Dresden

Hari Minggu tanggal 26 kemarin saya pergi ke Dresden, menemui Bajo, temannya Taty, yang akan berada di Jerman sampai tanggal 3 Oktober nanti. Dia bersama rombongan bupati dan anggota DPRD dari beberapa kabupaten di Sumatera sedang mengikuti studi banding dan kunjungan ke pemerintah daerah di dua negara bagian di Jerman, salah satunya ke Dresden, ibukota negara bagian Sachsen. 76 juta rupiah per orang dikeluarkan oleh Friedrich Naumann Stiftung yang menyelenggarakan kegiatan untuk para Beamte alias “Ambteenar” itu. Cuma Bajo sendiri yang wartawan.

Saya menemui Bajo karena ada beberapa titipan dari Taty untuk saya dan saya akan titip beberapa CD untuk Taty dan teman saya. Kenal Bajo sendiri secara fisik baru kemarin itu. Saya memang sudah sering dengar namanya dari Taty, kontak belakangan ini pun hanya per email dan sms. Lagipula saya belum pernah ke Dresden dan kebetulan Dresden letaknya tidak begitu jauh dari Bayreuth. Rencana saya hari itu juga pulang kembali ke Bayreuth, tapi Bajo berhasil membujuk saya untuk menginap. Dia sendiri harus ikut seminar, jadi saya jalan-jalan sendiri.

Semper Oper Dresden

Ternyata Dresden, kota barok yang didirikan pertama kali tahun 1206, memang kota yang indah. Bangunan-bangunan tua jaman Barock yang dibangun di bawah pemerintahan August der Stärke memang indah. Di Postplatz, tempat saya berganti trem menuju Radebeul tempat Bajo menginap, sudah terlihat Zwinger, istana sang August. Di belakang Zwinger terletak Theaterplatz dengan Semperoper Dresden yang terkenal (gedung opera bercorak barock yang menjadi salah satu gedung opera terbesar di Jerman), barock-khatolische Kirche Dresden, Schloß, Philharmonie, dan ada satu Gasse dengan lukisan di dinding jaman Kurfürsten August. Indah betul. Kebetulan di Altmarkt Dresden juga sedang ada Herbstmarkt. Pasar menjelang musim gugur, dengan barang-barang dan makanan khas Sachsen.

 

dresden.JPG

Dengan Bajo, yang bolos sebentar, saya berkunjung ke Karl May Museum di Radebeul, tidak jauh dari hotel tempat Bajo menginap. Seperti kebanyakan museum-museum di Jerman untuk orang-orang terkenal, Karl May museum ini pun adalah tempat tinggal Karl May yang tetap dipertahankan bentuk dan interior serta barang-barangnya. Hampir semua berbau Indian. Namun, yang menarik perhatian saya adalah barang-barang yang dia kumpulkan dari Orient saat dia melakukan perjalanan ke Mesir, Cina dan Asia Selatan juga Tenggara, termasuk di antaranya ke Sumatera. Salah satu barang miliknya adalah Al Qur’an asli tulisan tangan. Ruang kerja dan perpustakan pribadinya penuh dengan lukisan kaligrafi dan meubel dari Orient.

Malam hari, setelah Bajo selesai seminar, kami pergi ke arah Radebeul West untuk melihat pertunjukan theater yang diadakan dalam rangka Radebeuler Herbst- und Weinfest. Pesta rakyat menjelang musim gugur dan saat pembuatan anggur. Di sepanjang Fußgängerzone Radebeuler Markt didirikan stand-stand dan tenda-tenda serta panggung-panggung terbuka tempat pertunjukan theater dan musik: jazz, blues dan musik rakyat. Rakyat berpesta, minum anggur, bir, bermusik. Semua bersenang-senang.

Kami masuk ke salah satu tenda pertunjukan theater yang akan mementaskan lakon Ödipus dan Antigone. Panisches Not Theater yang mementaskannya benar-benar “merusak” karya klasik itu dengan “mengompres”nya menjadi amat sangat pendek sekaligus memarodikannya. Karya yang berat itu jadi terasa sangat ringan tanpa harus kehilangan inti ceritanya. Tentu saja dua orang pemainnya mementaskannya dengan serius, dengan parodi yang serius pula. Verfremdungstechnik yang mereka lakukan dengan berinteraksi dengan penonton sangat bagus. Penonton benar-benar dilibatkan. Panggung sangat minimalis, bahkan tanpa perlengkapan apapun. Tempat pementasan pun hanya berupa tenda darurat dengan tempat duduk bangku kayu seadanya, bahkan banyak penonton yang duduk di lantai. Pemainnya hanya dua orang dan memainkan tokoh-tokoh yang berbeda. Sepertinya tujuan mereka memang ingin mendobrak kesan bahwa menonton theater itu suatu kegiatan yang serius, cukup formal dan berat, apalagi jika lakon yang dipentaskan adalah karya-karya klasik yang juga -berkesan- serius. Akan dipentaskannya karya-karya klasik yang “dikompres” oleh mereka pada bulan Oktober nanti –dari mulai epos-epos Yunani, sampai ke Goethes Faust dan Drei Schwester-nya Chekov- cukup menjadi bukti bahwa mereka ingin mendobrak kesan itu. Kartu pos yang mereka buat pun menunjukkan dengan kuat niat mereka: sepotong hamburger dengan isi daging yang ditumpuk dengan buku-buku dari pengarang-pengarang klasik itu. Fast food yang disukai orang-orang, bisa dinikmati setiap saat dan setiap waktu dengan harga yang murah, tetapi tetap enak. Begitu juga theater, mungkin itu tujuan mereka. Sesuatu yang bisa jadi kontroversial. Jangan terlalu memandang tinggi sesuatu. Mendekonstruksi image yang selama ini orang punya dan buat. Bagus. Sepertinya mereka cukup berhasil karena penonton pun toh tidak protes dan tetap menikmatinya dengan serius. Memainkan sesuatu yang serius dengan serius agar tidak menjadi terlalu serius dan bisa dinikmati dengan keseriusan untuk sesuatu yang tidak serius. Ketidakseriusan yang serius. Keseriusan yang tidak serius. Tampaknya kelompok ini berhasil melakukannya dengan baik. Cocok dengan nama kelompoknya, dalam keadaan darurat dan panik tetap bisa melakukan sesuatu yang berarti. Ovation 10 menit dihadiahkan untuk mereka. Hamburan kue jagung adalah hadiah mereka untuk penonton yang keluar dan pulang dengan senyum puas.

Setelah makan kebab sambil duduk di tangga tenda pertunjukan yang sudah usai, kami melanjutkan jalan-jalan melihat-lihat stand-stand yang lain: barang-barang kerajinan tangan dari kulit dan kayu, stand-stand makanan tradisional, tentu saja dari kebanyakan stand itu adalah stand anggur dan bir yang difermentasi dan dibuat secara tradisional. Anggur di Jerman memang sudah menjadi kultur tersendiri. Radebeul rupanya juga termasuk daerah penghasil anggur. Selain itu ada juga beberapa happening art dengan spontanitas yang sangat menarik perhatian. Malam yang sudah semakin dingin menjadi terasa sedikit menghangat saat kami menonton panggung terbuka musik blues.

Jam 9 malam stand-stand mulai ditutup satu demi satu dan orang-orang pun, yang kebanyakan sudah dalam keadaan mabuk, sudah mulai beranjak pergi. Kami masih melanjutkan pergi ke kota, duduk di cafe sambil ngobrol dan minum menikmati teh hangat. Sebagai seorang Teetrinkerin tentu saja satu poci kecil teh hitam dengan sedikit gula dan Zitronensaft saya perlukan untuk menghangatkan tubuh yang sudah kedinginan, juga untuk mengembalikan kesegaran tubuh yang sudah cukup lelah saat itu: 4 jam perjalanan dari Bayreuth, kemudian acara jalan-jalan hampir tanpa istirahat dalam cuaca sekitar 12 derajat. Ngobrol-ngobrol seru dengan Bajo.

Pulang ke hotel dalam keadaan capek. Keesokan paginya, saya sudah harus pulang ke Bayreuth. Sayang, terlalu pendek kunjungan ke Dresden ini. Suatu saat saya harus kembali lagi ke sana. Masih banyak yang ingin saya lihat.

 

Advertisements

2 Gedanken zu „Dresden

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s