It’s a kind of „merajuk“

Bermula dari percakapan serius pada suatu malam antara saya dan dua orang sahabat, satu orang berasal dari Thailand keturunan Melayu dan seorang lagi asli Jerman. Malam itu kami berdiskusi cukup “panas” tentang masalah bid’ah, sufisme, silaturahmi, dan lain sebagainya. Lalu apa hubungannya tema-tema tadi dengan “merajuk”?

Hubungannya adalah setelah diskusi tadi, saat semua sudah “cukup tenang” kembali ke aktifitasnya masing-masing: saya membaca buku, teman saya dari Thailand sibuk membuka-buka situs internet, dan teman saya si Jerman kembali pulang ke suaminya. Tak seberapa lama setelah dia pulang, dia menelfon kami dan bertanya apakah dia bisa menginap di tempat kami malam itu. Tentu saja kami kaget dan bertanya-tanya apakah kami salah bicara atau –ini yang paling mungkin- suami istri itu bertengkar. Namun, karena masalah apa? Akhirnya setelah „menenangkan“ diri kami masing-masing, kami tunggu kedatangan teman saya. Tak lama kemudian, benar-benar tak lama kemudian, ia masuk dengan membawa selimut dan bantalnya. Cukup tenang. Berbincang sejenak, kemudian teman saya bercerita sedikit kepada saya. Katanya, dia tidak mengerti mengapa suaminya tiba-tiba kesal dan memintanya pergi, tetapi tidak mengemukakan alasan apapun, hanya diam. Bahkan telefon serta pesan pendek pun tak berbalas. Antara merasa tidak nyaman sudah “meninggalkan” suami dan kesal didiamkan begitu, dia berusaha tidur. Setelah shalat shubuh dia memutuskan pulang, karena rasa bersalah sudah meninggalkan suami mengalahkan kekesalannya.

Masih sambil berbaring di tempat tidur, teman saya dari Thailand bertanya ada apa. Saya ceritakan apa yang diceritakan teman saya si Jerman tadi. Sambil kembali menarik selimutnya dan memejamkan mata, dia berkata ringan: “ah, merajuk”. Saat itu pula saya langsung tertawa. Tentu saja. Suami teman saya itu tentu “merajuk”. Mengapa?

Saat sarapan, kami membahas masalah “merajuk” itu tadi. Kami duga, “merajuk” itu sangat sering ditemui di budaya “timur”, Asia dan negara-negara Arab di antaranya. Jerman tidak mengenal fenomena “merajuk” tadi. Sebagai negara yang memiliki budaya konteks yang rendah, setiap fenomena yang muncul di dalam „hidup“ masyarakat Jerman harus dibahasakan dan diverbalkan, termasuk emosi marah atau perasaan cinta dan rindu. Lain dengan budaya „timur“ yang memiliki budaya konteks tinggi, bahasa sering tidak lagi begitu penting. Ujaran tak penuh pun masih bisa dimaknai dan dimengerti oleh pelaku komunikasi. Setelah saya ingat-ingat, tidak ada padanan kata yang cocok dalam Bahasa Jerman untuk istilah „merajuk“ ini, tidak pula dalam Bahasa Inggris. Ini hal yang masuk akal, karena suatu kata tidak akan muncul jika mereka tidak mengenal fenomena atau karakter tersebut dalam pengalaman berpikir dan pengalaman hidup mereka. Kami tertawa saat membayangkan bahwa mungkin akan sulit menerangkan fenomena ini kepada teman saya. Sudah terbayang di benak kami bagaimana reaksinya. Teman saya si Jerman pasti akan berkata „Tidak logis. Tidak mungkin itu, bagaimana mungkin bisa marah tanpa alasan?“.

Suami teman saya itu orang Marokko, oleh karena itu kami langsung menebak bahwa dia sedang merajuk pada istrinya. Belakangan ini istrinya memang lebih banyak menghabiskan waktu bersama kami, bahkan sering sampai malam hari. Kami semakin yakin, bahwa suami teman kami itu merajuk, karena saat „marah“ dia meminta istrinya „pergi ke tempat teman kamu“ bukan sekedar mengucapkan kata „pergi“. Apa artinya itu jika bukan „cemburu“ dan „ingin diperhatikan“ karena istrinya sudah lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya dibandingkan dengan dia.

Benar saja, saat kami coba terangkan kepada teman kami, dia tidak mengerti. Untuknya, hal itu tidak masuk akal. Jika orang marah, harus ada alasan. Tidak tiba-tiba marah dan membuatnya merasa bersalah serta bingung. Atau jika memang si suami „kangen“ dan ingin agar istrinya lebih sering menemani dia, kenapa tidak diungkapkan saja. Kami terangkan sekuat tenaga, bahwa tidak pernah ada alasan logis untuk „merajuk“, tidak pernah bisa diterangkan alasan mengapa orang „merajuk“, tidak pernah bisa dibahasakan dan dibahas mengapa orang „merajuk“.

Orang yang „merajuk“ biasanya diam atau berkata-kata pedas atau berkata „berkebalikan“ dengan maksud yang sebenarnya. Misalnya, meminta pergi padahal sebenarnya dia ingin orang itu tetap tinggal, atau berkata benci padahal sebenarnya dia cinta. Kelihatannya seperti munafik, tetapi bukan. Itu semacam „kemanjaan“ karena ingin diperhatikan lebih. Jika berada dalam porsi yang tepat, „merajuk“ bahkan bisa membuat relasi menjadi semakin harmonis dan romantis.  Namun, perlu dicatat, „merajuk“ akan berhasil jika pasangan „mengerti“ dan cukup peka bahwa pasangannya sedang „merajuk“. Jika terjadi pada orang yang tidak cukup peka atau mungkin sedang dalam situasi dan kondisi yang „menekan“, bisa mengakibatkan „perang“ juga. Seperti yang terjadi pada teman saya orang Jerman itu. Dia masih „emosi“, sementara suaminya sudah „biasa-biasa“ saja. Dia masih bertanya-tanya „kenapa“, suaminya sudah bercanda-canda lain lagi. Teman saya hanya bisa menepuk-nepuk kepalanya sambil berkata “Tidak mungkin. Tidak mungkin.”

Teman saya sudah kehabisan akal untuk memaklumi fenomena “merajuk” tadi. Sebagaimana kuatnya pun kami berusaha terangkan, dia tetap tidak bisa mengerti. Namun, tampaknya memang tidak bisa diterangkan, hanya perlu kepekaan saja untuk membedakan mana “marah betulan” atau “hanya merajuk”. Teman saya akhirnya meminta saran kami –tepatnya teman saya dari Thailand, karena saya sendiri bukan orang yang cukup peka untuk mengenali orang yang “merajuk”- bagaimana menghadapi orang yang „merajuk“. Disarankan untuk membiarkan sejenak, atau berpikir dan bertindak sebaliknya. Misalnya, jika dia meminta pergi, maka tinggallah. Jika dia berkata benci, maka berpikirlah bahwa dia ingin mengucapkan cinta. Masih sambil terheran-heran, teman saya mengangguk-ngangguk, berusaha mengerti. Mungkin dia pikir „das ist doch unlogisch“.
 

Ya, „merajuk“ memang tidak masuk akal. “Merajuk” tidak akan pernah terjadi pada relasi yang “biasa-biasa” saja, melainkan pada orang yang memiliki intensitas relasi dan perasaan yang intim dan kuat. Di antara suami istri, pasangan kekasih, orang tua dan anak, saudara kandung, atau sahabat dekat. Pada relasi „biasa“ apalagi relasi „resmi“, orang cenderung menjaga citra dirinya, karena „merajuk“ itu tampak sebagai sifat yang kekanak-kanakan. Itu tentu bisa „merusak“ citra diri seseorang.

Apa tujuan „merajuk“? Biasanya orang „merajuk“ jika dia merasa sudah tidak diperhatikan atau perhatian yang diberikan berkurang. „Merajuk“ juga sering dipakai jika orang „menginginkan“ sesuatu dan „harus“ dikabulkan“. „Merajuk“ juga bisa dipakai untuk „menunjukkan rasa bersalah“ atau „minta maaf“ karena kesalahan yang dilakukan, tetapi tidak bisa atau tepatnya tidak mau diungkapkan dengan verbal. „Merajuk“ biasanya juga dipakai sebagai ungkapan cinta dan kemanjaan. Jika dilihat beberapa tujuan dari „merajuk“ tersebut, memang tampak lucu dan tidak masuk akal. Namun, yang terjadi memang seperti itu.

Saya termasuk orang yang tidak cukup peka terhadap „rajukan“ seseorang. Namun, saya bisa langsung mengerti bahwa fenomena itu ada. Mungkin karena latar belakang budaya saya yang penuh dengan “rajukan”. Saya pun jadi teringat bahwa dulu saya sering kali kesal pada teman dekat saya, karena dia tiba-tiba diam atau marah-marah tanpa alasan jelas. Saat itu saya sering menanggapinya dengan marah pula karena saya kesal dan lelah menduga-duga apakah dia marah karena saya. Sikapnya itu membuat saya sering merasa bersalah, padahal sebenarnya dia hanya kangen dan ingin lebih saya perhatikan. Namun, karena kekurangpekaan saya, dan mungkin saya terlalu “ambil pusing” dengan semua itu, akhirnya fenomena “merajuk” tadi berubah menjadi pertengkaran.

Tidak saya pungkiri, sadar tidak sadar saya suka “merajuk” pula, biasanya dengan diam. Namun, saya tetap menganggap “merajuk” ini juga sesuatu yang tidak masuk akal. Melihat contoh teman saya si Jerman tadi, saya jadi lebih mengerti, bahwa itu wajar.

Tiba-tiba, saya teringat bahwa saat itu saya punya tamu –seorang teman asal Indonesia-, yang sempat saya “tinggalkan” dua hari karena saya ada undangan. Saat saya bilang padanya, dia berkata “pergi saja”. Wah, sekarang saya berpikir, jangan-jangan dia pun “merajuk” dan meminta saya pergi padahal sebenarnya menginginkan saya tinggal. Sampai di rumah saya tanya dia, apakah dia “merajuk”. Tentu saja jawabannya “tidak”. Namun, sekarang saya sudah “tahu” bagaimana saya harus bersikap. Saya tinggal di rumah dan saya buatkan dia makanan kesukaannya serta seharian saya temani. Dia senang. Ketika kemudian saya tanya “am I a bad host?”, dia bilang “iya”. Saya tertawa. Entah itu “merajuk” atau bukan, bermakna kebalikannya atau bukan, saya tidak peduli lagi. Mungkin memang itu it’s a kind of “merajuk”. Tidak mudah ternyata.

 

Bayreuth, 200905

10:20

Advertisements

3 Gedanken zu „It’s a kind of „merajuk“

  1. Kenyataannya merajuk itu bisa berlaku pada sesiapa aja, ya…bagi pasangan yang saling suka dan sayang-menyayangi…akan berlaku juga perbuatan merajuk.

    Ada kalanya perbuatan merajuk itu sangat jelas kenapa ia berlaku.

    Salah-satunya, masalah komunikasi. Pabila ada konflik pada komunikasi maka salah faham akan berlaku. Bagi pihak yang terus-terus nga mengerti, mereka akan pergi dan merajuk aja.

  2. Kadang ada rasa capek juga yah ngadepin org yang merajuk.
    terutama kalo kita sendiri dlm kondisi yang g Fit, qta sama2 capek n g bisa nurutin maunya si dia. Rasanya tinggal Ilfeel (ilang feeling) gitu….

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s