„…Gimana ya rasanya tinggal di kota Wagner…?“ – Sebuah catatan

„Hier wo mein Wähnen Frieden fand –
Wahnfried –
sei dieses Haus von mir benannt.“

„…Belum lama ini ada makhluk bernama Dian mengisi buku tamu site ini. Dia sedang di Bayreuth. Gimana ya rasanya tinggal di kota Wagner? Apa Wagner di sana sudah termetamorfosis jadi relik masa lalu, sementara gaungnya di Griya Caraka Bandung masih terasa hidup, aktual, dinamik.“  

Saya baru membaca kalimat-kalimat di atas setelah si pemilik site mengirimi saya email dan meminta saya untuk menuliskan cerita yang lebih lengkap tentang Bayreuth, kota tempat saya tinggal sejak dua tahun yang lalu, atau menuliskan cerita satu hari dalam hidup saya di Bayreuth. Saya tidak bisa menolak permintaan orang yang isi blog-nya telah cukup banyak menginspirasi dan membuka pikiran saya ini, apalagi jika permintaannya diikuti dengan kata „pliiizz“.  

Memang benar, emailnya untuk saya pun sudah mampu membuat kepala saya penuh, ingatan-ingatan seakan kembali berputar jelas di depan mata, bayangan-bayangan berkelibatan seperti memutar kembali gambar-gambar dalam perjalanan waktu saya, nama-nama pun kemudian bermunculan. Semua berdesakan di kepala saya, terfragmentasi, menunggu dirunut dan diuraikan. Tak akan bisa sepenuhnya, saya tahu, namun saya akan mencoba menjejakkannya dalam bentuk catatan ini. Sekedar menyampaikan ingatan, pikiran dan perasaan saya.

Bagaimana rasanya tinggal di kota Wagner? Pertanyaan itu tidak bisa langsung saya jawab. Pertanyaan itu justru membawa saya kembali ke masa-masa awal “perkenalan” saya dengan Wagner. Wagner, nama yang saya dengar pertama kali saat saya kuliah, sekitar 13 tahun lalu. Saat itu kami sedang mempelajari geografi Jerman, nama Bayreuth disebut. Ada apa? Tentu bukan karena di Bayreuth ada salah seorang dosen kami saat itu, tapi karena di Bayreuth pun ada Wagner. Wagner? Salah seorang komponis musik klasik. Oh, saya tidak tahu. Saya penyuka musik hingar bingar. Musik klasik yang saya dengar hanya musik klasik standar yang saya dengar potongan-potongannya saja. Vivaldi, Mozart dan Beethoven. Sepotong-sepotong saja. Richard Wagner? Kok ada orang Jerman bernama seperti itu? Saya hanya kenal nama Goethe, Hitler, Helmut Kohl, Steffi Graf, Beckenbauer, dan beberapa nama lain.

Dengan cepat nama itu terlupakan. Saya tidak tertarik. Ketika tahun 1998 saya berkesempatan untuk pertama kalinya berkunjung ke Bayreuth, saya justru terpesona dengan Sungai Saale yang tenang.  Itu pun di luar kota Bayreuth. Bayreuthnya sendiri tidak memberi kesan apapun. Wagner? Boro-boro ingat. Melintas di kepala pun tidak. Tahun 2001 saya mengunjungi kota ini lagi. Kali ini nama Wagner disebut oleh dosen kami yang tinggal di Bayreuth itu. Dia bercerita, mereka mendapat undangan untuk menyaksikan festival Wagner, sementara banyak orang harus menunggu tahunan untuk bisa mendapatkan tiket menyaksikan pertunjukan opera Wagner. Harganya pun bisa ribuan Mark (saat itu Jerman masih menggunakan DM Deutsche Mark). Saya hanya menanggapinya sekilas, karena saya tidak tahu dan tidak tertarik. Saat itu kami lebih banyak melihat peninggalan Markgräfin Wilhelmine. Wagner? Hanya masuk ke ingatan jangka pendek saja.

Nama itu kemudian muncul lagi, ketika salah seorang sahabat saya mengirimi saya sms malam-malam dan bertanya apakah saya tahu cerita “Tristan dan Isolde”. Dia perlu untuk membuat makalah. Judul itu rasanya akrab dengan telinga saya, tetapi saya lupa siapa yang membuat. Maklum, ketika kuliah dulu semua dipelajari dengan “terpaksa”. Saya cari, dan muncullah nama Wagner. “Tristan dan Isolde”, tragedi cinta seperti “Romeo dan Julia”. Wagner mulai masuk ke ingatan menengah. Belum cukup dalam.

Perkenalan yang lebih intensif dengan Wagner terjadi awal tahun 2003, saat saya diminta menerjemahkan monolog “Der Kontrabass” dari Patrick Süskind oleh Goethe Institut untuk keperluan pementasan monolog Wawan Sofwan. Boleh dikatakan, itulah pertama kalinya saya benar-benar masuk ke musik klasik, sejarah musik klasik di Jerman, komponis-komponisnya, alat-alat musik di sebuah orkestra, dan lain-lain. Saat itulah saya “mengenal” Richard Wagner, komponis kelahiran Leipzig tahun 1813 dan wafat di Venesia tahun 1883, yang pada awal masa kreatifnya ia memilih menjadi penyair. Latar belakangnya sebagai penyair itu kemudian membawanya pada rumusan drama musik yaitu musik yang memiliki kaitan sastra sehingga diperlukan tinjauan kritik yang harus berangkat dari pemikiran filsafat kata. Opera.

Kritikan Patrick Süskind yang cukup pedas terhadap Wagner disampaikan lewat tokoh pemain kontrabas dalam lakon monolognya. Wagner, katanya, adalah seorang “penderita neurotik berat”. Karyanya yang terbesar, “Tristan dan Isolde“ juga lahir karena „…hasrat terpendam Wagner pada istri salah seorang temannya. Perasaan yang sudah lama dipendamnya. Bertahun-tahun. Kebohongan ini […] menggerogoti dirinya sendiri. Oleh karena itu dia segera membuat tragedi cinta yang katanya terbesar sepanjang masa. Penekanan ke alam bawah sadar lewat sublimasi total…”. Wagner pun, katanya, seorang lelaki yang “memukul istrinya. […]  istri pertamanya. Yang kedua tidak. Pastinya bukan yang kedua. Tapi yang pertama yang ia pukul. Benar-benar bukan orang yang menyenangkan.”  Namun, Wagner juga lelaki yang “bisa bersikap ramah, charming. Tetapi tetap tidak menyenangkan. Saya rasa dia sendiri juga tidak suka dengan sikapnya itu. Dia sering mendapat tamparan karena sesuatu yang…menjijikan. Begitulah. Tetapi para wanita menyukainya, sampai berderet. Lelaki ini: daya tarik luar biasa bagi para wanita. Tak terjangkau…”   . Wagner, yang tak terjangkau.

Saya mulai tertarik, saya pun dengarkan musiknya, operanya. Dinamik, bersemangat, kadang juga sedih. Ada Rheingold, Siegfried, disebut-sebut selain Tristan dan Isolde. Ada juga Wellgunde yang mempesona. Saya pada dasarnya sudah tertarik sejak awal dengan Legenda Bangsa Germania dan Sungai Rhein. Jadi, ada apa dengan Wagner? Saya pun lihat biografinya. Nama Nietzsche dan Hitler pun mulai disebut-sebut. Saling berkaitan. Ada apa dengan mereka? “Sebagai seorang pemusik orkestra, saya adalah seorang yang konservatif, menjunjung tinggi nilai-nilai keteraturan, disiplin hirarki, dan prinsip kepemimpinan – Führerprinzip –  Tetapi tolong jangan disalahartikan! Kami, orang Jerman, jika mendengar kata Führer langsung berpikir tentang Adolf Hitler. Hitler adalah pemuja Wagner, Wagnerian, dan saya, seperti yang Anda tahu, tidak terlalu menyukai Wagner. Wagner sebagai seorang pemusik – sekarang dilihat dari karyanya – mungkin bisa saya katakan: di bawah kelas. Partitur dari Wagner berisikan hal-hal yang mustahil dan kesalahan-kesalahan. Dia juga tidak memainkan satu instrumen pun kecuali piano, itu pun jelek”, begitu sang tokoh pemain kontrabas mengkritik Wagner. Namun, sang tokoh pun akhirnya berkata bahwa “NAZI-isme dan musik – Anda bisa membacanya dalam karya Furtwängler – tidak ada hubungannya sama sekali. Tidak pernah.”

Ya, memang tidak ada hubungannya antara musik dan NAZI. Siapa memuja siapa, siapa mempengaruhi siapa. Kalaupun mungkin ada, tapi tidak perlu diperpanjang masalahnya. Keduanya akhirnya akan berdiri sendiri. Saya adalah seorang yang setuju bahwa musik itu berdiri sendiri dan ingin tetap membiarkannya berdiri sendiri.

Memang tak saya pungkiri, nama Hitler dan Nietzsche lah yang ikut membuat saya ingin mengenal Wagner dan musiknya lebih dekat lagi. Dalam beberapa hal saya cukup mengerti  Hitler dan saya juga tertarik pada Nietzsche, maka Wagner pun ikut menjadi ketertarikan saya. Rasanya itu hal yang wajar, saling terkait saja. Saya pun bersemangat saat pertengahan tahun 2003 saya pergi lagi ke Bayreuth dan berkesempatan untuk tinggal lebih lama di sini. Keinginan saya waktu itu adalah melihat festival Wagner dan menyusuri jejak Wagner di Bayreuth.

Bagaimana rasanya akan tinggal di kota Wagner? Bersemangat, penasaran, juga takut dan cemas. Mengapa? Ternyata mengetahui bahwa Wagner berkaitan dengan Hitler dan Nietzsche sedikit banyak membangun semua perasaan itu. Sementara saya tahu bagaimana sikap masyarakat dan pemerintah Jerman terhadap ketiga orang itu. Ada benci dan suka, ada malu dan bangga, ada takut dan senang, ada pengakuan dan pengabaian. Saya akan tinggal di Bayreuth, kota Wagner. Wagner yang, katanya, antisemitis dan Wagner yang dipuja Hitler. Bayreuth – Wagner – Hitler – NAZI. Namun, ternyata rasa bersemangat dan penasaran saya bisa mengatasi rasa takut dan cemas itu.

Bayreuth, kota kecil di daerah Oberfranken berpenduduk kurang dari 100 ribu orang. Dibangun “besar-besaran” oleh Markgräfin Wilhelmine, adik kesayangan Raja Prusia, di abad ke 15. Ingin dijadikan kota seni bernuansa Rokoko yang kental. Secara geografis dan politik Bayreuth masuk ke negara bagian Bayern, tapi penduduk sini tetap mengaku orang Franken. Di kota kecil inilah, tahun 1872, Richard Wagner menemukan tempat yang tepat untuk “mendamaikan” kegelisahannya, kekecewaannya, pencariannya, dan kegilaannya. Wagner mendapat hadiah tanah dan tempat tinggal di Bayreuth dari Raja Ludwig II dari Bayern, salah seorang pemujanya. Tak heran, jika tanah dan rumah ini pun terletak tepat di samping Hofgarten istana Markgräfin Wilhelmine. Wagner pun mendapat privilege untuk membuat gedung operanya sendiri. Gedung ini –Wagners Festspielhaus- terletak di atas bukit hijau di sebelah utara pusat kota Bayreuth. Letak gedung yang tinggi di atas bukit seakan menjadi simbol bagi obsesi Wagner tentang bangsa Germania yang berada “di atas”, cocok dengan karya-karyanya yang megah, hidup, dinamik dan bersemangat. Legenda masa lalu bangsa Germania memang banyak menginspirasi lahirnya karya-karya besar Wagner. “Rheingold”, “Ring des Nibelungen” hanya sedikit di antaranya.

Rumah keluarga Wagner kemudian diberi nama Haus Wahnfried, sesuai dengan keinginan Wagner yang ingin menemukan tempat yang damai untuk segala “kegilaannya”. Wahn berarti kegilaan, dan Fried (dari Frieden) adalah kedamaian. Rumah ini terletak di pusat kota Bayreuth, di tepi jalan yang sekarang diberi nama Richard-Wagner-Str. Tahun 1874 pembangunan rumah ini selesai, dan Wagner tinggal di sana bersama istri keduanya, Cosima, anak komponis Franz Liszt, dan anak-anak mereka: Daniel, Blandine, Eva, Isolde, dan Siegfried. Di rumah inilah “Götterdämmerung”, “Ring des Nibelungen”, dan “Parsifal” lahir. Wagner meninggal di Venesia, tapi jenazahnya dibawa ke Bayreuth dan dimakamkan di halaman belakang Haus Wahnfried, di tepi Hofgarten. Dia dimakamkan satu lubang dengan Cosima, istrinya.

Bagian depan rumah ini hancur saat Perang Dunia II, kemudian direnovasi kembali dan diserahkan kepada pemerintah kota Bayreuth pada tahun 1973 dan dijadikan museum Richard Wagner pada tahun 1976. Yayasan Richard Wagner ditunjuk untuk mengelola museum ini.

Saya mendapat kesan yang tidak begitu menyenangkan begitu sampai di Bayreuth. Kota kecil dan sepi yang isinya hanya orang-orang lanjut usia saja. Saya nyasar ke Lohengrin Therme karena salah naik bis. Kesal juga, walaupun cukup terhibur oleh pemandangan bagus sepanjang jalan. Namun, kesan tidak menyenangkan itu juga tidak mampu menghapus rasa penasaran saya untuk menyusuri jejak Wagner.

Seminggu setelah kedatangan saya di Bayreuth, museum Wagner inilah yang saya kunjungi pertama kali. Ruang tengah yang dulunya menjadi tempat Wagner menerima tamu-tamu yang juga dihibur dengan karya-karyanya, sekarang dijadikan hall tempat pertunjukan orkes kamar, yang tidak hanya menampilkan karya Wagner, tetapi juga karya komponis lain. Ruangan ini pun dulunya adalah perpustakaan pribadi Wagner. Ketiga dindingnya dilapisi lemari buku yang tingginya mencapai atap. Dinding lain menghadap ke halaman belakang dengan jendela dan balkon besar.

Setiap jam pengunjung museum bisa mendengarkan cuplikan karya Wagner di ruangan ini, sambil duduk nyaman di kursi-kursi empuk berlapis beledu merah. Saat itu, saya merasa dibawa ke masa-masa Wagner hidup. Setidaknya itu khayalan saya.

Di museum ini ditampilkan partitur-partitur asli dari karya-karya Wagner: “Fliegende Holländer“, „Tannhäuser“, „Lohengrin“, „Siegfried“, „Götterdämmerung“, „Tristan und Isolde“ dan „Parsifal“. Selain itu ditampilkan juga koleksi buku, patung dan lukisan milik Wagner. Ditampilkan pula maket-maket panggung pementasan karya-karya tadi, lengkap dengan requisiten-nya. Seperti kebanyakan museum di Jerman, museum ini dibuat interaktif, sehingga pengunjung bisa memilih dan mendengarkan potongan-potongan karya Wagner, melihat sejarahnya, sampai ke daftar dan riwayat hidup penyanyi dan pemain musik yang pernah tampil di pertunjukkan opera-opera Wagner ini.

Saat itu, saya segera sadar, bahwa pengunjung museum ini kebanyakan orang tua. Rasa heran saya terjawab beberapa waktu kemudian.

Rasa penasaran saya makin besar. Ada yang berbeda dari Wagner dan karya-karyanya. Kesan yang jelas adalah, Wagner cerdas dan obsesif. Pada masanya, hanya dia yang membuat opera. Gabungan puisi, prosa, drama dan musik. Bukan hal yang mudah. Dan dia termasuk orang yang perfeksionis. Dia kerjakan semua sendiri, bahkan untuk membuat sketsa panggung pertunjukannya. Ternyata memang dia cukup “gila”. Musiknya yang megah dan dinamik memang wajar untuk membangkitkan semangat. Jika dibandingkan dengan Mozart atau Bach yang mendayu, musik Wagner memang jadi terasa membahana.

Selanjutnya, rumah Wagner sering saya lewati jika saya ingin memotong jalan dari apartemen saya menuju kota. Jika cuaca cukup hangat dan cerah memang menyenangkan berjalan kaki melintasi Hofgarten, melewati rumah dan makam Wagner menuju Neues Schloss Markgräfin Wilhelmine kemudian menuju kota. Kadang saya cuma duduk-duduk saja di bangku-bangku di halaman belakang Haus Wahnfried, menikmati ketenangan di sana sambil membaca atau cuma sekedar mengkhayal.

Tak berapa lama, tema Wagner kami diskusikan di kelas. Saat itu lah saya mendapatkan kesan lain dari orang-orang Jerman tentang Wagner, terutama dari kaum muda dan generasi setelah perang. Mereka ingin melepaskan trauma Hitler dan Drittes Reich juga “ kesan antisemit”. Semua hal yang berhubungan dengan itu ingin mereka hapuskan. Termasuk Wagner. Saya pikir wajar seperti itu. Namun, saya berpikir lagi, apakah untuk melepaskan trauma atau di sini tepatnya “kesan yang ditempelkan” harus dengan menghilangkan dan menghapus semua jejak? Mengapa tidak diterima saja kenyataan pahit itu? Ini tentu sulit, karena kita tetap tidak bisa berpikir hitam putih saja. Kenyataan yang sama juga ditemui hampir di semua tempat. Juga di Indonesia dengan PKI-nya. Mengapa Pramoedya dituduh PKI hanya karena dia anggota LEKRA? Apakah jika saya kenal dengan salah seorang anak anggota PKI saya otomatis jadi anggota PKI juga? Atau karena saya berkerudung dan datang dari Indonesia, yang –sayangnya- ada di daftar negara teroris, maka saya termasuk teroris juga sehingga harus terus menerus mengisi formulir pernyataan di kantor imigrasi? Absurd, tapi nyata. Memang begitu kenyataannya. Seabsurd saya memandang Wagner = Hitler = NAZI = antisemitis.

Untuk saya sendiri, saya lebih senang memandang sesuatu dengan melihat konteks. Ada banyak cara untuk melihat sesuatu. Contohnya melihat musik. Musik bisa saja dijadikan alat propaganda, tetapi musik tetap mempunyai nilai dan makna sendiri pula, lepas dari kepentingan apapun. Pada saat bicara tentang Wagner saya pun ingin melihat musik yang dia hasilkan. Lepas dari intensi Wagner menciptakan musik itu. Lepas dari siapa yang menikmati musik Wagner. Hitler kah atau siapa kah, saya tidak terlalu peduli. Musik, bagi saya, menjadi sesuatu yang sangat intim dan akrab dengan diri, sehingga pemaknaannya berbeda-beda.

Namun, semua orang tentu memiliki kebebasan yang sama untuk menginterpretasi musik. Oleh karena itu, jadilah Wagner dan musiknya tersisih di negaranya sendiri. Musik yang dianggap cerminan masa lalu yang kelam dan harus dikubur dalam-dalam. Tetapi kesan yang sama tidak terjadi di tempat lain, seperti kata teman saya di depan: “Apa Wagner di sana sudah termetamorfosis jadi relik masa lalu, sementara gaungnya di Griya Caraka Bandung masih terasa hidup, aktual, dinamik”. Untuk banyak orang Wagner memang sudah menjadi relik masa lalu, bukan hanya relik, bahkan trauma. Untuk sebagian yang lain, Wagner membangkitkan hal-hal dan kesan yang positif. Untuk sebagian yang lain lagi, Wagner jadi bagian dari ingatan tentang kejayaan masa lalu. Contohnya di Bayreuth. Dengan demikian tentu tidak salah juga jika kemudian Bayreuth dikenal sebagai kota dengan “peninggalan” NAZI yang kuat.

Apapun itu, Bayreuth memang “memuja” Wagner. Jalan-jalan di sekitar Haus Wahnfried dinamai dengan nama orang-orang dekat Wagner. Selain Richard-Wagner-Str., di dekatnya adalah Lisztstr. (museum Franz Liszt juga berdekatan dengan Haus Wahnfried), kemudian ada Wieland-Wagner-Str., Siegfried-Wagner-Str., tentu juga Cosima-Wagner-Str. Sedangkan jalan-jalan di sekitar Festspielhaus dinamai dengan karya-karya Wagner seperti Meistersingerstr., Tristanstr., Isoldenstr., Wotanstr., Tannhäuserstr., Parsifalstr., dll. Tidak hanya itu, banyak tempat pun diberi nama tokoh atau karya Wagner, seperti Hotel Nibelungen, pabrik porzellan Parsifal atau Therme bernama Lohengrin.

Selasa lalu saya memenuhi janji untuk melihat-lihat sebuah rumah di Tristanstr. yang rencananya akan disewa oleh teman saya. Rumah tua yang kata pemiliknya sudah berumur 100 tahun. Artinya, rumah ini dibangun saat Wagner ditempatkan secara istimewa oleh Hitler. Ibu tua itu menceritakannya dengan bangga.

Tristanstr. terletak tepat di samping Festspielhaus. Jalan sedikit menanjak menuju ke sana diatur sedemikian rupa hingga terasa sangat nyaman, indah dan nobel: boulevard dengan pohon-pohon rindang di kiri-kanannya. Festpielhaus sendiri terletak di atas bukit kecil tepat di tengah-tengahnya. Dengan jalan yang ditarik lurus, bangunan ini berdiri tepat berhadapan dengan Altes Schloss Markgräfin Wilhelmine. Di depan bangunan dibuat taman penuh bunga. Ada jalan melingkar menuju gerbangnya. Tidak ada yang menghalangi pemandangan ke arah gedung ini, sehingga gedung ini pun menjadi ciri khas kota Bayreuth.

Saya hanya berada sekitar 30 menit di Tristanstr. Namun, 30 menit itu membawa saya kepada ingatan, betapa dahulu jalan ini dipenuhi orang-orang untuk menyaksikan festival Wagner, atau mungkin dulu penuh dengan kereta kuda dengan orang-orang berpakaian chic. Setiap bulan Agustus memang Bayreuth penuh orang untuk menyaksikan festival Wagner selama sebulan penuh. Tiketnya luar biasa mahal dan bahkan harus dipesan beberapa tahun sebelumnya, mengingat banyaknya peminat yang ingin menyaksikan festival ini. Kota kecil yang tenang ini tiba-tiba berubah jadi “sedikit” ramai. Semua sisi kehidupan “disentuh” dengan sesuatu berbau Wagner. Bahkan tahun lalu, anjing milik Wagner pun dijadikan patung-patung dan dipasang di setiap sudut kota. Ada yang memandang senang, banyak pula yang memandang sinis.

Tahun lalu Parsifal kembali dipentaskan. Tahun ini giliran Tristan und Isolde. Salah seorang teman baik saya bekerja setiap tahun di festival Wagner. Biasanya dia mendapat “jatah tiket” untuk menyaksikan latihan para pemusik dan penyanyi opera yang akan pentas di festival tersebut. Dia sudah menawari saya tiket tersebut untuk musim panas tahun ini. Mudah-mudahan ini rejeki saya. Menyaksikan latihannya pun tak apalah, karena saya tidak akan mampu membayar tiket pertunjukan opera sampai ratusan euro.

Menuliskan cerita sehari dalam hidup saya di Bayreuth, tidak sehari bahkan hanya 30 menit, tidak bisa saya lakukan. Sehari ternyata bisa berarti kumpulan dari ingatan tentang tahun-tahun sebelumnya, khayalan tentang ratusan tahun sebelumnya lagi, mungkin juga tahun-tahun yang akan datang. Sehari bisa berarti banyak hal.

Maka, jika saya ditanya bagaimana rasanya tinggal di kota Wagner, saya masih belum bisa menjawab, karena sejujurnya saya hidup di sini, tidak hanya tinggal. Hidup dengan segala dinamikanya. Seperti juga musik Wagner yang dinamis dan dinamikanya tetap saya butuhkan minimal untuk membantu membuat saya bangun menghadapi hidup.

Bayreuth, 120605

Untuk Koen++: terima kasih atas tulisan-tulisannya yang inspiratif dan mencerahkan.
Cat.: Tulisan ini dimuat di http://kun.co.ro

Advertisements

8 Gedanken zu „„…Gimana ya rasanya tinggal di kota Wagner…?“ – Sebuah catatan

  1. Pingback: Sehari di Kota Wagner – Sebuah Catatan untuk Sebuah Mimpi | From This Moment

    • ahahaha, errrr….saya malah justru sudah penat di sini, terlalu sepi, hehe (malah curhat, hehe). tapi boleh deh, kapan-kapan saya tulis. saya memang belum pernah nulis soal ini. thanks idenya :)

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s