Belajar, Mengajar, dan Bahasa (2)

Ternyata, jika saya ingat sekarang, sejak kecil saya sudah „dilingkupi“ segala hal berbau Jerman. Akhirnya memang saya „terdampar“ di Jurusan Sastra Jerman Unpad. Pilihan kedua saya. Saya agak kecewa karena sebenarnya saya ingin sekali masuk ke jurusan Hubungan Internasional. Namun apa boleh buat, saya jalani juga masa-masa perkuliahan saya di Jurusan Sastra Jerman. Nilai-nilai saya selalu bagus. IPK saya selalu di atas 3,5. Menurut saya itu semua hanya keberuntungan saja, karena terus terang saya tidak mengerti terlalu banyak tentang apa yang saya pelajari.

Walaupun sejak SD saya sudah suka sastra, saya tidak terlalu antusias mengikuti mata kuliah sastra. Linguistik pun sama saja. Saya tidak pernah habis pikir kenapa orang harus susah-susah belajar sintaksis, grammatik, morfologi, dan semacamnya. Namun begitu, tetap saja nilai-nilai saya bagus. Saya rasa, sekali lagi, ini semua hanya keberuntungan.

Menginjak semester 4 saya malah sempat berniat pindah ke jurusan sejarah, karena saya lebih suka mempelajari sejarah dan hal-hal yang berbau manusia dan kebudayaan. Saat itu dosen wali saya tidak mengijinkan karena nilai-nilai saya yang bagus di mata kuliah jurusan Jerman. Akhirnya saya jalani juga masa kuliah saya dengan setengah hati. Saya juga heran, kenapa nilai saya tetap bagus.

Keinginan ke Jerman sudah luntur saat itu. Saya tidak terlalu antusias lagi. Masa kuliah mungkin masa saya mencari jati diri dan keinginan saya sebenarnya. Di saat itu pula saya mengalami kegelisahan eksistensial mencari diri dan Tuhan saya. Berlangsung beberapa tahun, sampai tahun 1995 saya sedikit mengasingkan diri dari lingkungan pergaulan saya di kampus. Saya mencari-cari apa sebenarnya keinginan saya, apa yang saya inginkan dalam hidup saya, apa yang saya kejar, apa yang menjadi prioritas saya, mau dibawa kemana hidup saya dan sebagainya.

Saat itu, saya ternyata memilih mengajar. Awalnya mengajar les privat untuk anak SD. Saya masih kuliah, dan saya mengajar usai waktu kuliah atau di hari libur. Murid pertama saya seorang anak perempuan yang agak tertekan karena ibunya yang galak. Akibatnya dia jadi cenderung menarik diri dan selalu merasa ketakutan. Saya yang tidak punya pengalaman apapun harus membantu dia belajar. Kesabaran luar biasa dibutuhkan menghadapinya. Pelan-pelan saya bimbing dan evaluasi. Saya belajar dari pengalaman setiap hari mengajar anak itu. Tidak mudah, karena pada dasarnya saya juga bukan orang yang penyabar. Namun, usaha kami berdua untuk saling mengerti ternyata tidak sia-sia. Hasilnya lambat laun mulai kelihatan. Anak itu mulai menunjukkan peningkatan di beberapa mata pelajaran. Saya selalu bicarakan perkembangan anak itu dengan ibunya. Ibunya cukup senang. Saya juga lihat anak itu mulai berani membuka diri, walaupun masih sering malas-malasan jika diminta belajar. Saya motivasi terus. Lambat memang, tapi ada peningkatan.

Kesimpulan saya saat itu adalah mengajar itu ternyata melelahkan. Saya hanya bisa bertahan sebulan, karena saya tidak bisa mempertahankan kondisi fisik yang harus mengajar setiap hari, sore hari sampai malam sementara saya masih harus kuliah di pagi hari sampai siang. Saya harus memilih kuliah atau mengajar. Akhirnya saya pilih kuliah.

Namun, saat itu mungkin titik awal saya memilih jalan ini. Kembali ke cita-cita awal saya. Menjadi guru. Saya menikmati saat-saat saya memberi tahu dia, mengajarinya. Saya sangat bahagia dan terharu melihat progresifitas murid saya, dan betapa bahagianya saya ketika dia menunjukkan nilai-nilainya yang membaik. Bercerita dengan semangat tentang hari-hari di sekolahnya. Kadang juga menangis bercerita tentang dia yang dimarahi oleh ibunya. Saya meneteskan air mata sedih sekaligus bahagia saat akhir pertemuan saya dengannya, dia membuatkan saya kalung dan gelang dari kertas yang dilipat-lipat berbentuk bintang buatannya sendiri. Untuk saya. Rasa bahagia dan haru yang tak terkira. Gelang dan kalung itu masih saya simpan sampai sekarang.

Selanjutnya saya ternyata mendapat kesempatan lagi untuk mengajar privat anak-anak SD. Semuanya ternyata menyenangkan. Saya kemudian juga mengajar Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia untuk orang asing. Pengalaman yang sangat berharga. Selain juga karena sejak 1995 itu saya sudah bisa menambah uang saku saya sendiri.

Pengalaman mengajar Bahasa Indonesia untuk orang asing membawa kesan tersendiri. Nilai-pelajaran Bahasa Indonesia saya sebenarnya tidak begitu bagus jika dibandingkan dengan nilai pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman. Ketika saya harus mengajar Bahasa Indonesia, berarti saya harus menguasai bahasa saya dengan baik juga bahasa asing yang saya pakai untuk berkomunikasi.

Murid saya saat itu dua orang. Orang Amerika keturunan Cina dan orang Australia. Namun, syukurlah saya tidak mengalami kesulitan berarti juga. Learning by doing. Saya akhirnya bisa melewati semua. Saya anggap semua itu adalah tantangan dan kesempatan saya untuk lebih maju. Relasi saya dengan kedua murid saya itu sangat baik. Ketika akhirnya saya harus berhenti karena lagi-lagi saya harus memilih antara mengajar dan kuliah, mereka berdua mengadakan acara perpisahan untuk saya dengan mengundang saya makan dan memberi saya kenang-kenangan. Cukup sedih memang, tetapi tidak ada pilihan lain. Sampai beberapa bulan, kontak kami kami masih berlanjut. Sampai mereka akhirnya kembali ke negara mereka masing-masing dan saya sibuk dengan hari-hari hidup saya yang masih berjalan. Dari salah seorang teman saya tahu, bahwa setelah saya berhenti, mereka pun tidak mengambil kursus Bahasa Indonesia lagi.

Tiba saat saya harus berkonsentrasi dengan skripsi saya, saya kemudian malah memutuskan pergi ke Jerman saat ada tawaran untuk menjadi Au-Pair di salah satu keluarga Jerman. Ijin dari orang tua sudah saya kantongi dan saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan berharga itu. Akhirnya mimpi lama saya menjadi kenyataan. Pertengahan tahun 1997 saya berkesempatan untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Jerman yang jadi impian saya. Köln, kota pertama yang saya tinggali. Di kota itu pula saya berkunjung ke Schokoladen Museum yang saya lihat di televisi dulu.

Saya tinggal selama setahun di Köln. Dalam satu tahun itu saya pergi ke tempat-tempat yang selama ini hanya saya baca dan saya lihat gambarnya di buku-buku, kalender atau televisi saja. Saya pergi ke Hamburg menyusuri jalan-jalan yang saya baca dalam roman „Deutschstunde“ dan mendengar suara burung camar bersahutan. Saya melewati sungai Rhein yang legendanya saya baca dalam buku-buku sastra. Tentang Rheingold, tentang Loreley. Saya mendatangi Hannover yang patung dua orang berpayungnya saya lihat di kartu pos kiriman sahabat pena saya. Saya pergi ke Herkules di Kassel yang saya lihat gambarnya di peta jalur dongeng Brüder Grimm. Saya terkagum-kagum pada Kölner Dom yang begitu tinggi dan besar seperti yang lihat di buku pelajaran Bahasa Jerman saya. Saya pergi ke Brandenburger Tor di Berlin dan ke Viktualien Markt di München seperti yang saya lihat di kalender dan buku koleksi kakek saya saat saya kecil dulu. Tidak hanya itu, ternyata saya pun bisa mengunjungi Paris, Amsterdam dan Luxemburg. Semua itu serasa mimpi untuk saya.

Setahun di Jerman, jauh dari keluarga dan teman, benar-benar menempa saya. Selain kemampuan Bahasa Jerman yang semakin baik, ada yang berubah dalam cara pikir dan tujuan hidup saya. Justru di Jerman saya menemukan Tuhan. Pencapaian spiritual yang saya rasakan berkahnya sampai sekarang. Semoga terus.

(bersambung)

Advertisements

5 Gedanken zu „Belajar, Mengajar, dan Bahasa (2)

  1. hallo,,
    sy puti parameswari siswa dari Semarang Indonesia.
    InsyaALLAH sy akan mengikuti pertukaran pelajar ke Jerman, dan InsyaALLAH brgkt akhir agustus 2006.

    sy ingin meminta bantuan Anda yaitu ttg informasi mengenai Jerman. bila Anda berkenan, Anda bisa mengirim email kepada sy di :
    puti_world@yahoo.co.id

    sebelumnya sy ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.
    bantuan Anda akan sangat berguna bagi saya.

    terimakasih..

  2. Guten Tag! ich bin yuni. saya mahasiswa bahasa jerman unimed. Saya ingin mengikuti klub mahasiswa bahasa jerman. bisakah anda memneritahu saya nama klub yamg ada di indonesia?jika ada saya mohon bantuannyauntuk mengirim ke email saya yunikobol@yahoo.com.
    und danke im vorraus

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s