Seandainya

Saya membayangkan seandainya Nabi SAW yang mulia masih hidup saat peristiwa pengarikaturan dirinya terjadi. Apa yang akan dilakukannya? Akankah beliau marah dan langsung memberikan perintah perang? Bertindak anarkis?

Yang terbayang oleh saya adalah beliau tersenyum dan berkata „Biar Allah sajalah yang menjadi penolongku“. Tersenyum, seperti yang selalu beliau lakukan saat orang-orang menghinanya, mengejarnya, bahkan saat pedang hendak dihunuskan untuk membunuhnya.

Ah, beliau yang mulia, mungkinkah beliau malah menangis melihat umatnya menjadi anarkis karena „membela“ dirinya?  Sedangkan tawaran sang Jibril pun ditolaknya, karena tidak akan pernah ada yang bisa menolong selain Sang Maha Penolong. „Biar Allah sajalah yang menjadi penolongku“.

Lalu, kenapa umatnya tidak bisa mengendalikan nafsu yang sengaja dihembuskan tepat pada titik terlemah manusia?

Bayreuth, 060206

22:52

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s