Tentang Konflik

„In dem Miteinander der Menschen verschlingt sich untrennbar das Füreinander mit dem Gegeneinander“.

[Simmel, Georg. Das Ende des Streits, Die neue Rundschau, XVI. Jahrgang der freien Bühne, I. Band (= Heft 6 vom Juni 1905), S. 746]

Dalam relasi bersama -dalam dan- dengan sesama manusia, keterkaitan antara bersetuju dan berlawanan itu tidak bisa dipisahkan. Bahkan pada saat yang bersamaan pun pertentangan dan persetujuan itu selalu ada. Jangankan dalam relasi bersama dengan orang lain, dalam diri pun bersetuju dan bertentangan bisa saling bersentuhan. Pada saat itulah terjadi konflikt, yang sering orang sebut konflikt batin. Itu terjadi dalam diri yang nota bene „mandiri“, apalagi dalam relasi yang melibatkan dua pribadi dan bahkan lebih. Alangkah rumitnya, alangkah sulitnya, alangkah ramainya, alangkah kacaunya. Pengertian, kompromi, toleransi, perdamaian, itu yang sering didengung-dengungkan. Hanya dengung, karena pada kenyataannya tetap tidak ada dan tidak mungkin ada pengertian, kompromi, toleransi dan damai seratus persen, karena dalam pengertian, kompromi, toleransi dan damai pun tetap ada konflikt. Begitu pula yang terjadi sebaliknya. Tetap ada „di antara“.  Tetap ada ruang kosong, karena tidak pernah ada hitam putih yang jelas. Tetap ada bayangan damai dalam konflikt dan pertentangan bahkan perang. Tetap akan ada pula bayangan konflikt dan pertentangan dalam damai.

Weiterlesen

Werbeanzeigen