Belajar, Mengajar, dan Bahasa (3)

Pulang ke Indonesia, hal yang signifikan adalah keputusan saya mengenakan kerudung, menyelesaikan kuliah saya, dan keinginan saya untuk mengajar di Jurusan. Ya, saya sudah jatuh cinta pada Bahasa Jerman. Saya ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan saya yang sedikit dengan mahasiswa saya kelak. Saya ingin mengajar.

Untuk mencapai itu, tentu saja saya harus menambah jam terbang mengajar saya. Sebelum masuk ke Jurusan, saya mengajar Bahasa Jerman di sebuah biro konsultasi bahasa dan menjadi guru Bahasa Jerman privat yang datang ke rumah murid-murid saya. Murid saya beragam. Ada yang muda ada yang tua. Ada anak kecil, remaja dan dewasa. Ada perempuan ada laki-laki. Dari mulai anak TK sampai mahasiswa S2. Ada wanita karir dan ibu rumah tangga. Mereka pun datang dari bermacam-macam etnis. Semua saya datangi, karena tempat tinggal saya tidak memungkinkan untuk dijadikan tempat kursus. Dari mulai ujung barat sampai ujung timur. Dari mulai utara sampai selatan. Itu saya jalani selama setahun lebih. Ketika saya masuk ke Jurusan, pekerjaan saya lebih berat, karena pagi sampai siang saya ada di Jurusan, sore sampai malam saya mengajar privat. Semua saya lakukan dengan senang hati walaupun saya harus pergi jam 6 pagi dan pulang jam 9 malam.

Ada kenikmatan tersendiri ketika saya mengajar. Mengajar kursus privat dan mengajar di kelas memang jauh berbeda. Di kursus privat saya bisa melakukan pendekatan interpersonal yang intensif yang memungkinkan saya mengetahui apa mau kami masing-masing. Kesulitannya adalah jika si pembelajar sudah merasa bosan, saya harus pintar-pintar mencari cara agar mereka tidak sampai bosan belajar sendiri. Mengajar di kelas tingkat kesulitannya lebih besar. Jika di kelas ada 20 orang murid maka itu artinya 20 kepala yang berbeda dengan minat, niat, dan kemampuan belajar yang berbeda pula. Saya juga harus pintar-pintar menyikapi ini.

Saya sendiri tidak tahu, entah dari mana datangnya, tetapi saya bisa sangat menikmati saat berada di depan kelas atau saat saya mengajar. Saya bisa lupa semua, yang ada hanya dunia saya, materi yang saya ajarkan dan mereka yang belajar. Mengingat dulu saya termasuk orang yang pemalu dan selalu gugup jika harus bicara di depan orang banyak, saya heran bagaimana mungkin saya begitu menikmati berada di depan kelas, bersuara lantang dan menjelaskan semua. Ini saya rasa keajaiban dan berkah tak terhingga. Saya sangat bersyukur.

Hal yang paling membahagiakan saat mengajar adalah jika melihat mereka yang saya ajar memandang saya dan mengangguk mengerti dengan mata berbinar. Atau jika kening mereka berkerut dan kemudian tersenyum cerah. Ada pencerahan. Itu adalah kebahagiaan tak terkira. Saya rasa kebahagiaan ini juga dirasakan oleh semua guru. Saya belum pernah merasakan kebahagiaan yang amat sangat besar selain mengetahui apa yang saya bagi bisa mereka mengerti dan berguna.

Berapa penghasilan guru? Semua pun tahu, tidak besar. Bahkan sering kurang. Kalau mau menggunakan hitung-hitungan ekonomi tidak akan pernah mencapai untung. Bisa seimbang saja syukur, tapi seringnya tidak. Namun, entah kenapa, hal itu tidak pernah saya pedulikan sejak saya mulai mengajar. Adakah kebahagiaan yang lebih besar selain mengetahui apa yang kita bagi bisa berguna? Adakah kebahagiaan yang amat dalam selain mendapat kabar, entah itu telfon atau email atau surat atau sekedar kabar dari murid kita, yang mengatakan bahwa dia menjadi Klassensprecherin? Atau dia lulus ujian bahasa dan bisa masuk perguruan tinggi terbaik di Jerman? Atau dia lulus dengan nilai baik dan menyambi kerja menjadi guru piano di Jerman? Atau dia yang menelfon saya mengajak berkunjung ke tempat tinggalnya? Adakah kebahagiaan teramat sangat saat ditelfon oleh seorang orang tua murid meminta saya datang dan kedua murid kecil saya menyambut saya dengan gembira, dengan Bahasa Jerman yang sudah lebih bagus daripada gurunya? Adakah keharuan yang mendalam selain menerima telfon dari seorang murid yang selalu ingat saya bahwa saya pernah jatuh pingsan saat mengajar di tempatnya, kemudian akhirnya dia mentraktir saya makan pizza? Adakah kebahagiaan lain selain mengetahui keberhasilan mahasiswa-mahasiswa saya, ada yang bekerja di sana di sini, menjadi staf orang pertama di negeri ini? Kebahagiaan yang juga sebanding dengan kesedihan jika mengetahui kegagalan murid atau mahasiswa saya.

Itulah nikmatnya menjadi guru yang bisa menghapus semua hitung-hitungan ekonomi tadi. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Ada kejadian yang lucu saat saya menjadi sekretaris Ikatan Guru Bahasa Jerman Indonesia Cabang Jawa Barat. Saat itu, selain menjadi sekretaris, saya pun mendapat tugas untuk membimbing guru-guru SMA untuk persiapan ujian Bahasa Jerman Tingkat Menengah. Masih banyaknya guru SMA yang belum mengantongi sertifikat tersebut, membuat saya yang sudah lebih dulu memiliki sertifikat tadi mendapat kesempatan membimbing mereka. Yang lucu, salah seorang dari mereka adalah guru Bahasa Jerman saya saat SMA. Sekarang saya yang harus mengajarnya. Awalnya canggung juga, apalagi karena ibu-ibu dan bapak-bapak guru itu memanggil saya dengan sebutan „Ibu“. Padahal usia saya jauh di bawah usia mereka. Namun, panggilan itu merupakan panggilan respek pada sesama guru. Di luar pun saya tetap dipanggil dengan panggilan „Ibu“ oleh mahasiswa dan murid-murid saya tadi.

Yang membanggakan sekaligus membahagiakan adalah dua orang guru bimbingan saya berhasil menjadi peserta terbaik dan mendapat kesempatan pergi ke Jerman dengan beasiswa. Betapa hati saya luluh lebur dalam kebahagiaan saat mereka memberitahukan berita bahagia itu kepada saya sambil mengucapkan terima kasih. Ah, betapa indahnya berbagi. Ilmu saya yang sedikit bisa bermanfaat sangat besar. Tentu saja kemampuan dan usaha mereka yang lebih patut diacungi jempol. Tugas saya hanya mengarahkan.

Setelah magang selama satu tahun, tahun 2000 akhirnya saya memutuskan untuk tetap di Jurusan. Satu persatu kursus privat dengan berat hati saya lepaskan. Saya bagi kepada adik-adik kelas saya yang saya pikir berkualitas. Alhamdulillah saya bisa berbagi rejeki dengan yang lain.

Saya semakin menikmati keberadaan saya menjadi guru. Bertemu dengan mahasiswa, mengajar di depan kelas, menyiapkan bahan, memeriksa pekerjaan mereka. Benar-benar setiap hari adalah hari baru untuk saya karena setiap saat saya selalu bertemu dengan manusia-manusia yang dinamis. Ya, hidup saya jadi lebih dinamis.

Dengan mengajar saya belajar banyak. Saya belajar bagaimana menyampaikan apa yang saya ketahui lebih dulu kepada mahasiswa saya. Saya berusaha terbuka pada mereka, karena mereka adalah manusia-manusia dewasa yang juga punya pikiran dan pendapat masing-masing. Saya berusaha melihat masalah dan kemampuan mereka dari berbagai perspektif. Dengan mengajar saya mengenal perilaku manusia. Dengan mengajar saya belajar mengenal orang-orang dan berbagai macam lingkungan sosial. Dengan mengajar saya berkesempatan membuka jaringan dengan berbagai pihak. Dengan mengajar saya terus belajar menjadi lebih baik. Dengan mengajar saya mengenal diri saya. Dengan mengajar saya sadar bahwa apa yang saya miliki dan ketahui sebenarnya bukanlah apa-apa. Cuma setitik air. Saya bukan apa-apa dibandingkan dengan ilmu Tuhan yang tidak akan pernah habis untuk direguk dan dicari. Dengan mengajar saya terus, terus dan terus belajar. Dengan mengajar saya hidup.

Ya, mengajar adalah hidup, pekerjaan dan hobby saya. Sedemikian mendalamnya kecintaan saya pada mengajar, saya pernah menolak tawaran pekerjaan menjadi staf di sebuah perusahaan Jerman dengan gaji besar. Saya tidak bisa membayangkan jika saya harus bekerja rutin dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore di belakang meja. Padahal jika mengajar, saya bisa bergerak bebas kesana kemari.

Selain berkesempatan membuat jejaring dengan berbagai pihak, saya pun bisa memanfaatkan waktu kosong saya dengan menerjemahkan. Bisa saya lakukan di rumah, ilmu pun bertambah, bahkan uang pun dapat. Saya pun termasuk rajin mengikuti seminar dan kongres, ikut diskusi, melihat pemutaran film, menonton teater dan kegiatan lain yang memuaskan hobby saya sekaligus menambah wawasan dan memperluas jaringan.

Lambat laun semua sudah jadi bagian hidup saya. Kebosanan kadang muncul, tetapi biasanya langsung hilang jika saya sudah ada di depan kelas. Yang lucu, saat liburan saya justru sering sakit karena saya tidak melakukan sesuatu.

Mengajar dan bahasa. Ya, saya mencintai keduanya. Bahasa untuk saya adalah pintu masuk ke dunia yang siap dijelajahi. Bahasa adalah hidup. Sekarang saya mengajar dan belajar bahasa. Dengannya saya bisa leluasa menggapai bintang-bintang, bulan, matahari, bumi, langit dan awan. Cita-cita masa kecil saya. Dengan bahasa ternyata saya mampu juga mencapai Cirrus, Cumulus, Stratus, Nimbostratus. Negeri di awan yang saya imajinasikan. Dengan bahasa saya bisa menyelami jiwa dan pikiran manusia. Tidak masuk fakultas psikologi pun ternyata saya cukup akrab dengan Freud dan Jung. Saya juga sering melakukan kerja sama dengan ilmu psikologi. Sangat logis, bahasa dihasilkan dan menghasilkan jiwa. Dengan bahasa saya berkelana ke desa, kota, lapisan atas, menengah dan bawah, perempuan dan laki-laki. Strata sosial dalam sosiologi yang bisa tampak dan muncul dalam fenomena berbahasa. Dengan bahasa saya menembus lorong waktu sejarah keberadaan manusia. Dengan bahasa saya merasakan keindahan cinta yang tersirat dan kekuatan kekuasaan. Dengan bahasa saya bisa menangkap nuansa kepekaan fenomena alam dan spirit yang ada di baliknya. Saya rasa, dengan bahasa saya jadi mencintai hidup. Dengan bahasa saya mengenal cinta. Dengan bahasa saya mengenal Tuhan.

Saya rasa tidak akan pernah ada habisnya jika saya membicarakan ketiga hal yang sepertinya sudah menjadi nafas hidup saya. Mengajar, belajar dan bahasa. Sekarang saya sedang berada lagi di Jerman. Di sini saya mempunyai dua peran. Saya menjadi mahasiswa dan di saat lain menjadi guru. Saya belajar Bahasa Jerman dan saya mengajar Bahasa Indonesia. Kombinasi kedua peran dan kedua bahasa tadi membuat hidup saya semakin terasa lengkap. Ya, saya memang jatuh cinta pada mengajar, belajar dan bahasa.

 

Bayreuth, 160106

21:29

Advertisements

Ein Gedanke zu „Belajar, Mengajar, dan Bahasa (3)

  1. hai….

    sayabaru membaca posting anda mengenai pengalaman mengajar.
    it’s so inpiration for me…..kebetulan sekali saat ini saya memiliki keinginan untuk mengajar….
    yah hampir sama pemikiran kebanyakan orang dengan profesi guru.but saya akan buktikan bahwa menjadi pengajar itu adalah tugas mulia yang hanya orang-orang terpilihlah yang dapat melakukannya.

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s