Der Untergang – Hitlers Letzte Tage

der untergang

Der Untergang: Hitlers letzte Tage. Film ini berkisah tentang hari-hari terakhir Hitler di bunker-nya di Berlin sebelum rekapitulasi Jerman pada Sekutu tanggal 2 Mei 1945. Disutradarai oleh Oliver Hirschbiegel dan dibuat berdasarkan buku yang ditulis oleh Traudl Junge, sekretaris pribadi Hitler di masa-masa terakhirnya.

Traudl Junge (diperankan oleh Alexandra Maria Lara), yang meninggal di tahun 2002, datang dengan inisiatif sendiri dari München ke Berlin, melamar untuk menjadi sekretaris sang Reichskanzler, kemudian diuji dan diterima langsung oleh Hitler (diperankan dengan sangat bagus oleh Bruno Ganz). Saat itu dia berusia 22 tahun. Usia di mana orang sedang butuh sosok idola. Hitler-lah yang ada. Sosok laki-laki charmant yang memperlakukan perempuan di hadapannya dengan sopan, laki-laki dengan kepercayaan diri yang besar dan terpancar dari auranya, dari cara dia bersikap, berbicara, berdiri, menatap. Sosok yang tahu apa yang dia mau dan tahu apa yang harus dia lakukan. Sosok laki-laki tua yang sedikit bungkuk dan tangan kiri yang tremor –terus gemetar dan selalu disembunyikan di belakang punggungnya-, kepala berambut tipis berbelah pinggir, mata yang menatap tajam namun tersembunyi kelelahan di sana. Suara yang lembut, dalam, tapi bisa tiba-tiba menggelegar kuat berteriak marah dengan tekanan-tekanan cepat, kuat dan pasti, keluar dari bibir tipis dengan kumisnya yang khas, jika tema pembicaraan beralih ke masalah negara dan bangsa: pengkhianat, pengecut, penjilat, tidak akan pernah mau menyerah, sampai kapan pun, lebih baik mati daripada menyerah. Sosok laki-laki yang masih berbicara dengan dialek selatannya yang kental, berdesis, berteriak, memaki, memuji, menghibur. Sosok laki-laki yang mampu membuat orang bisa melakukan apapun yang dia mau, membuat orang memujanya, membuat orang mengikutinya: membuat kematian dan menghampiri kematian dengan rela, membuat kejayaan dan kehancuran. Sosok laki-laki yang dengan dinginnya membuat perintah mati untuk memutus hidup jutaan orang, tidak hanya untuk musuhnya tapi juga rakyatnya yang terus dibelanya sampai akhir hidupnya. Ironis. Ketidakrelaannya dikuasai oleh yang lain memutuskannya mengorbankan rakyat yang berusaha “diangkat derajatnya” olehnya. Keputusan yang membawanya kepada kematiannya sendiri. Bunuh diri dengan kesadaran penuh: lebih baik mati dan hancur semua daripada tunduk dan menyerah kepada orang lain. Tanggung jawabnya hanya kepada Tuhan. Tanggung jawab atas semua yang sudah dilakukannya kepada rakyatnya, musuhnya, kepada dunia. Tanggung jawab atas keputusannya memilih menjadi seperti itu. Iblis, kata banyak orang. Lelaki gila dan sakit yang lelah dan kesepian.

Dalam film itu saya melihat Hitler sebagai sosok laki-laki yang sangat manusiawi. Tangannya yang tremor, kelelahannya secara lahir dan batin yang tergambar jelas di wajah, mata, dan tubuh yang semakin lama semakin membungkuk. Laki-laki yang kesakitan, kesepian dan ketakutan yang berusaha menyembunyikan semuanya di balik suara yang menggelegar. Suara yang justru semakin menambah kesan betapa kesepiannya dia, betapa dia perlu dikasihani. Laki-laki yang di saat akhir hidup yang dipilihnya sendiri meminta orang-orang dekatnya –yang bersetia padanya- untuk pergi meninggalkannya, karena dia tetap tidak mau menyerah dan mengaku kalah atas semua yang dia bangun dan perjuangkan. Laki-laki dengan harga diri yang dipegangnya kuat-kuat sampai akhir hidup yang dipilihnya sendiri. Laki-laki dengan Ehre.

Traudl Junge tidak pernah merasa menyesal mengenal dan bekerja dengan Sang Führer. Dia mengenal betul sosok manusia itu. Sosok laki-laki yang sempat dipergokinya sedang berdiri diam dalam gelap menatap dinding kosong, tangan kiri yang terus bergetar disembunyikan di balik punggungnya, yang hanya menatap kosong sang sekretaris: pandangan lelah dan kesepian. Laki-laki yang makan makan malam terakhirnya dengan lahap. Menikmatinya bersama sang juru masak dan dua orang pegawainya. Duduk bersama satu meja dengan sang pemimpin yang berterima kasih karena makanan yang dibuat sang juru masak enak sekali. Traudl Junge tidak pernah menyesal. Satu-satunya yang membuatnya sadar adalah saat dia kemudian melihat makam Sophie Scholl, perempuan seusianya yang mati digantung oleh Sang Führer karena dia dengan kelompok Weisse Rose-nya berani melawan Sang Führer. Di saat dan usia yang sama, Traudl Junge pernah mengetik surat perintah dari Sang Führer untuk menggantung Sophie Scholl. “Saya menyesal, karena saya sudah ikut “menggantung” teman saya. Namun, saya tidak menyesal pernah mengenal Hitler”.

Apapun, tanpa perlu melepas apapun yang sudah dia lakukan, Hitler memang sosok luar biasa. Bangsa Jerman rasanya tidak perlu malu pernah memilikinya. Itu bagian dari sejarah yang sudah jadi bagian hidup mereka. Tidak perlu diingkari dan ditutupi betapa pun hitamnya. Tidak perlu diingkari sosok laki-laki kejam yang luar biasa itu. Laki-laki sakit dan kejam dengan Ehre-nya.

Advertisements

2 Gedanken zu „Der Untergang – Hitlers Letzte Tage

  1. Saya telat, baru bisa nonton film itu tahun 2008 ini. Sulit bagi saya untuk mengikutinya secara komplit, saya tak paham bahasa Jerman, sementara subtitle inggrisnya agak payah. Namun secara keseluruhan saya menilai ini film sangat bagus dan manusiawi. Hitler lebih banyak digambarkan sebagai ‚manusia‘, bukan sebagai fuhrer.
    Orang orang di bungker juga digambarkan sebagai manusia, bukan serdadu-serdadu tanpa nyali. Terlihat bagaimana suasana frustasi dan putus asa menyelimuti nereka, dengan mabok dan menari-nari tak masuk akal. Kode of conduct sebagai militer nyaris hilang. Mereka sering bertengkar tak karuan, terlepas dari suasana kepemimpinan hitler yang semakin pointless memasuki tahun 1945.
    Mungkin ini kelebihan seneas eropa ya…, dulu seorang teman mengatakan bahwa perbedaan mendasar antara film hollywood dan dan eropa terletak pada sentuhan art-nya. Menurutnya film eropa adalah ‚karya‘, sementara di hollywood merekahanyalah ‚produk‘.
    Bagaimana benarnya, wallahualam.

  2. Iya, film ini masih jadi salah satu film favorit saya, karena bisa menampilkan sisi humanis dari orang sekejam Hitler, juga orang-orang di sekitarnya. Bersetuju juga tentang film eropa dan hollywood. Walaupun ada juga film hollywood yang bagus dan ada juga film eropa yang jelek. Tapi sebagus apapun, kadang memang nuansa hollywood-nya masih terasa :)

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s