya dia marah murka dan menjadi Tuhan.. tp pelan2 aq memaparkan semua Pengetahuanqu seperti yg aq paparkan diatas..
    aq ga mau jadi orang yg munafik Dalam Hidup yg aq cari Hanyalah Kebahagiaan&Ketenangan Batin..

    Setelah qu tanyakan sama Kakaqu: Apalo mau? adelo ini pacaran sm cowo, nikah sama cowo tapi selama2 nya gw menderita seumur hidup gw krn sama sekali ga akn prn bisa mencintai laki2 manapun dan tetep berelasi sama Perempuan???

    Alhamdulilah Kakaqu langsung mengerti jg Bahwa Kebahagiaan Adiknya Hanyalah Bersama Dg Sesama Perempuan

    aq adalah Seorang Lesbian aq Ga mau menjadi Trans Gender aq juga ga mau jadi Trans Sexual..
    aq bisa menerima dan berkompromi dg Tubuhqu sendiri..
    aq mensyukuri apa yg suda Tuhan berikan tanpa harus merubahnya(mengoprasinya).

    Bundaqu jg sdh mengetahui anaknya adalah Lesbian Awalnya Dia Pun Menjelma Menjadi Tuhan tapi lama kelamaan iya cenderung cuek bebek hanya ngomel2 dikit liad rambutqu yg main lama makin botak parah sampe kaya bikshuni :D wehehhehehheheh sorry mom i feel cozy wit my new personality ;)

    krn inilah yg selama ini qu dambakan dalam hidupqu… Bekerja, Hidup mandiri di atas kakiqu sendiri dan menjadi diriqu sendiri seperti apa adanya aq bebas mengekspresikan diri tanpa ada unsur paksaan dari fihak manapun..

    Senang rasanya, Ga adalagi KeIndahan dalam hidup Selain Bisa Bebas memerdekaan hidupqu sendiri ;)

  17. Saya seorang gay tapi menolak apabila gay dijadikan gaya hidup. Saya menjadi gay bukan karena saya ingin, tapi semua hanya karena masa kecil. Apa salah saya menjadi seperti ini? Saya tdk mau disalahkan! Tahu apa saya tentang gay waktu saya blm baligh? Tentu tak tahu apa2. Akan tetapi kejadian waktu kecil itu perlahan2 mengikuti pola pikir saya. Ada apa dengan saya? Saya tdk tahu. Saya hanya menjadikan ini sebagai cobaan dari Allah.

  18. .,Gw „N“ !!. . .
    gw berhubungan sesama jenis udah brjalan 4 tahun,bermula dari ISENG kini gw bner2 TERJEBAK . . .
    ntah pha yg hrus gw lakuin !!. . .
    gw merasa gw udh nyaman hidup di kehidupan gw skarang,ntah sampai kapan gw kayak gini,gw sendiri jga ga tau . . .
    yg gw fikir sekarang adalah YANG MENCIPTAKAN RASA SAYANG,CINTA,SUKA ITU TUHAN jdi gw kmbalikan semua nya pda tuhan

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s