Belajar, Mengajar, dan Bahasa (1)

Jika saya rekonstruksi lagi, mengapa saya mau menjadi guru seperti sekarang, ingatan saya langsung terbang ke masa saya kelas 3 sekolah dasar. Saya ingat sekali, saat itu guru Bahasa Indonesia saya bertanya siapa di antara kami yang ingin menjadi guru. Hanya saya sendiri yang mengangkat tangan. Ya, saya ingin jadi guru. Entah kenapa, begitu saja. Guru saya senang, karena ada di antara muridnya yang ingin menjadi guru. Teman-teman yang lain kebanyakan ingin jadi insinyur dan dokter.

Kenapa saya ingin jadi guru? Saat itu saya tidak tahu. Saya hanya senang bermain jadi guru-guru-an bersama teman-teman saya. Saya hanya senang memperhatikan guru-guru saya yang dengan nikmatnya memeriksa pekerjaan murid-muridnya dan memberikan nilai. Saya hanya tertarik melihat mereka begitu diperhatikan. Ya, pada awalnya mungkin karena memang saya ingin diperhatikan. Itu saja.

Bapak saya juga dulu bercita-cita menjadi guru matematika. Namun, di tengah jalan dia memutuskan membuka usaha percetakan sendiri. Saat itu padahal dia sedang kuliah di Fakultas Hukum dan di Jurusan Administrasi Negara. Saya tahu, bapak saya masih ingin menjadi guru, karena dia senang sekali mengajar. Mungkin saya ingin melanjutkan cita-cita bapak saya. Saya tidak tahu.

Lambat laun cita-cita saya berubah. Saya juga ingin jadi insinyur seperti cita-cita teman saya. Tepatnya menjadi seorang insinyur pertanian. Entah apa alasannya, saya lupa lagi. Mungkin karena pengaruh teman-teman saja.

Cita-cita itu tidak bertahan lama. Kelas 5 SD cita-cita saya berubah lagi. Saat itu saya ingin menjadi seorang astronom. Seperti Karlina Leksono. Rasanya hebat bisa menjadi seperti dia. Perempuan astronom pertama di Indonesia. Saya “mengenal” dia saat terjadi gerhana matahari total di Indonesia dan dia menjadi nara sumber yang membahas tentang fenomena alam tersebut. Wajahnya yang lembut dan cantik serta suaranya yang halus dan kecerdasannya membahas fenomena alam itu membuat saya tertarik. Dan dia perempuan. Itu lebih membuat saya tertarik lagi. Saya ingin menjadi seperti dia. Saya ingin menjadi seorang astronom.

Sejak kecil saya menyukai awan. Saya bisa duduk berjam-jam di depan jendela melamun dan menyaksikan awan-awan yang menurut imajinasi saya seperti negeri dongeng. Biasanya kepala saya kemudian merekonstruksi sebuah cerita tentang negeri di awan. Saya mengibaratkan awan seperti pulau-pulau yang indah dan damai dengan langit biru sebagai lautnya. Saya selalu mengangankan saya berada di sana: di sebuah negeri di awan.

Lamunan dan khayalan masa kecil saya tentang awan ditambah dengan kekaguman pada Karlina Leksono semakin membuat saya bersemangat mempelajari astronomi, juga bumi dan alam semesta. Saya membaca dan membuat rangkuman tentang jenis dan nama-nama awan, bagian-bagian matahari, planet-planet dan satelitnya, bulan dan bintang-bintang. Galaksi dan angkasa luar yang semakin lama semakin membuat saya takjub. Bahan-bahannya saya dapat dari buku-buku ensiklopedia bergambar untuk anak-anak yang saya pinjam dari teman saya. Kondisi ekonomi keluarga yang tidak berlebih, membuat saya hanya bisa meminjam buku-buku itu dan menyalinnya dalam buku catatan khusus.

Keinginan menjadi astronom itu masih berlanjut sampai kelas 2 SMP. Bahkan di saat itu saya sudah mulai mencari tahu bagaimana supaya saya bisa masuk ke Jurusan Astronomi ITB. Mata pelajaran apa saja yang harus saya persiapkan dengan baik. Namun, saat itu juga saya menyadari ternyata saya lemah di mata pelajaran fisika dan matematika. Dua mata pelajaran yang menjadi syarat untuk bisa masuk ke jurusan astronomi.

Tidak jadi soal, karena saat kelas 2 SMP teman-teman saya mulai berdatangan kepada saya untuk bercerita tentang masalah mereka, tentang kisah cinta mereka, dan sebagainya. Entah kenapa mereka begitu percaya kepada saya dan pada saran-saran saya. Lambat laun cita-cita menjadi astronom sedikit berkurang kadarnya, saya pun tertarik pada bidang psikologi. Rasanya senang sekali bisa membantu orang dengan saran-saran kita. Saya mulai berubah haluan dan mempersiapkan diri untuk kuliah di Fakultas Psikologi Unpad.

Cita-cita itu bertahan sampai SMA. Sampai saya mengetahui bahwa untuk masuk ke Fakultas Psikologi Unpad harus dari jurusan IPA. Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa saya tetap lemah di mata pelajaran fisika dan matematika. Bukan itu saja, saya pun memang tidak terlalu berminat untuk menekuni kedua mata pelajaran itu. Saat penjurusan di kelas 2, saya memang masuk ke Jurusan A2 (Jurusan Biologi), tapi saya kemudian memutuskan untuk pindah ke Jurusan A3 (Sosial) karena saya sadar saya tidak akan mampu mengikuti pelajaran di A2 dan saya tidak mau bertemu dengan mata pelajaran fisika dan matematika lagi. Cita-cita masuk Fakultas Psikologi Unpad saya hapus, walaupun saya masih tetap ingin menjadi psikolog. Artikel dan buku-buku tentang psikologi saya masih saya lahap. Saya pikir, jika tidak masuk ke Fapsi Unpad pun saya bisa masuk ke Fakultas Psikologi di UI atau UGM, yang memungkinkan mahasiswanya masuk dari Jurusan Sosial.

Selama masa sekolah di Jurusan A3, saya ternyata benar-benar menemukan hal-hal yang saya sukai. Masalah sosial, negara, budaya, sejarah, manusia dan bahasa. Saya menyukai hampir semua mata pelajaran yang diberikan di Jurusan A3, kecuali mata pelajaran ekonomi dan akuntansi. Sejak dulu saya tidak suka dengan mata pelajaran ini. Saya suka sekali mata pelajaran sejarah, sosiologi dan antropologi, tata negara dan bahasa Jerman, sebagai mata pelajaran bahasa asing yang diberikan di Jurusan A3 selain bahasa Inggris.

Cita-cita saya berubah lagi. Saya mulai ingin menjadi sosiolog, kemudian ingin menjadi antropolog dan arkeolog. Terakhir saya ingin menjadi diplomat yang bekerja di KBRI di Jerman. Karena itu saya belajar Bahasa Jerman dan Bahasa Inggris dengan rajin. Untuk itu saya sempat mendaftar program beasiswa di UGM untuk Jurusan Sosiologi dan ikut UMPTN mengambil pilihan jurusan Hubungan Internasional dan jurusan Sastra Jerman.

Cita-cita saya pergi ke Jerman dipicu saat saya melihat siaran di televisi tentang pabrik coklat di salah satu kota di Jerman. Pabrik coklat itu begitu menarik perhatian saya sehingga saya ingin suatu saat saya bisa mengunjunginya. Selain dari itu, ketika kecil saya suka sekali duduk di pojok kamar dekat lemari buku tua milik kakek saya untuk membaca bermacam-macam buku-buku miliknya. Selain buku-buku tentang Soekarno yang saya baca berulang-ulang sampa hafal, kakek saya memiliki koleksi buku-buku tentang Jerman, dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan dalam bahasa Jerman. Saat itu tentu saja saya belum bisa mengerti kedua bahasa asing tersebut, tapi saya bisa mengingat tempat-tempat apa saja yang di dalam buku itu. Salah satunya adalah gambar Viktualien Markt di München.

Saya juga terkagum-kagum dengan gambar pegunungan Alpen yang ada di kotak pensil warna saya. Saya senang sekali melihat gambar Brandenburger Tor di Berlin yang penuh cahaya serta istana „dongeng“ Neuschwanstein yang ada di dalam kalender yang dipasang di rumah saya. Sejak kecil saya sudah terbiasa melihat bapak saya menyusun huruf-huruf germania untuk kemudian dicetak dengan menggunakan mesin handpress Heidelberg miliknya.

(bersambung)

Advertisements

2 Gedanken zu „Belajar, Mengajar, dan Bahasa (1)

  1. kamu kuliah di mana?
    Trus waktu testnya gimana?
    trus persaingan antar mahasiswanya gimana.soalnya saya pingin ambil jurusan bahasa jerman. tapi di sekolah saya tidak di ajarkan bahasa ini, lalu bagaimana saya bisa masuk universitas,dilihat dari segi apa kemampuan saya, terimakasih. mohon segera di balas ya,,,
    trus administrasinya berapa? makasi bgt yaw…

  2. aku sekarang lagi kuliah di program study hubungan internasional, aku juga suka banget pelajaran bahasa asing, and pengennya sih menguasai lebih dari lima bahasa asing. aku juga suka mempelajari budaya-budaya satu negara dengan negara lain.

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s