Bustanu An Nuur Bayreuth

Jika saya pergi ke daerah di dekat Festspielhaus, entah kenapa saya selalu teringat Wagner. Salah satunya adalah saat saya bersama teman-teman dari kelompok pengajian Bustanu An Nuur Bayreuth mengadakan „piknik“ bersama di kebun belakang rumah salah seorang anggota pengajian kami di Meistersingerstr. beberapa hari yang lalu

Namun, kali ini saya tidak akan menulis tentang Wagner dan „Meistersinger aus
Nürnberg“-
nya, melainkan tentang kelompok pengajian kami. Kelompok pengajian Bustanu An Nuur ini dibentuk pada bulan November 2003 tepatnya di bulan Ramadhan 1424 H. Saat itu saya dan seorang teman campuran Jerman – Ethiopia diundang untuk buka puasa bersama oleh salah seorang teman dari Turki.

Menjadi perempuan muslim berkerudung di negara berpenduduk bukan mayoritas Islam memudahkan kita untuk dikenali oleh sesama muslim, tentu juga oleh non muslim. Menyenangkan, tetapi juga tidak mudah, khususnya di Bayreuth, kota yang tidak begitu banyak memiliki komunitas muslim. Tentang pengalaman saya sebagai salah seorang muslimat berkerudung di Bayreuth tidak saya tuliskan di sini, melainkan di tulisan yang lain.

Kembali ke kelompok pengajian kami, setelah buka puasa bersama itu kami masih berbincang-bincang, saling bertukar cerita tentang pengalaman kami hidup sebagai seorang muslim di negara sekuler seperti Jerman. Saat itu saya baru tiga bulan berada di Bayreuth dan sudah mulai merindukan suasana menjalankan kehidupan ritual beragama bersama terutama saat Ramadhan. Saya merasa bahagia bertemu mereka, karena walaupun agama itu adalah urusan pribadi, saya sendiri merasa tetap perlu „penguat“ yang bisa membantu mengingatkan saya pada-Nya. Untuk itu, teman bagi saya sangat besar maknanya.

Dari perbincangan dan kerinduan yang sama-sama kami rasakan, akhirnya kami sepakat bertemu kembali untuk berbincang-bincang tentang Islam dan berbagi pengalaman tentang agama kami itu. Saat itu kami memang hanya mengenal beberapa orang secara sporadis saja. Jika ada yang berkerudung, biasanya otomatis kami beri senyum dan kami sapa, atau sebaliknya. Kerudung menjadi identitas bagi kami yang muslim. Namun, tentu ada juga muslimat yang tak berkerudung, biasanya mereka yang menyapa kami yang berkerudung terlebih dahulu. Dari situlah kami saling mengenal. Hal yang menyenangkan dan membahagiakan.

Pertemuan pertama kami ternyata cukup menggembirakan. Saat itu ada sekitar sembilan orang yang hadir. Empat orang Turki, dua orang Jerman, satu orang Kenya-Jerman, satu orang Jerman-Ethiopia, dan saya, satu-satunya orang Indonesia. Tidak semua dari kami yang hadir beragama Islam, hanya teman dari Turki, seorang Kenya-Jerman dan saya yang saat itu memang sudah muslim “keturunan”. Seorang teman dari Jerman menjadi muslim, beberapa saat sebelum dia menikah dengan seorang Turki. Yang lainnya datang karena ketertarikannya pada Islam, yang memang awalnya disebabkan oleh karena mereka memiliki teman dekat seorang muslim. Bincang-bincang kami sore itu dimulai dengan pertanyaan mendasar, „mengapa kami Islam?“

Ya, mengapa saya Islam? Pertanyaan eksistensialis yang jawabannya bisa macam-macam. Dari yang jujur: “tidak tahu” sampai ke jawaban berpanjang-panjang dengan teori macam-macam. Dengan pertanyaan ini pula saya menjalani hidup saya, terutama sejak 13 tahun ke belakang. Jika saya Islam, mengapa saya merasa tidak bisa dekat dengan Allah? Jika memang manusia terlahir Islam, mengapa kemudian banyak juga yang tidak beragama Islam? Dan apa itu Islam?

Giliran saya ditanya, mengapa saya Islam? Saat itu saya hanya menjawab dengan apa yang saya rasakan, karena –jujur- tidak sepenuhnya saya tahu. Yang saya tahu adalah saya lahir di keluarga yang muslim secara keturunan. Saya ikut, saya jalani ritual ibadah saya yang dulu hanya saya ikuti karena memang sudah demikian sewajarnya. Selbstverständlich. Namun, kemudian saya banyak bertanya kepada diri saya sendiri, mengapa saya merasa tidak bisa dekat dengan Allah, siapa Allah. Saya bertanya tentang baik dan buruk, tentang agama saya, agama yang lain. Saya membaca yang lain juga, saya ingin tahu tentang yang lain juga.

Sejujurnya, saya baru “menemukan” Allah saat saya pertama kali di Jerman, tahun 1997. Justru di negara sekuler ini saya menemukan Allah. Saya sendiri, tapi Allah tetap ada bersama saya. Jika ditanya mengapa saya Islam, maka yang bisa saya jawab sekarang adalah karena saya lahir Islam, di keluarga beragama Islam, dan saya memilih untuk tetap menjadi Islam. Saya bahagia dan bersyukur atas pilihan saya itu. Saya diberi hidayah oleh-Nya untuk tetap menjadi Islam. Alhamdulillah. Semoga terus demikian.

Begitulah kumpul-kumpul kami dimulai. Kami memperkuat keimanan kami dengan membicarakan hal-hal sehari-hari yang sering tak terlihat karena sudah berjalan sebagaimana wajarnya. Bernafas, tersenyum, sakit, sehat, berjalan, berlari, diam, alam di sekitar kami, bunga, pohon, binatang, tetangga, teman, orang tua, kuliah, kerja, sampai kemudian ke soal yang lebih serius seperti syahadat, shalat, puasa, zakat, haji, doa, jihad, jilbab, perempuan. Bahasan yang mudah untuk diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan misalnya percaya, sabar, takdir, dan lain-lain.

Diskusi selalu berkembang menjadi menarik. Selalu ada sesuatu yang bisa kami dapat. Dari mulai membahas fenomena alam secara ilmiah kemudian ditarik ke ayat-ayat Al Quran atau sebaliknya; wudhu dan shalat serta hubungannya dengan kesehatan, sugesti psikologisnya, dll. Kami pun sering curhat menceritakan pengalaman kami masing-masing dengan tema yang sedang kami bahas. Tukar menukar informasi dari buku-buku yang kami baca. Begitulah kami belajar. Kami belajar dari pengalaman orang lain dan dari pengalaman diri sendiri. Kami berbagi dan saling mengingatkan.

Dari situlah saya belajar banyak sekali, karena cara orang memandang, menyikapi dan menjalani sesuatu itu berbeda-beda. Termasuk juga soal agama. Saya belajar banyak dari mereka yang masuk Islam karena ketertarikan mereka dan akhirnya mereka belajar, membaca, bukan Islam karena „keturunan“. Awalnya mungkin karena suami atau teman dekat mereka yang Islam. Namun, ada juga yang sudah putus dengan pacar mereka, tetapi mereka justru semakin kuat Islam-nya. Ya, saya belajar banyak dari mereka. Dengan itu saya semakin mensyukuri keberadaan saya. Mereka mengalami kesulitan yang lebih besar sebagai seorang muslim di negara mereka sendiri, karena mereka orang Jerman yang hidup di dalam normalitas masyarakat Jerman yang bukan muslim. Bagaimana mereka harus menghadapi keluarga mereka, teman mereka, lingkungan mereka dan lain sebagainya.

Salah seorang teman kami bahkan seorang muslimat Jerman berkerudung. Pengalamannya bagaimana dia ditatap heran oleh „orang-orang“nya sendiri, bagaimana dia dikucilkan oleh keluarganya, oleh teman-teman dan pergaulannya, membuat saya begitu mensyukuri keberadaan saya sebagai „orang asing“ di Jerman. Ah, orang asing dari Indonesia, negara Islam, berkerudung pun wajar. Walaupun mereka masih mempunyai prasangka dan stereotip bahwa saya berkerudung karena paksaan agama atau paksaan keluarga. Padahal, tak ada paksaan dalam Islam. Tentang ini saya tuliskan dalam tulisan yang lain.

Anggota pengajian kami bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Tidak semuanya muslim, tetapi mereka yang datang punya ketertarikan terhadap Islam. Entah sekedar ingin tahu, membandingkan, atau memang sedang “mencari”. Orang-orang dari berbagai macam negara berkumpul bersama karena Islam: Jerman, Inggris, Turki, Taiwan, Marokko, Kenya, Syria, Tajikistan, Bangladesh, Pakistan, Thailand, dan saya sendiri dari Indonesia. Alhamdulillah, Ramadhan 1425 H lalu lebih dari 20 orang datang dan bersama-sama mengkaji Islam. Lebih dari setengahnya adalah orang Jerman. Itu hanya muslimatnya saja, mahasiswa muslim yang lain pada akhirnya tertarik juga untuk membuat kelompok diskusi seperti kami.

Alhamdulillah, dengan bersatunya kami, kami pun berhasil mendapatkan sebuah tempat untuk shalat di kampus. Tidak besar memang, tetapi cukup. Yang lebih menggembirakan adalah, pada bulan Ramadhan tahun lalu pun ada 2 orang Jerman yang masuk Islam, seorang bahkan memutuskan mengenakan kerudung. Maha Suci Allah yang telah memberikan hidayahnya.

Berada “sendirian” di kota kecil seperti Bayreuth tidak membuat saya kesepian, karena saya sebenarnya tidak pernah sendiri, ada Allah yang menemani saya dan saudara-saudara saya yang lain. Ini adalah bumi Allah, rumah saya juga. Persaudaraan yang terbentuk atas dasar keimanan dan kepercayaan yang sama –entah kenapa- terasa lebih kuat dan tulus. Tiba-tiba saja kami sudah merasa kenal sangat lama. Semua karena ketertarikan dan kepercayaan yang sama.

Banyak pengalaman yang saya dapat selama bersama-sama “berjalan“ dengan mereka dalam „kebenaran dan kesabaran“. Suatu saat saya pernah ditanya apakah saya percaya takdir. Saya ingin percaya, saya berusaha untuk percaya, saya mencoba mengimaninya[1]. Saat itu, teman saya hanya memeluk saya sambil mengusap-ngusap punggung saya dan berkata; “Sabar saja, kepercayaan itu akan datang padamu”. Tak berapa lama setelah itu, saya ditunjukkan Allah tentang takdir dan kuasa-Nya. Allah Maha Besar, segala puji bagi-Nya. Saya bersyukur saya diberi petunjuk oleh-Nya. Dengan telak, tak ditunda. Saya bahagia sekali.

Kejadian mengharukan adalah saat saya baru datang kembali dari Indonesia setelah 6 minggu berada di rumah. Saat itu dua minggu setelah kejadian bencana besar tsunami di Aceh, 26 Desember 2004. Mereka dengan spontan membaca Suraah Yassin bersama-sama dan langsung mengumpulkan uang untuk bantuan, belum lagi baju-baju bekas. Sebelumnya pun, saat peristiwa tersebut, mereka cukup mengkhawatirkan keadaan saya. Ah, betapa indahnya persaudaraan yang bisa menembus segala batas dimensi ruang dan waktu, kultur, adat, dan bahasa.

Pertemuan kecil kami setiap Senin sore, kemudian sempat berubah menjadi Selasa sore dan sekarang kembali ke Senin sore tergantung dari waktu kosong kami, saya yakin membawa arti yang besar bagi kami masing-masing. Maknanya mungkin tidak sama, tetapi kami selalu mendapatkan sesuatu dari hasil bincang-bincang dan diskusi kami. Meresapi ayat-ayat Al Qur’an yang dibacakan. Tersenyum dan kemudian menarik nafas panjang serta terdiam lama saat menyadari kebenaran yang terkandung di dalamnya. Kebenaran ayat-ayat Allah yang melingkupi hidup kami semua. Diri kami. Menyadari betapa masih sangat kurangnya kami –saya- mensyukuri nikmat-Nya. Meyakinkan diri dan berusaha menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Beristiqamah bersama di jalan-Nya, seperti nama yang diusulkan Aϊsha Schmitt, salah seorang sahabat kami, untuk kebersamaan kami: Bustanu An Nuur. Bersama-sama berusaha dan berjalan menuju „Taman Bunga yang Penuh Cahaya-Nya“.

Bayreuth, 27.06.05


Meinen lieben Schwestern: Aϊsha, Nina, Sandra, Nina ‚Amina’, Aliye, Kathrin, Linnéa, Ying Hui, Lydia ‚Amina’, Fatma, Hatice, Seher, Tahani, Ummu Salma, Sarah, Jasmin, Sobiroh, Samira, Khadija, Sabine, Joy, Ummu Khaif, Fakheera,Janette, Barbara, Alexandra, Ouahida, Janina, Immelinga, Stefi, u.a. Euch allen sei für unsere Gemeinsamkeit und Zusammensein zutiefst zu danken. Möge Allah uns immer segnen.


[1] Lihat tulisan saya tentang takdir

Advertisements

6 Gedanken zu „Bustanu An Nuur Bayreuth

  1. wah mba..
    kebetulan saya mau ke pforzheim university, keterima jadi student exchange, tapi saya bingung mba, say kan pake kerudung, ada beberapa teman sekat saye yang menyarankan saya untuk lepas kerudung dulu selama di jerman,,,bgam=imana menurut mba, saya brgkt awal september ini..saya butu pendapat mba..maksi y=)

  2. ngga ada masalah dengan kerudung. saya
    tetap pake kok selama di sana. apalagi dalam lingkup akademik, mereka sama sekali ngga bermasalah. bohong banget kalau dibilang di jerman ngga bisa pakai. justru kita diuntungkan pergi ke negara yang sekuler. karena mereka cuek banget kita mau ngapain mau pakai apa. terserah aja. buat saya sih, niat kita aja. pakai kerudung karena di indonesia atau karena apa?:) kalau mau tanya lebih jauh lagi silahkan. dengan senang hati :)

  3. Heheheee… :) Makasih ya mbak atas responsnya :)

    Mau tanya apa pengajian di Bayreuth masih aktif berjalan? Kebetulan saya baru 2 thn di Nuernberg *walau misua sdh 13 thn di Jerman*.

    Salam, Dewi

    • masih ada sih, walaupun yang bustanu an nuur ini sudah tidak aktif lagi, karena orangnya sudah mencar-mencar pindah dari bayreuth. beberapa orang kembali lagi ke bayreuth termasuk saya. tapi ya ngga menetap lama juga. tapi kami masih kontak satu sama lain. rasanya di nürnberg pengajiannya *terutama yang ind* lebih aktif.

      sama-sama, senang bisa tambah teman :)

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s