Pada Mulanya adalah Meja

Pada mulanya adalah meja.[1] Pada mulanya adalah email saya untuk salah seorang sahabat. Pada mulanya adalah mata kuliah Pädagogische Professionalität yang saya ikuti. Pada mulanya adalah pekerjaan yang begitu saya cintai. Pada mulanya adalah kata, tujuan, kekuatan, cinta dan perbuatan, seperti yang dikatakan Faust di ruang belajarnya.

Apa hubungannya meja dan ruang pribadi bagi guru, seperti yang saya tulis di atas? Mengapa meja? Mengapa ruang pribadi?

Pada mulanya adalah surat-surat elektronik saya dengan seorang sahabat[2] sebagai berikut:

Saya:
aku baru pulang kuliah pädagogische professionalität. semakin ke sini dan semakin banyak belajar aku jadi semakin jiper memutuskan jadi guru. berat banget euy. tugas dan tanggung jawabnya gede banget. pekerjaan -kalau boleh dibilang pekerjaan- yang cuma dipilih „orang-orang gila“. tadi ngebahas tentang Lehrerindividualismus. In a way, selama ini yang jadi fokus bahasan selalu murid, gurunya sendiri jarang dibahas dan diakomodasi (paling sering adalah bahasan guru harus begini begitu, ngga boleh ini itu). padahal jadi guru itu berat banget. Dia juga punya kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya, punya kebutuhan untuk mengembangkan dirinya, punya kebutuhan untuk „sendiri“ sejenak dengan diri dan murid-muridnya (tanpa dicampurtangani oleh institusi, kollegial, orang tua murid, masyakarat juga pemerintah). ini sulit kan. makanya Terhart „ber-utopi“ tentang Lehrerindividualismus itu. Lehrer als Einzelkämpfer. Wuih…sendirian lagi bo! idealnya, kata dia, kalau semua guru menyadari: ich kämpfe allein, mereka akan do the best. nah, kalau semua einzelkämpfer dikumpulkan, maka akan jadi kämpfer yang kuat.

contoh nyata dia mengusulkan bahwa masing-masing guru itu sebaiknya punya ruangan sendiri di sekolah, yang bisa dia jadikan „rumah“ keduanya, dia bisa kerja dengan tenang, diapa-apain juga boleh, tanpa direcoki oleh yang lain, tempat murid juga bisa datang padanya tanpa takut dilihat oleh yang lain, tempat dia menjadi dirinya (selama ini yang terjadi, ruang guru luas aja -ngga di indonesia ngga di jerman, kalau di universitas di jerman memang masing-masing dosen punya ruangan kerja sendiri- jadinya? tempat gossip, hehe).

ya, ada vor- und nachteilenya sih, wie immer. tapi, kalau untukku yang cenderung percaya bahwa awalnya ada di diri sendiri dulu, usulannya Terhart bisa dicoba juga. kupikir, individual -dalam arti memberi ruang cukup banyak untuk diri sendiri- tidak selalu membuat orang jadi a-sosial kok. begitu. Na ja…ini juga debatable. karena ngga gampang. nanti akan muncul masalah „klasik“: uangnya dari mana? ngga ada tempat cukup, dlsb-nya. tja…

Teman saya:
soal ruang ‚pribadi‘ untuk guru, mungkin kamu benar. soalnya dari dua konseptor pendidikan yang saya kenal, dewey dan fraire, memang mereka juga nggak pernah sama sekali menyinggung masalah kepentingan ruang pribadi ideal bagi guru atau pendidik. mereka juga lebih menekankan konsep pendidikannya pada kepentingan murid semata. tidak pernah menyinggung mengenai kepentingan para pendidik sendiri untuk mendapatkan ruang ‚pribadi‘ yang cukup luas untuk bisa mengakomodir semua kepentingan kontemplatifnya.

hanya saja saya berpikir sederhana dalam hal ruang pribadi itu, bahwa menurut saya, seperti halnya profesi lain yang juga berkonsentrasi pada tataran pemikiran, guru memang semestinya mempunyai ruang sendiri untuk berkontemplasi. sebab kalau tidak, mana mungkin ada guru-guru besar seperti einstein, wittgenstein, dewey, fraire, etc, etc.

hanya saja ruang itu, menurut pendapat sederhana saya, mungkin tak perlu hadir secara kongkrit. atau mesti benar-benar punya ruang sendiri secara nyata. sebab sederhananya, ruang pribadi untuk melakukan kontemplasi juga bisa didapatkan lewat ruang abstrak. tapi ini semua debatable ya.

Saya:
tentang ruang pribadi untuk guru, aku jadi tertarik dengan pendapatmu tentang „ruang pribadi untuk melakukan kontemplasi juga bisa didapatkan lewat ruang abstrak“. menurutmu, ruang abstrak seperti apa yang kira-kira bisa diterapkan? aku misalnya, cukup sulit untukku berabstraksi tanpa ada visualnya (lebih banyak pakai otak kiri soalnya, hehe). kayak sekarang nih, harus dituntun :)

Teman saya:
berkontemplasi juga bisa didapatkan lewat ruang yang abstrak itu, maksud saya adalah: kita nggak selalu harus punya ruangan khusus sendiri untuk melakukan kontemplasi. sebab orang bisa kontemplasi di mana saja. di bus, di wc, di trotoar, di jalan, di mal, dst, dsb. saya pernah baca, ada beberapa penemu dunia, yang ternyata menemukan ide-ide besarnya bukan ketika dia berada di ruang kerjanya. tapi ketika dia sedang mandi, di wc, etc, etc.

ini sebenarnya memang nggak sepenuhnya ‚abstrak‘ sih ya. sebab kan mall, jalan, trotoar, wc, dst, juga ‚ruang’…. tapi maksud saya adalah: kalau ruang pribadi khusus nggak ada (misalnya dalam konteks para guru, terutama di indonesia, yang anggaran pendidikannya kecil dan pemerintahnya nggak terlalu memperhatikan kesejahteraan dan kepentingan para guru untuk ‚berkembang‘), mungkin bisa pakai solusi itu: berkontemplasilah di mana saja. sebab saya percaya, bahwa ide besar atau pemikiran-pemikiran besar dan genuine dari para pemikir atau siapapun, pada umumnya lahir bukan karena si pemikir atau orang itu punya ruang kerja khusus yang sangat spesial. Tapi karena intensitas dia menggeluti pemikiran-pemikirannya. karena intensitas yang kental dari kontemplasinya untuk mengolah pemikiran-pemikirannya.

contoh kecil saja ya: ketika kamu menuliskan kalimat-kalimat cerdas, padat dan begitu tepat pada saat menceritakan mengenai impresi kamu tentang bagaimana orang-orang jerman (praha?) menyikapi kafka dan rumahnya, saya yakin banget, bahwa impresi ‚menakjubkan‘ itu lahir bukan karena kamu punya kamar sendiri yang begitu nyaman untuk berkontemplasi di bayreuth sana. tapi kalimat-kalimat itu lahir, karena kamu punya intensitas yang kental dalam menilai kafka dalam konteks budaya jerman (praha?) saat ini yang sudah begitu modern dan hampir melupakan part of their briliant-gloomy culture.

Saya:
mumpung sedang in dengan tema pendidikan dan ruang kontemplasi pribadi. Saya setuju dengan apa yang kamu tuliskan, bahwa orang bisa „berkontemplasi“ di mana saja. dan..(btw, kok jadi saya ngomongnya?! hihi), oke, dan aku yakin bahwa semua orang melakukannya. mereka berpikir di manapun mereka berada. mereka menemukan ide-ide brilian misalnya di kamar mandi atau di dapur sambil masak atau sambil momong anak. saya yakin, hundertprozentig, semua guru pun demikian. di mana saja, bisa. setuju. untuk aku misalnya, kamar mandi jadi ruang yang paling privat yang membuahkan banyak ide dan pikiran. untuk yang lain mungkin kamar tidur atau bis kota atau entah aku ngga tahu.

sekarang kita persempit masalahnya pada guru. kita ngga usah bedakan guru di jerman atau guru di indonesia, atau guru di manapun, karena akan sama saja: guru mengajar.

ide muncul, tatarannya masih abstrak. sementara mengajar tidak hanya menyampaikan ide saja. pekerjaan seorang pengajar (dan pendidik) tidak hanya ngomong di depan kelas, tapi dia pun (idealnya) harus bisa menunjukkan. mengajar dan mendidik itu tak lain dari „seni menunjukkan dan menyampaikan“. apa yang harus ditunjukkan? apa yang harus disampaikan? untuk apa? Dan paling penting adalah bagaimana caranya? ada ide, ada proses dan ada hasil. dalam proses itu diperlukan sarana. medium.

aku pikir dalam semua pekerjaan (sebaiknya) prosesnya sama: vorbereitung, die tat, nachbereitung. persiapan, pelaksanaan, evaluasi. supaya ada schritt. tidak mandek. tapi berkembang terus, dinamis.

nah, di kasus guru (ini sama, indonesia dan jerman, dan…keine ahnung was), guru dianggap kerjaan sampingan (bahkan gurunya sendiri pun merasa begitu). daripada ngga ada. jadinya, ide-ide hasil kontemplasi tadi hanya sampai pada tataran ide saja. kalau ada yang mau berkembang, ide itu akan dia wujudkan ke sesuatu yang nyata (tapi ini jarang banget). atau paling banter sampai tataran ngomong yang juga abstrak. ini anak ngerti atau ngga, guru ngga peduli lagi.

contohnya gini aja: aku mau menerangkan tentang siklus air nih, bagaimana terjadinya awan, bagaimana terjadinya hujan dll. aku punya ide di kamar mandi, hmm…jadilah satu puisi (beneran ini mah, aku pernah bikin puisi tentang siklus air, hehe, idenya dapat ketika aku sedang di angkot :)). aku harus ngajar di kelas 2 SD nih. aku harus ngapain? ngga mungkin anak-anak itu kukasih puisi yang bahasanya padat begitu. tahapan umur segitu masih perlu visualisasi. aku bawa ke laut? lihat awan? bagus juga. tapi kenapa ngga aku coba bikin sesuatu yang interaktif yang bisa melibatkan anak-anak, sehingga proses kognisinya akan lebih menerap. caranya gimana? program power point oke juga kayaknya.

Akhirnya aku duduk di depan komputer, aku buat animasi tentang titik air dengan mata, tangan dan kaki supaya lebih menarik. aku ambil gambar tentang laut, awan dan hujan. kubuat sedemikian rupa sehingga jadi siklus, sehingga anak-anak terbayang, oh, begini toh air berputar. anak-anak bisa mencet-mencet tuts komputer, lihat gambar di layar, animasi yang lucu dan bergerak-gerak. jadi satu CD deh untuk pelajaran ipa. puisiku kusimpan di mana? bisa untuk kelas yang lebih tinggi dan untuk pelajaran lain.

aku perlu apa? aku perlu ruang, tepatnya di sini meja dengan komputer yang membuatku bisa bekerja. ruang dan tempat yang membuatku bisa bekerja dengan tenang untuk mewujudkan hasil kontemplasi di ruang abstrakku.

itulah kenapa untukku sendiri ruang itu perlu -atau jangan ruang lah, karena kayaknya unrealistisch untuk diwujudkan- ya..minimal meja yang memungkinkan si guru bisa „bekerja“ mewujudkan ide-ide hasil kontemplasinya itu. tidak perlu komputer, karton pun bisa misalnya. kalau gurunya kreativ, bisa pakai apa lagi aku ngga tahu. jadi tepatnya mungkin ruang kreativ untuk mewujudkan ide yang abstrak itu.

einstein perlu apa? perlu lab. wittgenstein perlu apa? perlu kertas atau mesin ketik mungkin atau mungkin papan penunjuk (dulunya toh dia naturwissenschaftler juga..). guru perlu apa? banyak hal. Salah satunya meja.

yang terjadi saat ini adalah, karena guru masih dianggap pekerjaan sampingan, vorbereitung tadi hanya dilakukan sekadarnya, sekilas saja. dimana guru melakukan vorbereitung? di rumah biasanya. apa yang orang lakukan di rumah? apalagi kalau gurunya berkeluarga? banyakan istirahatnya atau entspannung. apakah seorang suami atau istri -ini kebanyakan di indonesia- punya tempat dan waktu untuk dirinya sendiri? jarang. Ketika menikah, mereka sudah bertukar identitas, hehe.

jika mereka sadar bahwa mengajar adalah pekerjaan (apalagi kalau mereka punya meja sendiri), akan ada rasa tanggung jawab di situ, akan ada rasa memiliki di situ. akan ada „tuntutan“ bahwa saya harus „mengisi“ meja (kerja) saya dengan bekerja. dan mengajar adalah bekerja. orang „seharusnya“ ngasih yang terbaik untuk kerjaan itu. apalagi kalau dia dibayar. Apalagi untuk pekerjaan sebagai seorang guru (makanya gue jiper, hehe).

aku ngga akan ngasih contoh jauh-jauh. ini dari lingkungan kerjaku sendiri saja: di jurusan. siapa yang punya meja? ketua jurusan. lektor tamu, dan bagian administrasi. siapa yang kerja? Mereka bertiga. yang lainnya, termasuk aku, kerja ngga? ngga. meja besar itu cuma jadi tempat „transit“ kami sebelum masuk ke kelas berikutnya. persiapan? sekadarnya saja. kenapa? bukan meja kami. meja bersama. yang ada ya kegiatan bersama. apa? ngobrol, makan. menyenangkan.

ketua jurusanku, dia menghasilkan dan nulis sesuatu (kita bicara hasil saja dulu ya, soal kualitas nanti saja). Bagian administrasi? Banyak banget yang dia kerjakan di meja dan komputernya itu. Lektor tamu juga sama.

Lihat, bahkan aku pun tidak melakukan persiapan mengajarku di meja besar itu. Aku tidak merasa memiliki dan bertanggung jawab atas meja itu. aku tidak merasa nyaman bekerja di meja itu. aku tidak merasa „harus“ mempertanggungjawabkan pekerjaanku di meja itu. meja itu bukan milikku. somehow, manusia kan posesiv. dan biasanya dia akan lakukan apapun untuk miliknya. bahkan meja (hehehe).

bedanya, sekarang aku di sini. aku punya meja kerja yang kujadikan hidupku. ide-ide hasil kontemplasiku bisa kuwujudkan di meja ini. Termasuk kalimat-kalimat tentang kafka yang menurut kamu cerdas (danke! :)). Hasil dari intensitasku pada kafka dan hidupnya mungkin yang kuwujudkan di meja dengan laptop di atasnya. Isi laptop itu penuh program lexicon lengkap dan internet. Ada pula rak penuh buku di sebelahku. ruang dan tempat yang membuatku nyaman. dari kamar mandi ke meja tulis. Dari sesuatu yang abstrak ke sesuatu yang nyata. Dari pikiran menjadi hasil.

Hmm, kupikir, ini mungkin alasan kenapa ada laboratorium dan ruang praktikum atau ruang praktek dokter.

balik lagi ke soal guru. keuntungannya buat guru sangat besar. dia punya ruang pribadi. Ya, jelas. bisa bebas ngapa-ngapain. untuk murid pun akan lebih nyaman saat murid itu harus bercakap-cakap dan mengungkapkan idenya.

Ngga semua murid bisa nyaman bersama orang lain, atau dilihat orang lain. Ada -banyak malah- yang justru merasa nyaman kalau dia sendiri atau berdua. Di situ biasanya akan keluar ide-idenya. kalau guru punya ruang atau meja sendiri, murid yang demikian bisa merasa nyaman datang pada gurunya untuk menyampaikan ide atau masalahnya. tanpa perlu merasa takut bahwa dia akan dicemoohkan orang, tanpa takut bahwa banyak mata akan memandangnya dengan heran, tanpa takut bahwa akan ada banyak telinga yang mendengar, bahkan emosi pun mungkin bisa diredam (emosi kan bisa naik kalau terprovokasi, salah satunya dengan kehadiran orang lain).hmm, jadi ingat di jurusan, kalau ada mahasiswa datang ke salah satu dosen, dan si dosen sedang ngga mood, biasanya dia suka bilang „tuh kan bu, si ini begitu kan“. Apa yang kamu rasakan?! ya..kebayangnya, kejadian seperti di sma 3 bandung, dimana si anak merasa ngga nyaman lagi ke sekolah karena merasa diintimidasi oleh gurunya gara-gara orang tuanya protes, mungkin ngga akan terjadi.

tja, kalau diurut benang kusutnya akan ketemu sih akar permasalahannya. lama memang, tapi bisa dicoba.

pfuih…banyak ya…kesimpulannya sih aku masih „mengidealkan“ adanya ruang tadi. kalau masih belum bisa, ya ada meja lah. hehe, maksa ya. ngga apa-apa ah…kalau balik ke indonesia, aku mau ah minta meja sendiri. pasti nanti dibilang sok, hehe. cuek aja. atau kalau ngga bisa, aku sudah punya meja di rumah, tapi dengan konsekuensi jangan mengharapkan aku sering datang ke jurusan untuk kerja, karena aku bekerja di rumah (sumpeh deh, aku mah ngga bisa kerja kalau ada di jurusan). Mungkin begitu ya jalan tengahnya, kerja di rumah. hmm, tapi siapa bisa kontrol dan jamin? diri sendiri tentu. kenyataan di lapangan(bicara di indonesia saja), bisakah? ngga janji. hehe..kadang ada „paksaan“ bagus juga. „Dipaksa oleh meja“.

Teman saya:
soal meja itu, ceritanya begini: waktu kemarin pagi membaca e-mailmu yang bertutur panjang lebar soal betapa pentingnya ruang pribadi khusus buat para guru dengan minimal punya meja di ruang jurusan, aku jadi pengen ngakak keras-keras. pasalnya cerita kamu lucu banget. menyadarkan aku pada kenyataan, bahwa betapa (benar-benar) ’sempit‘-nya ruang pribadi kamu sebagai seorang guru di ruang jurusan. Sebab bahkan sepotong meja pribadi pun tidak tersedia di sana.(apalagi yang namanya „laboratorium kerja“, seperti yang dimiliki oleh ilmuwan-ilmuwan besar seperti einstein, wittgenstein, dst.) ha ha ha! mengerikan banget!!!

itu kenyataan yang tragis banget loh, menurutku. salah satu kenyataan tragis yang mencerminkan: betapa tak terperhatikannya sekali kepentingan para guru di negeri ini.

tapi dengan penjelasan detilmu itu, aku jadi sadar, bahwa pembicaraannku sebelumnya mengenai ruang kontemplasi yang ‚abstrak‘ sepertinya juga memang keliru.

ketika mengemukakan itu, aku memang nggak berpikir sama sekali atau nggak punya bayangan sama sekali, bahwa bahkan sepotong meja pribadi pun tidak tersedia buat para guru (di jurusan). kenapa aku nggak kepikiran mengenai itu, pasalnya mungkin karena sejak kerja usai kuliah dulu, aku selalu ‚disediakan‘ meja sendiri, kertas kerja sendiri, komputer sendiri, dst, dsb. ini bukan buat belagu-belaguan ya, tapi realitasnya memang aku dan teman-teman lain di kantor tempat aku kerja, punya meja sendiri-sendiri.

bertahun-tahun kami kerja dengan lebih banyak tenggelam di meja kerja masing-masing (sampai-sampai kadang kami jadi seperti ‚mesin‘. saling teralineasi oleh pekerjaan masing-masing dan „terpagari“ oleh meja kerja yang juga saling tersekat karena pakai partisi). jadinya aku nggak punya bayangan, bahwa ada juga orang yang kerja tanpa mempunyai meja kerja sendiri di kantornya. sempit banget ya pandanganku?

karenanya menurutku, dalam konteks semua penjelasanmu itu, kamu benar. benar seratus persen!! meja pribadi memang diperlukan, bahkan sangat diperlukan buat para guru. kalau nggak, ya seperti kamu bilang: mana bisa kamu kerja maksimal??!! malah kalau bisa, kamu mesti minta fasilitas kerja yang lebih dari itu ya. misalnya komputer sendiri, dst. dsb. (he he he! tapi uangnya dari mana? emang ada yang mau ngasih atau ada yang punya???)

***

Begitulah “percakapan” virtual saya lewat surat elektronik dengan salah seorang sahabat di Indonesia beberapa hari ini. Percakapan ini masih berlanjut.

Ewald Terhart dalam artikelnya yang berjudul “Berufskultur und professionelles Handeln bei Lehrern”[3] menuliskan betapa pentingnya ruang pribadi bagi seorang guru, karena walau bagaimana pun guru tetap manusia yang membutuhkan waktu dan ruang sejenak untuk dirinya sendiri. Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri juga diperlukan oleh guru.

Selama ini, pekerjaan sebagai seorang guru selalu tersisihkan. Dianggap tidak sepenting insinyur atau dokter. Tak heran jika anak-anak ditanya apa cita-cita mereka, -dulu- mereka menjawab insinyur atau dokter. Masalah klasik yang tidak ingin saya perdebatkan lebih lanjut di sini. Kita semua sudah mengenalnya.

Dengan demikian, kepentingan guru tidak cukup terperhatikan. Jangankan kesejahteraan hidupnya, bahkan ruang pribadi pun tidak dipunyai oleh seorang guru. Mungkin ini terjadi karena manusia pada dasarnya menginginkan sesuatu yang nyata secara visual. Manusia lebih percaya hasil, bukan pada proses. Manusia lebih percaya pada sesuatu yang nyata dibandingkan sesuatu yang abstrak sebagai bukti keberhasilan.

Jika demikian, rasanya akan sangat adil jika guru pun mendapatkan sesuatu yang nyata untuk mewujudkan ide-ide yang abstrak tadi. Mungkin awalnya adalah meja. Dari sana akan berkembang menjadi wartawan, dokter, insinyur, direktur, politikus, presiden, dll. Dari meja mungkin akan berkembang menjadi sesuatu yang disukai semua orang: uang. Namun, jangan lupa juga, dari sepotong meja mungkin akan tumbuh manusia-manusia jujur yang menghargai proses dan kerja keras. Semoga.

Bayreuth, 150705

13:16


[1] Bunyi sebenarnya bukan „pada mulanya adalah meja“, melainkan „ pada mulanya adalah kata (im Anfang war das Wort“. Terjemahan dari Marthin Luther atas Johannes Evangelium yang berbunyi: „en arche en ho logos“ . Kata ‚logos’ bermakna „kata, pengertian, kebijaksanaan“. Dalam „ Pendapat-pendapat tentang Perjanjian Baru“ Herder menerjemahkan kalimat di atas dengan „Pikiran! Perkataan! Kemauan! Perbuatan! Cinta!“. Goethe menggunakan kalimat tersebut dalam karyanya „Faust“. Sejak itu, kalimat ini menjadi terkenal. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di dalam Faust karya Goethe. Dalam Bahasa Indonesia sudah diterjemahkan oleh Agam Wispi (Yayasan Kalam dan Goethe Institut Jakarta, 1999: Hlm: 45)
[2] Surat elektronik ini sudah diedit seperlunya
[3] Terhart, Ewald. Berufskultur und professionelles Handeln bei Lehrern, dalam Combe, Arno, Helsper, Werner. Pädagogische Professionallität, Suhrkamp Taschenbuch Verlag, Frankfurt am Main, 1996.
Advertisements

Ein Gedanke zu „Pada Mulanya adalah Meja

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s