Kisah Sebuah Rumah dan Penjaganya

Rumah itu kosong. Berpenjaga seorang. Rumah itu berhalaman luas dan ber-ruang banyak. Si penjaga rumah harus menjaganya, dengan seikat kunci di genggamannya. Pemilik Rumah telah menunjuknya untuk menjaga rumah itu, sampai ada penghuni yang cocok untuk berdiam dan menetap di dalamnya. Penghuni yang akan bersama-sama dengan si penjaga rumah memelihara dan merawat rumah tersebut, sampai rumah itu kembali diambil oleh Pemiliknya.

Rumah itu kosong. Berhalaman luas dan ber-ruang banyak. Sudah banyak orang yang ingin melihat-lihat rumah tersebut. Namun, si penjaga rumah tetap berhati-hati, tak ingin rumah tersebut berpenghuni orang yang salah. Jika ada yang datang untuk melihat-lihat, kadang hanya dia bawa sampai ke halamannya saja. Tak dibawanya masuk ke dalam. Bahkan kadang tak dibukakannya pintu, bahkan pintu halaman sekalipun.

 

Orang datang silih berganti melewati rumah itu. Ada yang lewat saja, ada yang melirik, ada yang menengok, ada pula yang berpaling. Hari berganti, minggu berpacu, bulan bertukar, tahun berlalu. Si penjaga rumah senantiasa menjaga dan merawat rumah itu dengan baik dan setia. Dirawatnya halaman rumah itu, ditanami bunga, pohon dan rerumputan hijau. Dibersihkannya rumah tersebut, juga ruangan dan kamar-kamar di dalamnya. Diperbaikinya jika ada cacat, cela dan rusak. Si penjaga rumah ingin senantiasa menjadikan rumah dan halaman yang dijaganya lebih baik. Dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun. Dia ingin rumah itu baik dan indah, jika suatu saat Pemilik Rumah mengambilnya.

Suatu pagi seseorang datang, dibukakannya pintu halaman rumah itu. Mungkin dia calon penghuni yang cocok, rasa si penjaga rumah. Ternyata mereka hanya sempat berada di halaman. Mereka terlalu asyik bermain di sana, dengan ayunan, burung-burung, kupu-kupu dan bunga bermekaran. Ah, tentu saja, saat itu mereka masih sangat senang bermain-main. Hari masih pagi dan cuaca pun cerah. Matahari bersinar hangat. Tak ada hujan. Tak terpikirkan oleh si penjaga rumah untuk mengajak orang itu masuk ke dalam. Bahkan mungkin dia lupa bahwa dia punya seikat kunci di genggamannya untuk membawa orang itu masuk ke dalam. Mereka terlalu asyik bermain di halaman.

Hari menjelang siang. Orang itu pergi. Ditinggalkannya si penjaga rumah sendirian di halamannya. Mungkin memang ada ayunan dan halaman yang lebih hijau dan berwarna warni selain halaman rumah itu. Si penjaga rumah melanjutkan kembali hari-harinya menjaga rumah dan halamannya. Semakin lama rumah dan halaman itu semakin penuh terisi bunga dan barang-barang dari berbagai tempat yang berbeda. Dia ingin memperkaya dan mengisi rumah itu. Membuatnya menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Namun, rumah itu tetap belum berpenghuni. Tetap ada yang datang, lewat, melihat-lihat, meminta izin untuk masuk dan melihat ruang yang ada di rumah itu. Untuk beberapa orang, dibukakannya pintu pagar, dibiarkannya orang itu melongokkan kepalanya. Hanya itu. Selebihnya dia lebih senang menyibukkan diri dengan rumah dan halaman yang dijaganya. Kadang dia hanya memperhatikan apa yang terjadi di luar rumah dan halamannya.

Siang datang menjelang. Seseorang datang lagi. Tak terduga ingin melihat-lihat rumah dan halamannya. Dibukakannya pintu pagar, dibawanya orang itu masuk ke halaman, melihat-lihat halamannya. Kali ini dia dibawa oleh si penjaga rumah sampai ke teras. Mereka duduk-duduk di sana, menikmati desir angin siang hari, kadang diselingi rinai hujan. Menikmati duduk-duduk mereka dengan berbincang banyak hal, ditemani secangkir teh atau susu coklat hangat. Si calon penghuni ingin masuk melihat ruang-ruang yang ada di dalam rumah itu. Si penjaga rumah membukakan pintu masuk rumah itu dengan kunci yang ada di genggamannya. Diajaknya calon penghuni itu masuk ke ruang tamu. Melihat-lihat ruang itu. Duduk- duduk di sana. Berbincang-bincang di sana. Tentang banyak hal. Mereka masuk semakin dalam. Satu per satu kunci dari ikatan yang ada di genggaman si penjaga rumah diberikan kepada si calon penghuni rumah. Diberikannya dengan suka rela. Dibiarkannya si calon penghuni membuka pintu-pintu ruang di dalam rumah itu. Dia masuk bahkan ke bagian yang paling dalam di rumah tersebut. Mereka bersama-sama melihat-lihat, kadang berdiam sejenak, mencari ruang yang ternyaman yang ada di rumah itu.

 

Ya, rumah itu ber-ruang banyak. Ada yang kecil ada yang besar. Ada yang sempit ada yang luas. Ada yang gelap ada yang terang. Ada yang bersih ada yang kotor. Si penjaga rumah telah memberikan seikat kunci di genggamannya kepada si calon penghuni. Dia merasa, inilah calon penghuni rumah yang tepat. Diberikannya seikat kunci itu, sehingga si calon penghuni bisa masuk dan keluar sesukanya.

 

Di luar kadang hangat membelai, terik menyapu, hujan menempias. Dan si calon penghuni rumah sudah memiliki kunci itu. Dia bisa masuk dan keluar sesukanya. Namun, ternyata dia masih belum bisa memutuskan, apakah dia akan menghuni rumah itu dan berdiam di dalamnya. Bersama-sama si penjaga rumah memelihara dan merawat rumah itu, sampai diambil kembali oleh Pemiliknya. Dia datang dan pergi, dengan seikat kunci dari si penjaga rumah.

Hari beranjak senja. Si penjaga rumah lelah menunggu si calon penghuni. Setelah lama tak berkabar, si calon penghuni itu muncul kembali. Masih dengan seikat kunci di genggamannya. Bersiap masuk kembali ke halaman dan ruang-ruang di rumah itu. Namun, ia tidak tahu, bahwa si penjaga rumah masih memiliki sebuah kunci yang lain. Kunci itu digunakannya untuk membuka pintu halaman dan rumah tersebut serta mempersilahkan seseorang masuk ke dalamnya. Kunci itu diberikan kepada seseorang yang telah datang padanya dan meminta ijinnya untuk melihat-lihat rumah itu. Kepada seseorang yang ingin berumah di dalamnya. Kepada seseorang yang telah kehilangan rumahnya. Kepada seseorang yang membutuhkan rumah baru untuk tinggal, hidup dan bernaung di bawahnya. Kepada seseorang yang dibiarkannya pelan-pelan melihat dan memasuki ruang-ruang yang sudah terbuka sebelumnya. Ruang-ruang yang sudah dibuka oleh si calon penghuni yang pergi.

Sekarang ada dua orang di dalam rumah itu. Si penjaga rumah dan si calon penghuni lain. Mereka masih melihat-lihat ruang-ruang kosong yang ada di dalamnya. Mencari ruang yang ternyaman. Mencari saat yang tepat untuk bersama-sama menghuni dan merawat rumah itu. Sampai diambil kembali oleh Pemiliknya.

 

 

Bayreuth, 110305

19:18

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s