Berada di Surga Buku-buku

 

Bulan Oktober adalah bulan buku di Jerman. Pameran Buku Internasional Frankfurt yang rutin diadakan setiap bulan Oktober, untuk tahun ini diadakan dari tanggal 6 sampai dengan 10 Oktober. Tiga hari pertama pameran hanya diperuntukan untuk penerbit dan pengarang untuk melakukan perjanjian kerja sama usaha, pembelian hak cipta, penerjemahan dan semacamnya. Dua hari terakhir pameran dibuka untuk umum, dengan berbagai macam acara seperti pembacaan cerpen, dongeng, puisi, diskusi, debat, temu pengarang, dan lain-lain. Selain itu, secara paralel diadakan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan pameran buku terbesar di dunia ini, antara lain forum diskusi, pemutaran film, pementasan teater, pertunjukan opera, pameran foto, pembacaan puisi, cerpen, dan lain sebagainya. Kegiatan ini tidak hanya dilaksanakan di Frankfurt, melainkan juga di kota-kota lain di negara bagian Hessen.

Pertama kali ke Jerman 7 tahun lalu, pameran ini saya lewatkan karena harus bekerja. Kedatangan kedua ke Jerman tahun 2001 pada bulan September, itu pun hanya satu bulan, sehingga tidak sempat mengunjungi pameran ini. Tahun lalu, pameran ini terlewatkan pula, karena persiapan kuliah. Tahun ini saya tidak mau melewatkan kesempatan sangat berharga ini, pameran buku internasional terbesar di Jerman bahkan di dunia, sehingga sebulan sebelumnya saya sudah memesan tiket masuk seharga 9 €, serta menjadwalkan kunjungan ke hari terakhir pameran dalam agenda kegiatan saya yang tidak bisa diganggu gugat.

Jam 05.15 dini hari saya sudah keluar kamar. Tentu saja di luar masih sangat gelap dan dingin. Namun, itu semua tidak saya pedulikan dan tidak menghalangi langkah saya menuju stasiun untuk naik kereta terpagi menuju Frankfurt. Sekitar 4,5 jam waktu perjalanan yang harus ditempuh dari Bayreuth menuju Frankfurt.

Di Würzburg saya harus ganti kereta menuju Frankfurt am Main Hbf. Di depan saya duduk seorang gadis yang mempersilahkan saya meletakkan ransel di sebelahnya. Gadis berkacamata yang wajahnya selalu tersenyum. Saya sudah menduga gadis itu memiliki tujuan yang sama dengan saya: Frankfurter Buchmesse, karena sepanjang jalan dia terus membaca suplemen koran Die Zeit tentang Frankfurter Buchmesse, kemudian membaca berlembar-lembar hasil print out tentang profil Frankfurter Buchmesse dan jadwal kegiatan serta informasi yang berhubungan dengan pameran ini. Mendekati Frankfurt kami berbincang dan merasa senang karena kami bertujuan sama.

Karin, nama gadis itu, murid kelas 13 di sebuah Gymnasium di Schwabach, kota kecil dekat Nürnberg. Pertama kali ke Frankfurt dan datang ke pameran buku itu karena ketertarikannya pada dunia dan kultur Arab, Oriental dan Islam. Kebetulan untuk tahun ini, negara yang menjadi tamu kehormatan di pameran buku tersebut adalah negara-negara Arab. Saya, sendirian dari Bayreuth, datang ke pameran buku terbesar itu karena ketertarikan saya pada buku. Ingin kembali merasakan berada di surga buku-buku.

Jam 11.30 kereta sampai di Frankfurt. Akhirnya kami jadi pergi berdua. Dari ngobrol-ngobrol kami, ternyata kami memiliki ketertarikan yang sama pada buku, sastra dan budaya. Suatu kebetulan yang menyenangkan dari pertemuan kecil di kereta dengan alasan dan tujuan yang sama: buku.

Dari Frankfurt/Main Hbf. kami menggunakan subway menuju Frankfurter Messe yang terletak tak jauh dari stasiun kereta api utama kota Frankfurt. Hanya perlu waktu 5 menit dan melewati dua stasiun untuk sampai di halte Messe. Halte tersebut memang diperuntukan untuk para pengunjung pameran, yang akan mengunjungi tidak hanya pameran buku, tetapi juga pameran-pameran lain yang diadakan di Frankfurt. Area pameran ini memang sangat luas, sampai berhektar-hektar. Halte ini menjadi pintu gerbang menuju lokasi pameran bagi pengunjung yang datang menggunakan transportasi umum.

Penuh sesak pengunjung yang akan mengunjungi hari terakhir pameran ini. Namun begitu, tidak membawa kesan padat dan semrawut, walaupun pengunjung beribu-ribu jumlahnya dan halte itu satu-satunya jalan menuju area pameran. Pengunjung antri dengan rapi. Mereka yang belum memiliki tiket antri dengan rapi dan sabar di depan loket penjualan tiket. Sabar mungkin bukan kata yang tepat karena mereka tidak perlu berlama-lama berdiri menunggu. Antrian bergerak maju dengan cepat, karena ada 12 loket yang dibuka, semua dikerjakan dengan sangat cepat. Mereka yang sudah memiliki tiket*bisa langsung memasuki gerbang kontrol, juga sekitar 12 gerbang, untuk memeriksakan tiket yang juga berlaku sebagai tiket untuk trem, subway dan bis di kota Frankfurt selama pameran berlangsung. Pemeriksaan pun tidak berlangsung lama, karena para pemeriksa hanya perlu menggesek tiket tersebut. Antrian pun bergerak cepat. Setiap orang kemudian mendapat peta hall pameran yang mengambil 8 hall dari 11 hall yang tersedia di area pekan raya tersebut. Pengunjung yang sudah melewati gerbang pemeriksaan tiket masih harus memeriksakan tas yang dibawanya dengan memasukkannya ke lorong pemindai. Mereka yang tidak melewati lorong itu, memeriksakan isi tasnya kepada petugas-petugas keamanan yang menjaga setiap pintu masuk, yang juga berjumlah sekitar 12 pintu. Mereka yang malas membawa tas dan jaket, bisa menitipkannya di garderobe yang ada di setiap lantai Hall pameran.

Setelah Karin datang, mulailah perjalanan kami memasuki surga buku-buku. Kami langsung memutuskan mengunjungi Hall penerbit internasional yang mengisi hampir 56 % pameran,

41 % nya diisi oleh penerbit-penerbit Jerman, dan 3 % nya untuk media massa koran, radio dan TV serta mitra kerjasama seperti Goethe Institut, DAAD dan Auswärtiges Amt (kementrian luar negeri Jerman). Betapa kemudian saya menjadi semakin bersemangat karena di Hall 6 yang akan kami kunjungi itu ada stand Indonesia!

Tidak bisa berkata apapun saat kami memasuki Hall 6.1 selain rasa kagum dan meledak-ledak yang nyaman saat berada di ruangan sangat luas berisi buku, buku, buku, buku, buku, buku. Pandangan-pandangan bersemangat dari orang-orang yang ada, menambah rasa meledak-ledak itu. Orang-orang dari seluruh dunia, buku-buku dari seluruh dunia. Wah! Rasanya saya semakin ingin meledak karena senang saat orang-orang –terutama sesama muslim- tersenyum dan menyalami saya. Karin terheran-heran, karena mereka dan saya tidak saling mengenal. Itulah kami, saya bilang. Namun, rasanya semua orang yang ada di ruangan itu menjadi otomatis saling mengenal: karena dan untuk buku.

Hall 6.1 dan 6.0 diisi antara lain oleh stand-stand penerbit dari Jepang, Belanda, Belgia, Finlandia, Swedia, Norwegia, Irlandia, Korea, Cina, negara-negara Arab sebagai negara kehormatan (Saudi Arabia, Mesir, Kuwait, Uni Emirat Arab, banyak lagi yang lainnya), Singapura, Malaysia, Philiphina, India, Bangladesh, Pakistan, negara-negara Asia lainnya dan tentu saja Indonesia.

Stand Indonesia yang diwakili oleh CSIS kecil saja, itupun bergabung dengan stand Myanmar, kalau saya tidak salah. Stand yang cukup besar untuk Indonesia diisi oleh penerbit yang tergabung ke dalam Ikapi yang memamerkan buku-buku antara lain terbitan Gramedia dan Mizan. Indonesia masih punya satu stand lain dengan Penerbit Obor di Hall 5.0.

Hall 6 terdiri atas 4 lantai. Hall 6.0 dan 6.1 digunakan untuk tempat pameran, Hall 6.2 adalah tempat untuk Literary Agents and Scouts Centre, dan Hall 6.3 dijadikan mesjid (benar-benar mesjid). Di setiap lantai tersedia garderobe untuk menitipkan barang dan café atau restaurant kecil bagi mereka yang ingin beristirahat sejenak melepas lelah sambil makan dan minum.

Stand-stand dibangun dan dibuat senyaman mungkin dengan kursi-kursi dan sofa kecil untuk duduk sambil membaca dengan tenang. Masing-masing penerbit berusaha membuat standnya semenarik dan senyaman mungkin.

Buku-buku yang dipamerkan sangat beragam. Kebanyakan buku-buku tentang budaya, sastra (novel, roman, dll), sosial politik, seni, sampai ke buku anak-anak dan buku masakan. Menakjubkan melihat beragam rupa jenis buku dengan berbagai macam bahasa, warna, tulisan.

Negara-negara Arab, yang menjadi tamu kehormatan pameran buku yang sudah diadakan sejak tahun 1949 ini, banyak membagi-bagikan buku dan CD secara cuma-cuma. Salah satu buku yang dibagikan adalah buku super tebal tentang kulturgeografi negara-negara Arab. Buku-buku tentang Islam pun dibagi-bagikan gratis. Karena tema pameran adalah Literatur der arabischen Welt (Literatur dari Dunia Arab), maka semua peserta pameran memamerkan buku-buku yang berhubungan dengan Islam dan dunia Arab, baik itu karya-karya penulis negara Arab yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa negara-negara tersebut, atau buku-buku karya penulis negara-negara peserta pameran yang berisi tentang Islam dan negara-negara Arab.

Di stand Uni Emirat Arab, saya membiarkan tangan saya dilukis dengan henna. Di stand Mesir banyak orang mengantri untuk meminta namanya dilukis dengan kaligrafi. Stand ini tidak hanya memamerkan buku-buku, tetapi juga lukisan dan foto. Para pengunjung yang keluar dari stand Saudi Arabia, yang dibuat naik turun berlapis karpet berwarna coklat dan dihiasi dengan pohon-pohon kurma keemasan, membawa sekeranjang tas plastik penuh berisi buku, katalog, CD, dan alat-alat tulis.

Stand-stand negara lain pun berusaha menampilkan ciri khas negaranya masing-masing. Stand Indonesia dilengkapi dengan hiasan-hiasan dari Bali. Di stand Korea saya pun menyempatkan diri untuk mencoba membuat cetakan dengan plat besi yang sudah dikenal dan dipakai di China beribu-ribu tahun sebelum mesin cetak ditemukan oleh Gutenberg. Baru dua lantai di satu Hall yang kami datangi, kami sudah menenteng banyak buku, katalog, CD, kartu pos, pembatas buku, dll.

Kunjungan dilanjutkan ke Hall 5. Di Foyer yang menghubungkan Hall 6 dan 5 diisi oleh stand koran Die Zeit dan Bertellmanns Club serta stasiun TV ZDF. Mereka pula yang mengadakan temu pengarang dengan nama acara „das blaue Sofa“ yang disiarkan langsung. Panggung dibuat berbentuk buku tebal terbuka, lengkap dengan tulisan-tulisan, yang setelah saya perhatikan betul, ternyata adalah bab pertama dari roman karya Goethe „Die Wahlverwandtschaften“: „Erster Teil. Erstes Kapitel. Eduard – so nennen wir einen reichen Baron im besten Mannesalter…“ . Di atas panggung berbentuk buku terbuka itu diletakkan sofa panjang berwarna biru laut yang menjadi tempat bagi pengarang dan moderator acara.

Pengarang-pengarang Jerman dan pengarang yang menulis dalam bahasa Jerman yang mengisi acara tersebut antara lain: Ulla Hahn, Tahar Ben-Jelloun, Franziska van Almsick, Udo Jürgens, Felicitas Hope, Jakob Arjouni, Bodo Kirchhoff, Rafik Schami, Jürgen Roth, dll. Saat ini mereka memang termasuk pengarang yang buku-bukunya sedang digemari. Pada hari itu, kebetulan sekali Felicitas Hope dan Rafik Schami yang mengisi acara. Felicitas Hope, karyanya pertama kali saya kenal dari sahabat saya Tarlen yang memberikan saya karya terjemahan Felicitas Hope („Piknik Para Tukang Cukur“ diterjemahkan oleh Dewi Noviami) saat saya pertama kali datang ke Tobucil lebih dari dua tahun lalu. Saat dia datang ke Tobucil saya tidak sempat mengikuti acaranya. Kebetulan sekali kemarin itu saya datang dan ternyata tepat dengan acara temu pengarang dengan Felicitas Hope. Rafik Schami adalah penulis Syria yang exil di Jerman karena alasan politik. Menulis banyak cerpen dan roman yang berisi tentang keberjarakan dan keterasingan. Karyanya yang digolongkan orang ke dalam Exilliteratur banyak dipakai sebagai bahan kuliah saya di sini.

Temu pengarang dengan Felicitas Hope dimulai pukul 13.00. Dia berbicara tentang karyanya yang terbaru Verbrecher und Versager, yang berisi tentang kisah empat orang pria yang terus mencari jati dirinya. Yang menarik dari buku ini adalah empat orang tokohnya benar-benar nyata. Untuk menulis buku ini, Felicitas Hope tinggal selama berbulan-bulan dalam sebuah kapal dan ikut berlayar. Hope bercerita bagaimana dia menikmati kehidupan di kapal dan berlayar dengannya. Baginya itu hidup yang sebenarnya: motoris, bergerak perlahan pelan, namun terus bergerak. Menulis pun untuk Hope adalah sesuatu yang motoris, dia menulis mengikuti gerak hati, kepala, dan tangannya. Jika tidak, maka dia akan berhenti sejenak, menikmati “ketidakbergerakan”nya untuk kemudian berlanjut lagi. Itu hidup, katanya. Ada saatnya manusia memang harus diam sejenak, namun sebenarnya hidup terus berlanjut. Saat ditanya, untuk siapa sebenarnya karyanya ditujukan, Hope menjawab, dia ingin mengenal dan tahu siapa-siapa yang membaca karyanya dan menulis untuk mereka, tetapi itu tidak mungkin. Maka, dia menulis untuk dirinya, membiarkan saja semua bergerak dan mengalir dari dirinya, berusaha jujur pada dirinya. Menarik menyimak pernyataannya di akhir perbincangan, saat ditanya mengapa tidak menulis tentang atau berlatarbelakang Berlin –tempat tinggalnya saat ini-, “Saya tidak cukup bagus untuk menulis tentang kota yang menjadi rumah kedua saya, padahal Berlin sangat indah dan inspiratif untuk dituliskan. Penulis-penulis lain menuliskan Berlin dengan sangat bagus, saya tidak mau merusaknya dengan tulisan saya. Biar saja saya menuliskan yang lain”, demikian Hope, perempuan berambut ikal pendek yang terlihat ramah dan murah senyum serta percaya diri. Saya sempat mencuri-curi membuat foto Felicitas Hope, karena di area pameran ini sebenarnya –sayang sekali- tidak diperbolehkan mengambil gambar, kecuali untuk pers.

Sambil menunggu temu pengarang dengan Rafik Schami, Karin dan saya menyempatkan diri mengunjungi Hall 5.1 yang berisi stand-stand dari penerbit internasional, yaitu penerbit dari negara-negara Eropa Timur, seperti Polandia, Ceko, dan negara-negara bekas Uni Soviet. Dari stand Kroatia aku mendapat buku kumpulan puisi dari para penyair Kroatia, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Pukul 14.30 temu pengarang dengan Rafik Schami dimulai. Sebelumnya adalah temu pengarang dengan Bodo Kirchhoff yang penuh sesak. Namun, ternyata pengunjung tak beranjak pergi bahkan semakin bertambah banyak untuk melihat Rafik Schami. Dengan tertib pengunjung mengatur diri dengan duduk di lantai, karena tempat duduk yang disediakan tidak cukup untuk menampung pengunjung yang membludak. Sebagian yang tidak mendapat tempat berdiri dengan teratur. Beruntung saya mendapat tempat agak di depan yang memungkinkan saya melihat Rafik Schami dengan jelas. Lelaki berusia sekitar 60 tahunan, cukup charmant dan rapi, kelahiran Syria yang karena alasan politik –tidak bisa menyuarakan isi hati dan kepala lewat tulisan di negaranya- memilih tinggal di Jerman, exil, jauh dari tanah air dan rumah yang selalu dirindukannya. Schami tidak terlalu banyak berkata tentang karya terbarunya, buku yang cukup tebal Die dunkle Seite der Liebe. Ia lebih banyak berbicara –karena pertanyaan yang diajukan- tentang proses menulis hingga menyentuh banyak hal, dari mulai masalah sosial, agama, terutama politik. Kritiknya terhadap situasi politik di negaranya dan di negara-negara Arab lainnya, cukup keras. Tidak sungkan ia pun mengkritik pemerintah Jerman dan Uni Eropa yang „seolah mau ‚menjembatani’ dan ‚memperhalus’ konflik yang terjadi antara Timur dan Barat dengan mengusung tema dunia Arab dalam berbagai kegiatan, termasuk dalam pameran buku ini. Namun, siapa yang diajak kerja sama? Liga Arab yang notabene berisi orang-orang yang korup, yang memanfaatkan rakyatnya untuk kepentingan politik dan kekuasaan mereka, yang tidak pernah peduli pada rakyatnya dan kultur mereka sendiri“. Namun, Schami tidak mengingkari, walau bagaimana pun acara seperti ini tetap memiliki sisi positif, karena orang-orang yang datang ke acara pameran buku internasional ini memiliki tujuan dan minat serta ketertarikan yang sama, yaitu buku. Buku lah yang menjembatani semuanya. Terlepas dari tujuan yang ada di balik penulisan buku-buku itu, buku tetap menjadi pintu yang terbuka untuk masuk ke dunia dan cakrawala yang baru.

Schami memilih tinggal jauh dari rumah yang selalu dirindukannya, selain memang tidak memungkinkan untuk kembali, juga agar dia terus bisa berjarak dan menilai objektif „rumah“nya itu. Tidak dipungkiri bagaimana dia selalu ingin kembali, sehingga tulisan-tulisannya selalu diwarnai kulturnya. Ingatan dan bayangannya akan rumah kali ini berusaha dituliskannya dalam buku terbarunya itu dengan bantuan adiknya yang mendeskripsikan keadaan di rumah dan kotanya lewat telefon genggam. Schami menuliskan kulturnya dengan bahasa Jerman, „karena saya tidak menguasai bahasa Jerman. Saya tetap berpikir dengan kultur saya, tidak bisa tidak. Maka beginilah jadinya tulisan saya. Tulisan saya panjang-panjang, dengan cerita yang bergerak cepat menuju puncak kemudian tiba-tiba berhenti, seperti Scharazade yang bercerita setiap malam. Saat cerita sedang seru-serunya, tiba-tiba dia berhenti dan cerita dilanjutkan keesokan harinya. Begitu terus, sampai sang raja ‘takluk’ padanya. Ini kan teknik menguasai juga”, ujarnya jujur menjawab pertanyaan tentang tulisannya yang memberi gaya baru pada dunia sastra Jerman dan mendapat sambutan luar biasa di negara yang bukan negara dan budayanya.

Pengakuan terhadap Rafik Schami memang terbukti dengan pengunjung yang membludak yang memperhatikan dengan seksama setiap kata yang diucapkannya, memberikan applaus terhadap kata-katanya yang menyentuh dan kritiknya yang tajam. Tepukan panjang pun dihadiahkan pengunjung untuknya saat acara berakhir dan pengunjung membubarkan diri dengan tertib. Komentar-komentar yang sempat kudengar adalah, “benar apa yang dikatakannya, kita semua berkumpul di sini hanya karena buku, dan semua damai”.

Ah, seandainya buku memang tetap dijadikan pintu menuju surga yang damai dan tidak disalahgunakan…

Kunjungan kami dilanjutkan ke Hall 5.0 yang juga berisi stand penerbit internasional, international centre dan translator centre. Selanjutnya kami menuju Hall 4.1 yang berisi stand-stand penerbit dari Jerman, Austria dan Swiss dengan buku-buku fiksi, nonfiksi, art books, dan graphic art. Yang menarik, penerbit-penerbit yang ada di hall ini adalah penerbit-penerbit alternatif, bukan penerbit-penerbit besar di ketiga negara tersebut, sehingga buku yang diterbitkannya pun sangat ekslusif. Di Hall ini pun, di stand penerbit Horlemann Swiss dipajang di depan buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, antara lain Haus vom Glass (Rumah Kaca), Spür der Schritte (Jejak Langkah), dan Stilles Lied eines Stummen (Nyanyi Sunyi Seorang Bisu). Rasanya agak miris, karena di stand Indonesia buku-buku karya Pram ini tidak dipamerkan.

Cukup lelah dan sakit kaki dan bahu kami saat kami kemudian mengelilingi Hall 3.1 yang berisi juga berisi buku-buku fiksi dan nonfiksi, buku-buku agama dan buku tentang turisme. Hall 3.0 yang berisi buku anak-anak, remaja dan komik, tidak sempat kami kunjungi karena waktu yang tidak memungkinkan. Kami harus mengejar kereta untuk kembali ke Nürnberg dan Bayreuth.

Menuju halte Messe, kami melewati forum dan tenda-tenda yang dijadikan ajang untuk pembacaan cerpen, puisi, dongeng, dan beberapa pertunjukan lainnya. Semua diadakan sebagai bagian dari rangkaian acara pameran. Kami meninggalkan area pekan raya yang setiap saat dijadikan ajang pameran ini dengan perasaan puas tidak puas. Puas karena merasa beruntung dan nyaman bisa berada di surga buku-buku, berada di antara buku-buku dan orang-orang dari seluruh dunia, tetapi tidak puas karena sebenarnya kami masih ingin berada di sana, namun apa daya, semua ada batasnya. Udara yang cukup nyaman, cerah dan tidak terlalu dingin, membuat keindahan hari Minggu yang kami habiskan di Frankfurt menjadi terasa lebih lengkap.

Kereta yang akan membawa kami pulang berangkat pukul 16.34. Penuh sesak kereta dari Frankfurt menuju Nürnberg. Kebanyakan penumpang membawa tas-tas besar berisi buku-buku, katalog, prospekt, dll. Di jalan, kami punya waktu cukup banyak untuk melihat „harta karun“ yang kami dapat. Kami menikmati perjalanan kami. Di Nürnberg, kami berpisah. Karin ke Schwabach, saya ke Bayreuth. Senang sudah menghabiskan akhir pekan bersama di surga buku-buku. Pertemuan dan hari yang menyenangkan.

Tiba di rumah pukul 22.30 dengan kaki dan bahu yang sakit dan pegal. Namun, itu semua tidak menghalangi saya untuk segera membongkar dan melihat-lihat apa yang saya dapat. Salah satu puisi dari buku kumpulan puisi penyair Kroatia menarik perhatian saya:

to lie, why not. after all words are/ arbitrary; words that are not things,/ words that are not words. lie, why not:/ with words, i rise and approach the table: i did not rise,/ i did not approach the table. the switch on the radio/ cannot pop out: if it is pressed, then it can.// words and words, to lie and not-lie. why shouldn’t i/ lie? why shouldn’t i utter any word/ that presently occupies me though i don’t consider it –/ for utterance – quite decidedly i don’t consider. why:/ to speak (i do not want to say) and speak but not to/ speak. “speak” in all three cases is a lie.// to lie, why not lie. i started to utter/ and i’d already lied: the past tense is not the present./ the present is the past. words are not words. words/ are words. to lie, why not? i set my lips/ as if i’d say: attic. I didn’t say it, the lips were/ betrayed: to lie, why not, to lie words,// string words in a lie. switch them. spit,/ bluffing tenderness. words are not words./ bastard lips, oral cavity smoke, sediment/ of chattering memory: words (to lie, why not?)/ to turn from the tongue to the teeth, from the teeth to the gums,/ then into the gyre: to lie, why not?// (“Porgy and Bess Band”- Zvonko Maković)
Kata, bahasa memang bisa bermakna dan dimaknai apapun, namun tidak saya pungkiri bahwa kata dan bahasa yang ditenun menjadi buku-buku bisa menciptakan surga, seperti yang saya rasakan. Berada di surga buku-buku. Bermimpi suatu saat bisa kembali berada di sana.


* Tiket masuk Frankfurter Buchmesse ini bisa dipesan online dan diprint out sendiri, bisa juga dipesan per email dan tiket dikirim per post. Pembayaran bisa dilakukan dengan kartu kredit, dipotong langsung dari rekening atau dibayar langsung saat tiket diantar. Harga tiket seharga 9 €. Untuk pelajar seharga 3,5 €.

Bayreuth, 111004

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s