The Three Rooms of Melancholia

the three rooms of melancholia

Berjudul asli Melancholian Kolme Huonetta. Disutradarai oleh sutradara perempuan asal Finlandia, Pirjo Honkasalo, dan diproduksi tahun 2004.  Durasi yang cukup panjang untuk sebuah film dokumenter, 106 menit, tidak membuat film ini menjadi membosankan.

Boleh saya katakan, ini film terbagus dari semua film yang saya lihat selama One World 05: 7th Annual Human Rights Documentary Film Festival di Praha berlangsung. Tak heran, jika Pirjo Honkasalo mendapatkan anugerah penghargaan sebagai sutradara terbaik di festival One World tahun ini. Dia memang berhasil  mengombinasikan teknik pengambilan gambar, bahasa gambar dalam film dan tema film dengan baik. Hasilnya adalah sebuah film dokumenter yang indah menyentuh, tapi tidak kehilangan kekuatan pesan yang ingin disampaikannya. Latar musik yang dipilih pun menjadi detak dan detik gambar-gambar yang muncul: kadang lirih, kadang menghentak, diakhiri dengan denting yang memecah kesunyian, dan kembali sepi.


Film ini terbagi menjadi „tiga kamar“. „Kamar“ pertama diberi nama „Longing“. Lokasi: Kronstadt, daerah dingin di dekat St. Petersburg. Di sebuah akademi militer untuk anak-anak, Mischa, Kolja, Popov dan Dimitr belajar baris berbaris, memberikan hormat, menggunakan senjata, belajar teknik-teknik pertahanan diri dan belajar „disiplin militer“ lainnya. Mereka adalah anak-anak berusia di antara 6 sampai 15 tahun yang diambil dari jalanan, anak-anak yang kehilangan orang tuanya. Mereka dididik keras dan didoktrin bahwa musuh utama mereka adalah orang-orang Chechen. Ironisnya, salah seorang dari mereka adalah seorang anak laki-laki keturunan Chechen. Di akademi itu dia didiskriminasikan, karena dia seorang Chechen.

Gambar-gambar berwarna kebiruan dan salju-salju tebal serta uap air yang berhembus saat mereka bernafas, menambah kesan dingin „kamar“ ini. Namun, mereka tetap anak-anak. Saat mereka belajar baris berbaris atau harus berdiri diam hormat saat upacara, ada saja cara mereka bermain atau mengisengi temannya. Kehangatan anak-anak. Anak-anak biasa. Mischa yang senang berpuisi. Popov dengan wajahnya yang kaku dan dingin terheran-heran menyaksikan orang-orang yang berdoa di gereja. Atau ada seorang anak yang ingin membantu temannya mengokang senjata, karena saat berlatih dia tidak mendengar bunyi „klik“ dari senjata temannya itu. Atau Dimitr, yang pada akhir semester pulang ke tempat nenek dan ibunya, menyuapi neneknya dengan sepotong roti, merasa lucu karena neneknya sudah tidak mempunyai gigi lagi.

Tidak mudah ditebak bagaimana perasaan anak-anak itu saat di televisi ditampilkan siaran teror bom bunuh diri di sebuah gedung bioskop di Beslan. Tuduhan utama ditujukan pada orang-orang Chechen.

„Kamar“ kedua bernama „Breathing“. Berbeda dengan „kamar“ pertama yang sedikit menghentak dengan musik berirama mars, „kamar“ ini sangat lirih. Pelan, liris, sepi, nyaris tak ada suara mengiringi munculnya gambar-gambar hitam putih di layar. Pemandangan kota mati Grozny, ibukota Chechnya. Puing-puing dan asap-asap dari bekas bangunan yang terbakar, anjing-anjing liar yang pincang mengais-ngais di reruntuhan, menjadi “pintu masuk” ke sebuah apartemen kumuh di kota ini. Seorang perempuan, Hadzihat namanya, mengetuk pintu sebuah apartemen yang dibukakan lamat-lamat oleh seorang anak kecil. Tak ada suara.

Gambar beralih ke dalam kamar yang kumuh. Seorang ibu terbaring sakit. Saat itulah Hadzihat berkata bahwa ia datang untuk menjemput anak-anak tersebut. Sudah lebih dari 70 orang anak yatim piatu dan anak-anak yang tidak mampu diadopsinya. Ibu itu sudah terlalu sakit untuk merawat anak-anaknya yang berjumlah 3 orang dan semua masih kecil. Anak yang terbesar baru berumur 5 tahun.

Adegan mengharukan terjadi saat anak-anak ini dibujuk untuk ikut dengan Hadzihat. Anak yang terbesar menangis sambil terus menghapus air mata ibunya yang jatuh di pipi. Semua ditampilkan dengan lirih. Namun, terasa jelas kesakitan di sana.

“Kamar” ini memang hanya menampilkan gambar-gambar hitam putih yang bisu. Seolah mengajak penonton untuk mengambil nafas dan menikmati helaan nafas itu sejenak. Menciptakan keheningan mengharukan yang terasa jelas saat Hadzihat mengajak makan anak yang paling besar. Pelan-pelan anak itu menghabiskan makanan yang ada di piring di hadapannya, kemudian ditutup dengan suara denting garpu beradu dengan piring. Hanya kekosongan yang tersisa saat denting itu perlahan menghilang.

Gambar berganti ke perjalanan sepi Hadzihat membawa anak-anak itu ke “kamar” ketiga bernama “Remembering”. Anak-anak itu tidur di pelukan Hadzihat yang memandang kosong keluar jendela mobil.

“Kamar” ketiga adalah “kamar” yang berwarna. Dibuka dengan pemandangan indah daerah Ingushetia. Hadzihat membawa anak-anak itu ke penampungan pengungsi di suatu desa yang indah di daerah Ingushetia. Banyak dari anak-anak itu yang ditemukan di jalan. Mereka bukan orang Chechen saja, tetapi ada juga anak-anak Rusia. Seorang gadis berusia 19 tahun berada di sana membantu Hadzihat. Saat dia berusia 12 tahun dia diperkosa berulang kali oleh tentara-tentara Rusia. Beberapa bulan kemudian dia kehilangan anak yang dikandungnya. Sejak saat itu, dia dibawa oleh Hadzihat dan lambat laun bangkit melanjutkan hidupnya.

Seorang anak laki-laki keturunan Rusia diambil dari jalanan, setelah dia disodomi oleh tentara Rusia. Sejak itu dia membenci segala sesuatu yang berbau Rusia. Dia ikut Hadzihat dan masuk Islam.

Di dalam „kamar“ ini ditampilkan gambar-gambar indah pemandangan Ingushetia dengan shoot-shoot panjang. Pemandangan musim semi yang indah saat pucuk-pucuk daun mulai tumbuh dan bunga-bunga mulai berkembang. Gradasi langit dan bumi dan di antaranya diambil oleh Honkasalo, memperkuat kesan „spiritual“ yang memenuhi „kamar“ ini.

Adegan menyembelih biri-biri untuk „selamatan“ anak-anak yang baru datang, shalat berjamaah di mushala kecil satu-satunya di desa terpencil itu, membaca Qur’an bersama, berdzikir ritmis bersama, suara adzan subuh yang menggema memecah keheningan, menambah kesan: ingatlah, ada harapan, ada hari esok. Walaupun kita tidak tahu hari esok itu seperti apa, tetapi Tuhan tetap ada.
„Kamar“ ini tetap tak memunculkan dialog di antara orang-orang itu. Yang ada hanya suara Hadzihat membangunkan anak-anak angkatnya untuk shalat subuh, dan suara sang gadis yang memeluk erat Amina, anak kecil yang baru datang dan berkata „Saya sayang sekali padamu“. Yang ada hanya „dialog“ mereka dengan Tuhan dan dengan diri mereka sendiri. Air mata yang menetes perlahan saat dua anak-anak laki-laki shalat, atau tulang pipi yang mengeras saat mereka melihat acara televisi yang menampilkan penangkapan orang-orang Chechen di Beslan oleh tentara Rusia (acara yang sama yang disaksikan oleh para calon kadet di Kronstadt), rasanya cukup mewakili apa yang berkecamuk di hati dan pikiran mereka.

Para calon kadet di Kronstadt diajarkan bahwa musuh mereka adalah orang-orang Chechen, sedangkan di Ingushetia anak-anak itu membenci hal-hal yang berbau Rusia. Konflik yang terjadi di Chechnya tidak hanya merenggut jiwa jutaan orang, tetapi juga merampas masa kecil anak-anak ini: anak-anak di Kronstadt dan anak-anak di Ingushetia.

Sudah sejak di awal film penonton dibiarkan masuk ke dalam jiwa anak-anak tadi. Teknik close up yang digunakan oleh Honkasalo untuk menangkap ekspresi anak-anak dan karakter-karakter lainnya, tersampaikan dengan jelas. Sedangkan long shoot dia gunakan untuk merekam pemandangan alam di ketiga “kamar” tersebut. Dia cukup “berbaik hati” membiarkan penonton berkelana dengan jiwa anak-anak ini. Bersama-sama masuk ke “kamar-kamar” yang hening, tetapi –sebenarnya- tidak melankolis.

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s