Belajar dari Konflik

Aduh ibu Dian, nyatanya galak juga yaa, sampe murid keluar kelas gitu. Ah, memang hidup ini manis banget, banyak sekali hal yang masih kita bisa pelajari dan alami. Gue rasa, konflik kamu sama dia bisa berakhir dengan baik. „Konfliktfähigkeit“ memang sebuah resep yang sering manjur guna mengejar kemajuan. Ich wünsch Dir dabei viel Mut und Glück!

Begitu email yang saya terima di awal pekan ini, setelah sebelumnya saya sempat bercerita kepada teman saya yang menulis email tersebut bahwa saya hari itu marah di kelas kepada salah seorang mahasiswa saya di kelas Bahasa Indonesia. Rasanya, sepanjang menjalani pekerjaan dan hobby mengajar saya selama hampir 11 tahun, baru saat itu saya benar-benar merasa marah sampai wajah saya pun terasa panas. Mengapa? Mahasiswa saya tersebut tidak masuk pada minggu saya menerangkan tema asimilasi pada awalan “meN-“ dalam Bahasa Indonesia. Saya sudah memberinya bahan dan berkata padanya bahwa jika dia ingin bertanya silahkan datang pada saya. Hari itu, ketika saatnya latihan, saya pun masih menerangkan ulang bahasan tema tersebut dengan singkat. Maksud saya, agar mahasiswa tersebut tahu dan mahasiswa yang lain pun tidak lupa. Jika saya terangkan dengan detil, untuk mahasiswa lain mungkin akan membosankan.

Mahasiswa tersebut mulai merasa terganggu, karena dia ternyata tidak begitu mengerti tema tadi. Saya coba terangkan ekstra untuk dia, tetapi kemudian ternyata dia malah „menyerang“ saya dengan komentar-komentar yang cukup membuat telinga saya panas. Saya masih berusaha bersabar, walaupun memang mahasiswa tersebut sudah sering berkomentar yang tidak enak tentang Indonesia dan Bahasa Indonesia. Semakin lama komentarnya semakin membuat telinga saya semakin panas, sehingga nada suara saya mulai meninggi dan tidak membiarkan dia memotong pembicaraan saya lagi. Isi kalimat saya tetap netral, tetapi dari nada yang meninggi serta tatapan mata saya yang lekat padanya, orang sudah bisa melihat dan mendengar bahwa saya marah.

Mengapa? Saya berkata, saya hanya ingin dia tahu, bahwa saat seseorang belajar bahasa asing yang bukan bahasanya, dia harus membuka “kepala” dan “hatinya” serta menerima bahwa bahasa asing yang dipelajarinya itu berbeda dari segi struktur, kosa kata dan rasa bahasanya. Saat itu, “harus” diusahakan agar jangan sampai terjadi pembandingan bahwa bahasa yang satu lebih baik dari bahasa yang lain, atau bahasa yang satu lebih logis dari bahasa yang lain. Prasangka. Pembandingan. Kedua hal itu harus dihilangkan dulu dari dalam kepala dan hati. Jika tidak, yang akan muncul adalah rasa frustasi (jika bahasa tersebut ternyata “tampak” lebih sulit) atau rasa merendahkan (akibatnya bisa jadi menganggap remeh). Akibatnya, proses dan tujuan belajar pun tidak akan tercapai dengan baik.

Satu hal lagi yang harus diperhatikan saat belajar bahasa adalah kesiapan kita untuk menerima dan mengerti bahwa bahasa itu sesuatu yang “arbitrer” atau “semena-mena”. Kita tidak pernah tahu kenapa tempat duduk disebut “kursi” dalam Bahasa Indonesia, sementara dalam Bahasa Inggris disebut “chair” dan dalam Bahasa Jerman disebut “Stuhl”. Dengan demikian, kita tidak pula bisa menuduh kenapa banyak sekali imbuhan dalam Bahasa Indonesia sementara dalam Bahasa Jerman, semua kata benda memiliki jenis kelamin dan setiap kata kerja harus berubah bentuk menurut subjeknya. Kita tidak bisa membuat pembenaran bahwa Bahasa Jerman lebih logis karena aturan itu, sementara Bahasa Indonesia tidak logis karena imbuhan berubah menurut kata dasarnya, karena dalam Bahasa Indonesia pun ada bagian yang logis. Semua bahasa memiliki hal-hal yang bisa diterangkan dengan logis dan terstruktur, tetapi ada bagian-bagian yang juga hanya menuntut rasa dan pengertian. Seperti masalah onomatopoeia atau peniruan bunyi. Mengapa suara ketukan pintu di dalam Bahasa Indonesia disebut “tok, tok” sedangkan dalam Bahasa Inggris misalnya digunakan kata “Knock, knock” dan dalam Bahasa Jerman dengan “Klopf, klopf”.

Bahasa tidak hanya berhubungan dengan logika, tetapi juga dengan rasa. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga bisa menjadi identitas diri. Untuk itu diperlukan kesiapan untuk menerima dan belajar aktif, tidak hanya di kelas, tetapi juga di rumah. Bahasa pun memerlukan praktek dan latihan, karena bahasa baru berfungsi jika digunakan.

Itu yang saya sampaikan kepada mahasiswa saya tersebut dengan intonasi datar, tetapi dengan volume suara yang lebih keras dari biasanya, tekanan pad bagian tertentu dan tatapan mata lekat padanya. Semua yang ada di kelas diam sampai saya berhenti bicara, dan mahasiswa saya itu keluar kelas.

Saya sebenarnya tidak suka jika saya harus marah di depan kelas. Sebisanya jika ada situasi konflik seperti itu, saya selalu menyelesaikannya berdua saja, tidak di depan mahasiswa yang lain. Saat itu tidak bisa saya hindari, dan saya rasa ada baiknya juga saya ungkapkan dengan jelas di depan kelas agar mahasiswa yang lain pun mendengar dan mengerti. Tatapan mata saya memang ditujukan kepada mahasiswa itu, tetapi isi pembicaraan saya berlaku untuk yang lain juga.

Mengatasi situasi yang tidak mengenakkan, saya menunduk sebentar dan menarik nafas panjang, karena saya sudah merasakan wajah saya benar-benar panas karena marah, kemudian melanjutkan lagi pembahasan latihan yang sedang dikerjakan mahasiswa-mahasiswa saya. Beberapa detik saya perlukan untuk bisa bersikap normal kembali.

Tidak lama kemudian, mahasiswa yang keluar tadi kemudian masuk lagi ke kelas. Sesuatu yang tidak terduga dan sangat saya hargai. Bukan hal mudah tentu untuknya setelah keluar kelas kemudian masuk kembali. Apalagi setelah situasi yang tidak mengenakkan. Saya yakin, dia pun tentu merasa marah seperti saya, ditambah mungkin juga malu. Malu dan merasa bersalah karena dia tidak masuk selama seminggu, tidak membaca bahan yang saya berikan, tidak mempersiapkan diri di rumah, tidak bisa mengerjakan latihan dan sebagainya. Saya bisa menyimpulkan demikian, karena pada pertemuan sebelumnya, mahasiswa itu bisa dengan sempurna membuat sebuah dialog dengan struktur dan kosa kata yang sangat baik. Saya puji dia dengan tulus, dan dia tampak sangat senang dan bersemangat sekali. Namun, hari itu, mungkin dia merasa kecewa dengan dirinya. Dia merasa tidak nyaman, merasa bersalah, sehingga sebagai bentuk mekanisme pertahanan dirinya, dia “menyerang” saya lebih dulu.

Saya hargai “kebesaran hatinya” untuk masuk ke kelas dan duduk mengikuti pelajaran selanjutnya. Saya tersenyum padanya, dan bersikap biasa saja. Saya tetap memintanya terlibat dalam pembahasan latihan dan menunggunya sampai dia bisa menyelesaikan beberapa soal. Saya tetap memperlakukannya sama dengan mahasiswa yang lain. Lambat laun, kadar emosi saya dan dia pun menurun. Kami kemudian bisa tertawa-tawa lagi saat membahas suatu contoh yang lucu. Dia bisa menerima informasi baru yang saya berikan dengan lebih terbuka. Mungkin tetap dengan sedikit heran atau prasangka, tetapi tidak sebesar sebelumnya. Untuk itu, dia berusaha bertanya kepada saya. Pertanyaan-pertanyaan yang cukup lucu, menurut saya, tapi itu tidak apa-apa, karena itu menunjukkan dia ingin tahu dan minimal berusaha untuk tahu. Tugas saya adalah memberi tahu, jika kemudian dia masih tetap berprasangka atau menilai lain, maka itu di luar kuasa saya. Saya hanya berusaha menghargai mereka sebagai individu yang berbeda, dengan demikian saya harap mereka pun menghargai saya sebagai individu yang juga berbeda dari mereka.

Konflik bisa diselesaikan dengan baik, menurut saya. Terbukti setelah pelajaran selesai, dia tetap berpamitan kepada saya. Hari ini, pertemuan terakhir kami, saya mengadakan ujian lisan, mahasiswa tersebut bisa melewati ujiannya dengan sangat baik. Luar biasa malah menurut saya. Saya senang, karena dia betul-betul berusaha menyelesaikan ujiannya dengan baik. Tampaknya rasa senang saya tampak di wajah. Saya puji dia dengan tulus. Saya rasa dia pun bisa merasakan ketulusan pujian saya, sehingga wajahnya pun bersinar. Dia menarik nafas lega melihat senyum dan mendengar komentar saya tentang usaha dan hasilnya yang bagus. Sambil tersenyum ramah dia bertanya kepada saya, apakah saya semester depan masih akan mengajar dia, kemudian dia mengucapkan terima kasih dan selamat berlibur kepada saya. Tidak lupa dengan senyum ramah penuh rasa lega. Ada semangat yang tampak di wajahnya.

Perasaan saya? Tidak perlu ditanya lagi. Melihat dia minggu lalu kembali ke kelas pun sudah menghapus semua kekesalan saya.

Saya rasa, adalah sesuatu yang wajar jika kita berkonflik. Jangankan dengan orang lain, dengan diri sendiri yang nota bene mandiri pun kita sering berkonflik. Namun, konflik bukan untuk dihindari atau dijadikan penghalang untuk maju. Justru sebaliknya, konflik bisa dijadikan sarana untuk mengenal diri dengan lebih baik dan memahami orang lain dengan lebih baik.

Saya belajar banyak dari mahasiswa saya tadi juga dari mahasiswa-mahasiswa saya yang lain. Pengalaman belajar dan mengajar di Indonesia dan di Jerman mengajarkan saya untuk „belajar hidup dengan konflik“. Jika kita mau, konflik bisa dijadikan sarana untuk mengantarkan kita kepada kemajuan dan proses pembelajaran yang tidak akan pernah berhenti. Dengan demikian, hidup pun menjadi lebih manis dan indah karena masih banyak sekali hal yang bisa kita pelajari dan alami., seperti yang dituliskan teman saya di atas. Belajar bahkan dari konflik sekali pun.

Bayreuth, 010206

21:17

Advertisements

2 Gedanken zu „Belajar dari Konflik

  1. konflik memang menjadi bagian hidup sosial manusia, tapi hakikat tertingginya manusia harus bisa menghadapinya dengan cara apapun tergantung situasinya. kalau dibayangin lagi, caramu mengatasi konflik dengan indah seperti lagi maen teater gitu lo, bagaimana menunjukkan amarah tanpa harus marah2 secara konvensional. itu salah satu poin penting, karena terkadang, konflik keluar dari substansinya, melebar kemana-mana, tanpa disadari. ok, manusia memang tidak bisa menghindari konflik, tapi harus ada jalan menuju harmoni, begitu sih menurutku.

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s