Tentang Konflik

„In dem Miteinander der Menschen verschlingt sich untrennbar das Füreinander mit dem Gegeneinander“.

[Simmel, Georg. Das Ende des Streits, Die neue Rundschau, XVI. Jahrgang der freien Bühne, I. Band (= Heft 6 vom Juni 1905), S. 746]

Dalam relasi bersama -dalam dan- dengan sesama manusia, keterkaitan antara bersetuju dan berlawanan itu tidak bisa dipisahkan. Bahkan pada saat yang bersamaan pun pertentangan dan persetujuan itu selalu ada. Jangankan dalam relasi bersama dengan orang lain, dalam diri pun bersetuju dan bertentangan bisa saling bersentuhan. Pada saat itulah terjadi konflikt, yang sering orang sebut konflikt batin. Itu terjadi dalam diri yang nota bene „mandiri“, apalagi dalam relasi yang melibatkan dua pribadi dan bahkan lebih. Alangkah rumitnya, alangkah sulitnya, alangkah ramainya, alangkah kacaunya. Pengertian, kompromi, toleransi, perdamaian, itu yang sering didengung-dengungkan. Hanya dengung, karena pada kenyataannya tetap tidak ada dan tidak mungkin ada pengertian, kompromi, toleransi dan damai seratus persen, karena dalam pengertian, kompromi, toleransi dan damai pun tetap ada konflikt. Begitu pula yang terjadi sebaliknya. Tetap ada „di antara“.  Tetap ada ruang kosong, karena tidak pernah ada hitam putih yang jelas. Tetap ada bayangan damai dalam konflikt dan pertentangan bahkan perang. Tetap akan ada pula bayangan konflikt dan pertentangan dalam damai.

Memang demikian lah adanya. Tuhan tentu bukan tanpa maksud menciptakan kondisi demikian. Jikalau Dia kehendaki tentu saja Dia bisa melakukannya. Niscaya akan dibuat-Nya hitam saja, atau putih saja. Namun, tidak. Itulah wujud cinta Tuhan pada manusia, karena dengan demikian manusia sebenarnya diberi kesempatan untuk selalu ingat dan yakin bahwa segala sesuatu itu fana, segala sesuatu itu tak pasti. Hanya ada satu yang pasti dan abadi. Tuhan. Hanya Dia yang memastikan dan mengabadikan semua. Tinggal bagaimana manusia bersyukur dan menyikapi ketidakpastian dan bayang-bayang tadi.

Dalam kesulitan ada kebahagiaan. Dalam duka ada suka. Dalam benci ada cinta. Dalam perang ada damai. Namun, ingat pula, karena yang terjadi pun bisa sebaliknya. Tidak ada yang abadi, kecuali Dia.

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s